Arogan, Ditanya Tambang Ilegal, Kapolres Ini Malah Sebut Rambut Wartawan

  • Whatsapp

Oleh Budiman Siregar

MUNTOK,BANGKA BARAT, AMUNISINEWS.CO.ID — Kapolres Bangka Barat, AKBP Firman Andreanto menunjukkan wajah tak bersahabat saat ditanya wartawan terkait aktifitas tambang laut ilegal (TI ilegal) jenis ponton apung yang sudah lama beroperasi di sekitar perairan Laut Dusun Selindung, Desa Air Putih Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat.

Perwira berpangkat melati dua ini bahkan tak menunjukan figur perwira humanis lantaran jawabannya yang tidak fokus sembari  mengalihkan jawaban dengan menyebut penampilan fisik wartawan.

Padahal, amanah Kepala Kepolisian (Kapolri) Republik Indpnesia kepada jajarannya bahwa pewarta atau jurnalis adalah mitra kepolisian untuk bersinergi dan  mendukung polri dalam meningkatkan kinerjanya, wartawan memberi informasi berdasarkan fakta.

Namun sayangnya, di tongkat komando AKBP Firman Andreanto, idealnya amanah itu nampaknya masih jauh  harapan.

Hal ini seperti yang dialami Rikky Fermana, Ketua Himpunan Pewarta Indonesia (HPI) Babel. Usai bersilaturahmi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bangka Barat (Babar), Yunan Helmi, Selasa, (2/9/2018), ketika rombongan  HPI Babel ini dalam perjalanan pulang menuju Pangkalpinang, Rikky bersama rekan wartawan  mendapatkan informasi, ada kegiatan penertiban TI Ilegal di Desa Rambat Muntok. Sejumlah wartawan HPI ini pun mencoba mampir ke lokasi penertiban.

Rikky yang kemudian bergabung dengan pewarta Bangka Barat lainnya menyaksikan langsung bagaimana penertiban TI ilegal ini, beberapa titik kamp atau pondok para penambang di bakar dengan maksud agar para penambang TI Ilegal meninggalkan tempat tersebut.

Seusai melihat dan mendokumentasikan kegiatan penertiban tersebut,saat itu Rikky menanyakan kepada pewarta dari Bangka Barat apakah para wartawan ini sudah wawancara langsung dengan Kapolres Babar  terkait kegiatan penertiban tersebut.  Namun jawaban sejumlah wartawan ini ternyata mereka belum mewancarai Kapolres Bangka Barat.

Secara kebetulan, dari kejauhan terlihat Kapolres Bangka Barat, AKBP Firman Andreanto, di lokasi penertiban bersama anggotanya, ia berdiri di dekat mobil dinasnya.

Saat menghampiri, Rikky mencoba memperkenalkan dirinya dengan menyebut sebagai wartawan dari Okeybozz.com.

” Izin Bang, ada giat apa hari ini, ” tanya Rikky saat itu bertanya kepada Kapolres Firman Andreanto sambil menyaksikan penertiban.

AKBP Firman Andreanto lalu menjawab,  “Nggak ada kegiatan apa-apa,  lihatlah sendiri keadaannya,”.

Penasaran, Rikky mengulang pertanyaannya,  ” Ada giat pembakaran itu apa Bang,”.

Perwira ini kemudian menjawab lagi, jika kegiatan itu penertiban biasa terkait kegiatan penambangan di kawasan hutan mangrove. Hal ini karena adanya laporan dari masyarakat. Menurut AKBP Firman, pihaknya sudah memberikan ultimatum kepada para penambang agar segera menghentikan aktivitas penambangannya.

“Karena sudah melebihi batas waktu maka kami melakukan penertibanpenertiban,” ujar Kapolres yang kerap dipanggil Andre ini.

Namun raut wajah kapolres ini berubah ketika Rikky menanyakan  terkait aktifitas  tambang laut ilegal (TI Apung) di perairan pantai Selindung Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat.

AKBP Firman terlihat meradang, seolah tidak senang dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ketua HPI Babel ini.

“Apa maksud kamu bertanya seperti itu? Anda kurang fokus ya bos..kurang  minum Aqua kali, sampai-sampai rambutmu merah kebanyakan berjemur ya,” ujar perwira ini dengan raut wajah sinisnya.

Sempat terasa tegang, Rikky kemudian menanggapi. ” Abang nggak boleh ngomong begitu…la tadi Abang ngomong penertiban  ini lantaran menambang di daerah terlarang dan adanya  laporan dari  masyarakat, kami wartawan adalah mitra kepolisian untuk menyampaikan informasi yang sesuai dengan fakta,” sergah Rikky.

Nada bicara AKBP Firman kemudian sedikit melembut sembari kemudian ia menjelaskan  bahwa kegiatan penerbitan aktifitasTI Ilegal Desa Rambat  ini sudah melebihi batas waktu yang ditentukan. Aktifitas ini ilegal karena menambang di kawasan hutan Mangrove. Jawaban kapolres ini lagi-lagi tidak menyinggung aktifitas TI ponton Selindung.

Terpisah, Rikky menyayangkan, sikap AKBP Firman yang menurutnya sosok kapolres  mencerminkan pimpinan yang tidak siap memberi informasi dan melayani masyarakat. Menurut Rikky, berkaca atas sikap kapolres ini, jawaban AKBP Firman atas pertanyaan yang dilontarkan wartawan masih terkesan arogan.

“Dari awal saya sudah melihat sikap Kapolres Bangka Barat tidak begitu bersahabat ketika saya dan rekan-rekan wartawan dari Bangka Barat menghampiri beliau untuk mengkonfirmasi kegiatan penerbitan aktivitas TI Ilegal di Desa Rambat. Masa seorang kapolres malah menjawab lihat saja sendiri dan mengatakan tidak ada giat apapun,” sesal Rikky menanggapi sikap kapolres, kepada sejumlah rekan media serta anggota HPI Babel.

Pos terkait