Cacat Permanen, Korban Dugaan Malpraktik akan Melapor ke Polda Metro Jaya

  • Whatsapp
Oleh Tim
 

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID – Muhammad Basyir, pasien yang diduga menjadi korban malpraktik pihak Rumah Sakit RTmenyatakan akan melaporkan rumah sakit itu ke Polda Metro Jaya.

Hal itu, katanya, dilakukan dalam rangka berjuang mencari keadilan pasca operasi yang menyisakan luka permanen di tubuhnya.

“Selain akan melapor ke Polda Metro Jaya saya juga akan mengadukan kasus ini ke Gubernur DKI Anies Baswedan,” kata Basyir kepada wartawan terkait dilayangkannya gugatan dengan nomor perkara 820/Pdt/G/2017/PN.Jkt.Brt di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, terhadap rumah sakit  yang berlokasi di Grogol, Jakarta Barat.

Menurut informasi  pada Selasa (20/2/2018) lusa gugatan yang diajukan Basyir akan memasuki masa mediasi dengan pihak tergugat, yakni Yayasan Tarumanagara Cq RS RT, dr Hendradi Khumarga (dokter yang mereferensikan pasien untuk dilakukannya therapy), dr Rudianto Sofyan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI dan Sudin Kesehatan  Kota Administrasi Jakarta Barat.

“Pihak RS Rt (tergugat I), dokter Hendradi Khumarga (tergugat II), dr Rudianto Sofyan (tergugat III) dan Dinas Kesehatan DKI sebagai tergugat IV,” kata Basyir kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/2/2018).

Basyir berharap kasus malpraktik yang menimpa dirinya di RS RT adalah yang terakhir. Selain mengalami cacat permanen, Basyir menyatakan jadi trauma setiap kali berdiri di hadapan cermin.

Menurutnya, luka cacat di tubuhnya membuat dia trauma setiap kali bercermin di depan kaca

Karena alasan itu pula, Basyir, pengacara asal Aceh ini,  meminta Gubernur Anies Baswedan segera mengambil tindakan dan langkah-langkah administratif terhadap pihak rumah sakit tersebut. “Saya juga minta agar dokter tersebut dicabut izin prakteknya,” pinta Basyir.

Ia berasalasan keberadaan rumah sakit dan dokter yang sembarangan menjalankan tugasnya sangat membahayakan pasien seperti yang menimpa dirinya. “Ini rumah sakit yang segitu megah dan tidak ada fasilitas BPJS, tapi penanganannya tidak sesuai standar. Saya adalah korban, kita bicara bukti. Ini buktinya,” ujar Basyir sambil memperlihatkan luka cacat permanen hasil penanganan pihak RS RT

Hingga saat ini Basyir mengelus dada dan berharap dari luka yang dialaminya Gubernur DKI Anies Baswedan membuka mata terhadap penderitaan yang menimpa warganya. “Sejak tanggal 14 Oktober 2017 hingga saat ini saya sangat menderita akibat hal ini,” imbuhnya.

Basyir menyebutkan pihak rumah sakit sebetulnya sudah menghubungi dirinya untuk pengobatan ulang cacat permanen di tubuhnya. Namun hal itu ditolaknya demgan alasan jadi pembelajaran

Karena alasan itu pula, Basyir kemudian melayangkan gugatan sebagai bentuk langkah hukum ke pengadilan. Ia menuntut rumah sakit membayar kerugian sebesar Rp10.050.000.000 (sepuluh milyar lima puluh ribu rupiah).

“Saya ingin minta pertanggungjawaban hukuman atas kelalaian pihak rumah sakit agar tidak ada lagi korban malpraktek lainnya,” kata Basyir.

Pihak pengelola RS RT Lis, ketika dihubungi wartawan terhadap kasus yang mendera Basyir tidak bersedia menjelaskan dengan alasan kasusnya sudah diserahkan kepada kuasa hukum.

Begitu pula, Kepala Dinas DKI Kusmedi ketika dihubungi juga tidak menjawab untuk dikonfirmasikan terhadap dugaan malpraktek yang dilakukan pihak RS RT.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *