Bea Cukai, Palang Pintu bagi Penyelundup

  • Whatsapp

deni surjantoro

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM-Direktorat Jenseral Bea dan Cukai (DJBC), adalah salah satu instansi pemerintah mitra Badan Narkotilka Nasional (BNN) dan Polri, yang  sangat menunjang dalam pemberantasan narkoba. Instansi inilah garda terdepan dalam pengawasan barang yang masuk ke Indonesia, termasuk narkoba.

Landasannya, kata Kasubdit Komunikasi dan Publikasi dan publikasi Bea dan Cuai, Deny Surjantoro, adalah Undang-Undang Kepabeanan Nomor 17 Tahun 2006 yang merupakan pengganti atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995.

“Dalam UU tersebut,  Bea dan Cukai mempunyai wewenang dalam memeriksa barang dalam perdagangan nasional dan internasional. Pemeriksaan barang meliputi kelengkapan surat dokumen tentang asal usul barang,pemilik asal barang dan tujuan pemilik baru atas barang,” kata Deny Surjantoro kepada kontributor Jagratara di ruang kerjanya, Selasa (4/7) lalu.

Karena itu, ujarnya lagi,  Bea dan Cukai sebagai pengawas lalu lintas barang sangat erat kaitannya dengan pelaksana dalam memberantas penyelundupan baik barang yang berasal dari luar maupun dalam negeri. “Berdasarkan UU tadi, Bea dan Cukai mempunyai wewenang untuk menangkap pelaku penyelundupan,menyita barang selundupan sebagai barang bukti untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib seperti kepolisian untuk ditindaklanjuti sebagai tindak pidana.,” ujarnya.

Nah, Indonesia sebagai daerah yang sering dijadikan target dari penyelundupan dari pasar internasional menjadikan tugas Bea dan Cukai dalam memberantas penyelundupan, termasuk narkoba kian berat. Apa dan bagaimana selanjutnya Bea dan Cukai mengemban tugas tersebut? Berikut petikan wawancara Deny Surjantoro dengan kontributor Jagratara, Rukmana Fadly.

Sebagai Garda terdepan NKRI, Apa strategi kedepan Bea Cukai (BC) dalam mencegah narkotika masuk ke Indonesia ?

Rencana Operasi Pengawasan Narkotika Tahun 2017 berupa sinergi DJBC dengan Subdirektorat Patroli Laut dan  TNI AL Western Fleet Quick Response di beberapa titik.  Misalnya,

Pertama di Pelabuhan laut internasionall : Tahun 2016 terdapat 9 kasus dari pelabuhan laut internasional kontainer/kargo dan 72 kasus dari pelabuhan laut intl penumpang ferry dengan total BB seberat 671.47 kg.

 

Kedua di perbatasan darat : Tahun 2016 terdapat 8 kasus dari pos pelintas batas darat dengan total barang bukti seberat 63.67 kg.

 

Bentuk kerjasama seperti apa yang akan, sedang dan terus dibangun oleh BC dan BNN ?
Terkait penyelundupan narkoba, DJBC mempunyai komitmen dengan institusi penegak hukum lainnya berupa :

  1. Bentuk Formal:

1) Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara BNN, Polri, dan DJBC
Nomor 1/1/2010/BNN, Nomor : B/01/I/2010 dan
Nomor : KEP-04/BC/2010
2) Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara BNN dan Kementerian Keuangan
Nomor:NK/22/IV/2015/BNN dan nomor Nomor : MoU-6/MK.01/2015.

Joint Inter Agency Task Force :

Inteligen Fusion : Penyebaran dan penyatuan data intel peredaran gelap narkotika
Joint Enforcement :

Penindakan bersama dalam rangka membuka dan memutuskan jaringan peredaran gelap narkotika Perbantuan Controlled Delivery : Koordinasi antara DJBC dengan BNN/Polri dalam rangka pengembangan kasus penindakan NPP

 

Jaringan Narkotika Internasional menjadikan Indonesia sebagai pasar empuk peredaran narkotika, apa strategi mencegah hal itu, terutama mengantisipasi oknum pejabat BC yang rentan bekerjasama dengan sindikat jaringan narkoba Internasional?

Dalam rangka menghadapi perkembangan kejahatan penyelundupan dan peredaran gelap narkotika, DJBC sudah melakukan berbagai upaya-upaya diantaranya :
Pengembangan unit Anjing Pelacak DJBC (K-9) berupa Ekstensifikasi jumlah Kennel Anjing Pelacak DJBC dari 5 unit menjadi 11 unit di Kantor Wilayah DJBC, pengembangan sistem analisa dan targetting penumpang maupun kontainer/kargo. Sistem aplikasi yang digunakan DJBC dalam melakukan analisa dan targetting: Passanger Analyzing Unit (PAU), Passanger Name Record for Government (PNR-Gov), Mail Analyzing Unit (MAU), Drug Cargo Analyzing Unit (DCAU), Yacht Monitoring System (YMS).

Kemudian, Capacity Building berupa peningkatan spesialisasi dan endurance personel serta peningkatan integritas dan militansi kinerja melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdikat) Bea dan Cukai, dan Utilisasi dan Peremajaan alat pemindai, alat deteksi, dan alat identifikasi Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor (NPP).

Bea Cukai juga melakukan kegiatan operasional pengawasan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor (NPP) di seluruh daerah pengawasan DJBC meliputi udara, laut, POS/PJT dan lintas batas, serta komitmen terhadap reward dan punishment bagi para pegawai, berupa pemberian penghargaan dan premi bagi yang berhasil melakukan penindakan, pemberian punishment yg tegas bagi yang melakukan pelanggaran. (ruk/jt)

 

 

 

Pos terkait