AKSI DAMAI TERNODA

  • Whatsapp

hl-317

AMUNISINEWS.COM,  JAKARTA — Pasca polisi berhasil memukul mundur massa pendemo yang kekeh ingin merangsek ke Istana Negara, bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada pukul 21.30 WIB, pada detik itu pula kerusuhan pecah di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Tepatnya di depan halte Busway Pakin. Tidak jauh dari kediaman Petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Ratusan massa warga setempat dan Luar Batang yang terkonsen- trasi di lokasi itu, bukan hanya melempari dan menghancurkan setiap kendaraan yang melintas, tapi juga menjarah minimarket Alfamart di sebrang halte Busway dijarah. Mirip penjarahan yang terjadi pada 1998. Intinya, di wilayah ini telah terjadi kerusuhan.

Hasil pemantauan Amunisi di lokasi, dalam hitungan menit jumlah massa semakin banyak. Aparat polisi gabungan Polsek Penjaringan dan Polres Jakarta Utara kewalahan menghadapi kosentrasi massa.

Beberapa kali tembakan gas air mata diarahkan ke massa untuk dibubarkan. Namun massa tak bergiming, malah melempari aparat dengan batu dan potongan kayu. Massa dan polisi berhadap-hadap- an berjarak sekitar 300 meter.

Polisi berhasil memukul mundur massa setelah Marinir TNI dan kendaraan Baracuda Brimob didatangkan dari Polda Metro Jaya. Bom air dan tembakan gas air mata secara beruntun diarahkan ke massa.

“Ya, Alfamart di Penjaringan dijarah massa dari Kampung Luar Batang,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono kepada wartawan, Jumat (4/11).

Ditambahkan Awi, amuk massa di Penjaringan berhasil dikendalikan dalam waktu singkat oleh aparat keamanan dibantu TNI. Pihaknya segera mengusut dan mengungkap siapa saja di balik kerusuhan di kawasan tersebut.

Sementara itu, beberapa warga Tionghoa yang sempat ditemui Amunisi meluapkan rasa kesalnya kepada Ahok yang dianggap selaku “penyebab” kekisruhan di Jakarta. Meski sama-sama etnis Tionghoa, mereka menyatakan tidak mendukung Ahok.

“Inikan gara-gara mulutnya, rakyat Indonesia dan umat Islam jadi marah. Sialnya, kami ini yang nggak berdosa jadi korban. Berengsek tuh orang,” papar satu warga Pluit, Jakarta Utara, yang namanya tak mau disebut.

Senada dikatakan pula Kicong, warga Muara Karang. Bahkan dia juga menyesali perilaku warga Tionghoa yang menghalalkan segala cara, seperti tindakan korupsi, bandar judi, pembajak, bandar narkoba dan cukong-cukong yang kerjanya menipu serta merampas tanah masyarakat.

“Saya dan para pedagang di Jakarta, yang mencari makan secara halal, akhirnya yang menjadi korban ketika masyarakat marah. Orang-orang keturunan tionghoa itu mesti belajar dari kerusuhan 1998. Eh, dasar bandit, tetap saja kejahatan mereka lakukan. Nah, sekarang deh, kembali Jakarta rusuh, Tionghoa yang jadi sasaran,” papar Kicong dengan nada tinggi.

Ahok Diproses

Seperti diketahui, aksi demo berjalan damai pasca sholat Jumat hingga Magrib. Tapi sayangnya, suasana itu dirusak oleh massa pada malamnya yang berada di depan Istana Kepresidenan, tiba-tiba menyerang aparat yang sedang berjaga.

Alasan penyerangan itu, mas-sa masih ngotot ingin bertemu Presiden Jokowi, dan mendesaknya agar Ahok segera ditangkap. Mereka tidak puas penjelasan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menerima perwakilan pendemo, bahwa Ahok yang diduga melakukan penistaan agama tetap diproses hukum.

“Kapolri mengatakan, prosesnya telah dilakukan, Dalam waktu dua minggu akan selesai,” papar Jusuf Kalla kepada wartawan seusai bertemu perwakilan massa, Jumat (4/11).

Rupanya sebagian massa tidak puas, kemudian berteriak-teriak perang jihad, revolusi harus terjadi seraya merangsek ke Istana Negara.

Melihat itu, kelompok massa dari Front Pembela Islam (FPI) langsung membentengi antara massa dengan aparat. Meski demikian, hal itu tidak membuat massa berhenti, pelemparan botol air mineral dan batu bata dari massa beratribut ke arah FPI.

Sampai pukul 19.10 WIB, barikade FPI tetap berbaris di depan pagar Brimob mereka menyesalkan adanya aksi kisruh. Bentrok baru mereda sekitar pukul 21.30 WIB. Massa mulai bergerak mundur, sebagian berjalan ke arah Gedung DPR RI.

Suasana berlangsung mencekam, tiga mobil polisi hangus dibakar massa. Massa juga mem-bakar sejumlah benda di sepanjang jalan.

Polisi terus menembakkan gas air mata ke arah kerumunan massa, lalu dibalas dengan lemparan batu. Akibatnya, suasana di sekitar istana penuh dengan kepulan asap. Sehari sebelumnya, Kamis (3/11), Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Laksmana bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan mendatangi Gedung Bareskrim Polri, di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk melihat proses pemeriksaan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq sebagai saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan agama.

“Saya ingin melihat pemeriksaan dia (Habib),” kata Kapolda Metro Jaya kepada wartawan di Gedung Bareskrim.

Dalam penanganan kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok, sejauh ini Bareskrim Polri sudah meminta keterangan 22 orang saksi. Tujuh di antaranya saksi ahli dari Majelis Ulama Indonesia, ahli tafsir, ahli hukum pidana dan ahli bahasa.

Dari pihak FPI pun mengajukan tiga saksi ahli, yakni Ketua FPI Habib Rizieq sebagai ahli agama, ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UI) Mudzakir serta ahli bahasa dari Universitas Gajah Mada (UGM) atau UI.

 

Oleh: *tim/h. sinano esha

Pos terkait