Dari Stipoel’82 Penghargaan Tak Terbatas Buat Para Guru

  • Whatsapp

Oleh Hendra Usmaya

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID- Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru berusaha membuat hidup muridnya jauh lebih baik, tanpa harus meminta imbalan. Cukup mengamalkan ilmu yang didapat, guru sudah merasa senang.

Nah, karena rasa penghargaan yang begitu besar terhadap guru, Alumnus Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 130 angkatan1982, yang lebih familiar disebut Stipoel’82, sengaja menghadirkan guru, mencoba membahagiakannya dalam ‘Silaturrahmi Nasional’ di Hotel Ibis, Jakarta, Minggu (8/7).

Halal bi halal itu lebih pantas disebut  Silaturrahmi Nasional karena para alumnus yang bermukim di beberapa kota, bahkan berbeda pulau menyempatkan hadir dalam silaturrahmi tersebut.  Seperti Komaria, yang kini bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat, Sri Utoyo yang kini petani tembakau sukses di Temangung, Jawa Tengah  serta Satina, kontraktor kelas atas di Cirebon, Jawa Barat.

“Tak masalah kami datang dari jauh, terpenting adalah bisa menumpahkan rindu setelah lebih dari tiga puluh tahun berpisah,” kata Komaria. Logat Kalimantan wanita asal Rangkasbitung ini begitu kental, membuat rekan-rekannya berpikir agak keras untuk memahminya. Hal senada diucapkan Sri Utoyo dan Satina, kali ini dengan logat Jawa-nya yang mencolok. “Guwe sih asyik-asyik aja dah,” ucap Toyo.

Pada kesempatan itu baru dua guru yang bisa bergabung, Saleh Usman dan Syamsudin. Meskipun usianya sudah di atas 60 tahun, nampak masih energik. Pak Saleh, begitu muridnya menyebut, selalu tersenyum menyaksikan ‘pertumbuhan fisik’ para muridnya yang rata-rata tumbuh ke samping dan dengan ramburt memutih. “Saya yakin jika tak memakai hijab pasti murid-murid saya yang wanita ini rambutnya juga sudah memutih,” ujar Pak Saleh. Pak Syamsudin, yang sejak muda, ketika mengajar dulu dikenal sebagai guru pendiam hanya tersenyum.

Rangkaian Acara   

Acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB  diawali sambutan oleh Ketua Stipoel’82 Arif Efendi yang mem-flashback  kisah-kisah masa lalu, yang diyakini tak mungkin terlupakan oleh para alumnus. “Saya gembira acara ini bisa terlaksana, tak lain karena keinginan kita yang sama untuk terus menjalin komunikasi,” kata Arif.

Selanjutnya sesuai rundown acara adalah tausyiah oleh Ustadz M Haris, yang juga Stipoel ’82. Lulusan Universitas Indonesia yang menguasai empat bahasa asing ini (Inggris, Jerman, Jepang dan Arab) lebih banyak memaparkan arti tausyiah dan pengalaman hidupnya ketika menjadi Staf Kedubes Indonesia di Beijing.

Menurutnya sangat banyak godaan dunia yang bisa menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan dan pengkhianatan kepada negara (korupsi). “Alhamdulillah cahaya Allah melintas membuat saya kuat, dan mengakhiri karir di Deplu,” kata Ustadz M Haris yang kini dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Tak kalah hebatnya ketika salah satu perwakilan alumnus H Munadi, yang juga dosen di perguruan tinggi swasta dengan menggebu-gebu layaknya seorang orator mengajak untuk selalu bertolong menolong dalam kebaikan. “Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, wa la ta’awaunu alal itsmi wal ‘udwan.(Saling menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan janganlah saling men0long dalam dosa & permusuhan ),” ajak H Munadi.

 

Cukup Dua Kali

Acara puncak yang sangat mengharukan adalah ketika perwakilan Stipoel memberikan bingkisan kepada guru Saleh Usman dan Syamsudin, sebuah hadiah untuk ikatan tali asih antara guru dan murid-muridnya. “Jangan dilihat nilainya tapi, ini sebuah ketulusan tanda terimakasih kami kepada guru,” ujar Deswita seusai memberikan bingkisan tersebut.

Pak Saleh yang dari muda menggemari musik, tak menolak ketika didampuk membawakan sebuah lagi diiringi organ tunggal. Mengalunkan lagu Cukup Dua Kali dari Trio Ambisi, vokal Pak Saleh sangat prima dan penghayatan yang mendalam, membuat anak-anak muridnya patut mencontoh bagaimana menjaga kebugaran fisik agar tak cepat menuah.

Acara pun selesai hingga pukul 15.OO WIB, terasa sangat singkat. “Duh cepat benar waktu berlalu. Coba aja sampai pukul 10 nanti,” keluah Amri.

Amri lupa, bahwa sekarang ini mereka sudah orangtua, bukan anak-anak SMP lagi. Mungkin saja anak dan istri dan atau anak dan suami menunggu mereka para Stipoel itu di rumah. Biarlah kenangan mengalir, menular kepada generasi Stipoel selanjutnya.

 

 

Pos terkait