Akankah Pilpres 2019 Membawa Perubahan?

  • Whatsapp

Oleh Budi Setiawan

JAKARTA,AMUNISI.CO.ID-Pelaksanaan demokrasi prosedural lima tahunan tidak ada artinya tanpa menyentuh substansi demokrasi itu sendiri. Pilpres yang akan datang juga tidak akan banyak berarti bila pihak yang menang nanti tidak bisa merubah kesenjangan ekonomi yang ada.

H. Diyen Hasanuddin, pengamat politik sekaligus budayawan mengatakan, ketimpangan ekonomi di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Hal tersebut karena Indonesia masih menganut sistem ekonomi yang jauh dari prinsip-prisip keadilan. Hal ini terlihat dari perbandingan kekayaan segelintir orang setara dengan harta jutaan warga miskin.

Kesenjangan ini menurutnya juga disebabkan penguasaan aset yang sebagian besar masih dimiliki segelintir orang kaya atau pengusaha. Salah satunya, penguasaan lahan perkebunan dan pertambangan yang dikuasai segelintir pengusaha.

Dia menilai ekonomi Pancasila belum memberi dampak banyak bagi ekonomi Indonesia. Hingga kini pelaksanaannya masih tergolong normatif dan belum ada implementasi nyata. Pancasila hanya sangat abstrak. Tidak ada wujud dan tidak bisa diimplementasikan, sehingga ekonomi kita masih jauh dari yang kita harapkan.

H. Diyen Hasanuddin pria yang dikenal penuh humoris menjelaskan, tak lama lagi akan digelar Pilpres pada bulan april tahun 2019. Di depan kita ada pasangan Presiden yang akan berlaga, yaitu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Sandiaga Uno.

Prabowo Subianto sudah memiliki pengalaman yang panjang dalam kemiliteran, sementara Sandiaga Uno memiliki modal finansial yang cukup. Sebab tanpa modal finansial yang cukup seorang calon presiden dan wakil presiden akan memiliki resistensi yang tinggi.

Selain itu, Prabowo sebenarnya bukan anti asing, seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang, melainkan dia hanya  hanya menginginkan bangsa ini bisa berdaulat terutama di bidang ekonomi.

Sementara pasangan Jokowi-ma’ruf Amin sudah memiliki kerja nyata, terutama pembangunan infrastruktur, tentu mereka akan lebih mudah mengkampanyekan hasil kerjanya selama 4 tahun ini ke masyarakat luas.

Di sisi lain ada kondisi ekonomi yang sangat menekan rakyat bawah dan banjirnya tenaga kerja asing hal ini merupakan sisi lemah dari pemerintahan Jokowi, belum utang yang mencapai 4000 triliun lebih.

Dan perlu dicermati kondisi Rupiah yang sangat terpuruk yang sudah mencapai 15.000 lebih akan bisa menggerus elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin bila di goreng oleh lawan politiknya.

“Hari ini kita berada di era digital. Tentu tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Uno harus bisa memanfaatkan era digital ini dengan baik.mereka harus bisa menyajikan kampanye yang cerdas dan bermutu sehingga bisa diterima oleh publik, karena masyarakat saat ini sudah mulai cerdas dalam menilai program dan gagasan dari  para calon presidennya,” ucap H. Diyen Hadanuddin, Jakarta, kamis, 11/10/18.di kawasan Jakarta Timur

Menurut H. Diyen Hasanuddin, Calon presiden mendatang memiliki tugas yang sangat berat dalam memperbaiki kondisi perekonomian nasional. Pasalnya, apa yang kita saksikan sisten ekonomi saat ini mengarah pada sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan prisip-prinsip keadilan. yaitu ekonomi yang hanya mementingkan dan menguntungkan sebagian pihak tertentu serta menyengsarakan rakyat.

Karena itu, Pilpres yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 april 2019  tahun ini diharapkan menghasilkan presiden  yang  berorientasi dan mengedepankan pada ekonomi berkeadilan yang selaras dengan Pancasila. Sehingga  tercipta kesejahteraan yang berkeadilan bagi  seluruh rakyat Indonesia.

Selanjutnya, H.Diyen Hasanuddin berharap pilpres yang akan dilaksanakan pada 17 april 2019 mendatang bisa berjalan dengan lancar, tertib, aman dan berkualitas. Dan yang lebih penting, siapapun yang menang nanti harus membuat kebijakan di bidang ekonomi yang mampu mewujudkan ekonomi yang berkeadilan.

 

Pos terkait