3 Daerah Masuk Zona Merah Pusat Pengedaran Narkotika

  • Whatsapp
Kepala BNNP Sul-Sel Berkunjung Di Bantaeng

Oleh : Supriadi Awing

Kepala BNNP Sul-Sel Berkunjung Di Bantaeng

Ka BNNP SulSel pada acara perjamuan di Gedung Balai Kartini Bantaeng

BANTAENG, AMUNISINEWS.CO.ID – Plt. Bupati Bantaeng, H.Muhammad Yasin, menyambut kedatangan Kepala BNN Provinsi (BNNP) Sulawesi Selatan, Mardi Rukmianto. Ia dijamu makan malam bersama rombongan sejumlah kurang lebih 10 orang. Kedatangannya ke Bantaeng terkait kegiatan Seminar Nasional Anti Narkoba di Gedung Balai Kartini pada Selasa 24 April 2018 lalu.

Dirinya dimandat sebagai narasumber seminar yang diadakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Bantaeng yang dirangkaikan NUUN Creativity Event dan Pengukuhan Pejuang Anti Narkoba (PENA).
Sementara itu hadir para Kepala OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bantaeng, Andi Nurhayati dan Ketua PC NU Kabupaten Bantaeng, H.Muh. Ahmad Jailani.

Ka BNNP, Mardi Rukmianto menyampaikan, saat ini BNNP SulSel fokus menangani 3 daerah yakni Sidrap, Pare-pare dan Pinrang.  Ketiganya masuk zona merah sebagai pusat peredaran narkotika.
Dirinya berharap Bantaeng dapat terus melakukan upaya guna menghalau peredaran narkotika agar generasi anak bangsa di Bantaeng khususnya, terhindar dari bahaya obat terlarang tersebut.

Pimpinan BNNP berpangkat Brigjen Pol ini berbagi cerita dari hasil penangkapan salah seorang bandar narkoba di Sidrap. “Dari Nunukan datang seorang Ibu hamil menuju Sulawesi Selatan. Perempuan ini asli orang Malaysia, diperisteri orang Sidrap. Datang ke Indonesia dengan menyelundupkan 2,5 Kg sabu-sabu yang disembunyikan di bawah perutnya yang besar karena hamil. Nilainya mencapai 2,8 Milyar Rupiah. Ditangkap dan melahirkan di dalam sel. Perempuan ini ternyata dikendalikan LAPAS Nusakambangan. Sayangnya barang bukti ketika kami ke Nusakambangan tidak kami temukan karena sudah dibersihkan”

Secara gamblang menuturkan bahwa perkembangan penegakan hukum di Indonesia dan peningkatan peredaran narkoba tidak seimbang. Data yang diperolehnya dari Polda Jawa Timur menyebutkan kasus penangkapan pengedar dan bandar narkoba tahun 2016 mencapai 15.760.
Meningkat di tahun 2017 menjadi 17.000. Sedangkan untuk penangkapan terhadap penyalaguna narkotika sekitar 17.700, terjadi peningkatan signifikan sekitar 21.000 pada tahun 2017.

“Penegakan hukum tidak cukup dan fakta menunjukkan bahwa penjara kita 90% isinya penyalaguna narkoba. Sampai saat ini LAPAS masih menjadi surga bagi pengedar narkoba. Kami akan menawarkan konsep SOP bersama, bagaimana penjara itu jadi ruang terbuka bagi pengamanan.” tuturnya.

Menanggapi penjelasan Kepala BNNP SulSel, H.Muhammad Yasin dalam sambutan penerimaannya berharap anggaran dana desa dapat diefektifkan untuk mefasilitasi program penanggulangan narkoba.

“Penting sekali kita membangun SDM dari pinggiran. Mungkin dana desa bisa memfasilitasi penanggulangan narkoba. Mumpung mau memasuki bulan Ramadhan. Bagaimana kita mensosialisasikan bahaya narkoba melalui ceramah-ceramah Islamiah agar masyarakat lebih paham dan menjauhi narkoba.” harapnya.

 

editor: maliki hd

 

 

Pos terkait