Empat Orang Wartawan Diamuk oleh Pasukan Polisi

  • Whatsapp
Rasa solidaritas awak media

Oleh: Rukmana Fadli

Rasa solidaritas awak media
Unjukrasa solidaritas segenap awak media

BANYUMAS, AMUNISINEWS.COM – Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kronologi kekerasan terhadap wartawan Purwokerto Jawa Tengah itu terjadi saat para awak media  meliput pembubaran paksa aksi tolak pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas, Senin malam (9/10)

Hasil pantauan awak media, Pembubaran paksa aksi penolakan PLTB di depan kantor Bupati Banyumas oleh aparat Kepolisian Polres Banyumas dilakukan secara brutal, sehingga salah satu wartawan Metro TV, Darbe Tyas menjadi korban kekerasan fisik, berupa pemukulan dan   pengeroyokan sejumlah anggota Polisi Polres Banyumas dan Satpol PP Pemkab Banyumas.

Pembubaran paksa massa aksi  tersebut dilakukan dengan cara brutal yang sangat brutal dan tidak mengindahkan Hak Asasi Manusia (HAM), tindakan membabi buta aparat  terjadi sekitar pukul 22.00 malam.

Empat orang wartawan dari Suara Merdeka (Agus Wahyudi), Satelitpost (Aulia El Hakim), Radar Banyumas (Maulidin Wahyu) dan Metro TV (Darbe Tyas), langsung mengabadikan momen tersebut. Sebelum empat wartawan ini datang ke lokasi aksi, fotografer Suara Merdeka yang mengabadikan gambar lebih awal, mengalami kekerasan psikis  dengan dirampas alat kerjanya (foto), oleh aparat kepolisian, padahal yang bersangkutan sudah memberitahukan dari media Suara Merdeka, namun Polisi tidak menggubris perkataan sang pejuang pena tersebut.

Saat empat wartawan tersebut berhasil mengabadikan atau men-dokumentasikan aksi brutal aparat tersebut,
sejumlah oknum  polisi dan Satpol PP, memaksa dan berusaha merampas alat para awak media seperti HP dan kamera.

Bahkan, para aparat mengintimidasi, mengancam kepada para awak media  jika perangkat kerja berupa kamera dan Handphone tidak diserahkan kepada aparat atau foto – foto dihapus,”cepat serahkan kamera dan Handphone atau hapus foto – foto itu, kalau tidak kamera dan Handphonemu saya banting,” gertak para aparat kepada awak media.

Puluhan media inipun tak boleh melakukan tugas jurnalistiknya, mereka diancam jika nekad melakukan peliputan peristiwa pemukulan wartawan serta demo penolakan Pembangunan PLTB .

Kesaksian wartawan Banyumas (Maulidin Wahyu) dan Satelit post (Aulia El Hakim) mengatakan,” saat masuk ke lingkungan Kabupaten (depan Pendapa Si Panji), untuk menyaksikan dari dekat represifitas aparat kepada puluhan pengunjuk rasa yang mengalami kekerasan fisik dan diangkut memakai kendaraan Dalmas bagai “Tikus”, Alat dokumentasi (handphone) kami dirampas, dan hasil karya jurnalistik kami pun dihapus oleh aparat arogan tersebut,” Ungkapnya.

Bahkan, Handphone Wartawan Suara Merdeka (Agus Wahyudi) Juga diminta paksa, diancam jika tidak diberikan dan foto tidak dihapus maka handphone akan dibanting, sehingga yang bersangkutan dipaksa dengan ditunggui sekitar tiga orang polisi untuk membuka pasdword dan menghapus semua foto yang berisi tindakan kekerasan aparat kepada massa.

Tragis, saksi mata mengatakan, Kejadian yang patut disesalkan dan dikutuk saat wartawan Metro TV, diinjak-injak, ditendang dan dipukuli oleh sekitar 10 orang aparat hingga tersungkur, padahal wartawan tersebut sudah memperlihatkan ID Card-nya.

Namun hal itu tetap tidak membuat oknum aparat berhenti  melakukan kekerasan fisik kepada si wartawan, kejadian itu tepat di sudut gerbang kabupaten sebelah barat sekitar pukul 22 : 05 selama 10 menit dan mengakibatkan wartawan itu tak sadarkan diri dan segera dibopong Wahyu dan Dian, beruntung saat dianiaya, korban mengenakan helm.

Peganiayaan terhadap wartawan Darbe Tyas ini berawal saat wartawan Metro TV  ini berusaha melindungi fotografer Suara Merdeka (Dian Aprilianingrum) yang sedang terancam menjadi sasaran pengeroyokan oleh anggota Polres Banyumas dan Satpol PP.
Darbe Tyas sudah menggunakan kartu identitas pers dan mengata kan dirinya seorang wartawan. Namun justru ia ditangkap, diarak bak seorang pencuri oleh sejumlah anggota polisi dan Satpol PP. Setelah diarak ke arah gerbang kabupaten dari arah depan Pendapa Si Panji, Darby  langsung dihujani bogem mentah (dianiaya).

Aksi tersebut sempat berhenti, setelah Dian berteriak histeris,”stop itu wartawan Metro tv” teriak  Dian berulang kali namun rupanya para oknum polisi itu sudah kemasukan iblis, sehingga tak ada lagi rasa iba kepada korban, mereka tetap meneruskan aksi brutalnya.

Tindakan brutal oknum aparat tersebut, selain menyebabkan luka di sejumlah tubuh,  kacamata Darbe  hilang dan kartu ID Card, ikut dirampas dan tidak dikembalikan. Oknum aparat melakukan tindakan tersebut karena melihat posisi wartawan televisi ini paling banyak mengabadikan momen kekerasan terhadap massa aksi.

Sekitar pukul 22:35 wib, Darbe dibawa ke RS Elisabeth di ruang IGD, untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan visum untuk bukti tindakan kekerasan yang dialami. Namun pihak RS. Elisabeth menolak dengan alasan harus ada pengantar dari kepolisian.

Akhirnya pada pukul 22:55 Wib Darbe dibawa ke RS Wijayakusuma, dan divisum (bukti terlampir).  Hasil pemeriksaan visum. Menurut dokter pemeriksa, Darbe mengalami memar di beberapa bagian tubuh, seperti dada, punggung dan tulang rusuk sebelah kiri,  kata nya. Sementara itu yang bersangkutan juga merasakan ada posisi tubuh bagian belakang yang sakit.

Ketua Ikatan Wartawan Online (Iwo) Jawa Tengah Mustolih mengutuk keras tindakan represif aparat kepada awak media,” tindak tegas oknum aparat polisi yang menghalangi kinerja jurnalis dan menganiaya jurnalis, Kapolres Banyumas harus bertanggung jawab atas insiden ini,” tandas Mustolih dalam pres rilisnya Selasa 10/10/17. Awak media memprotes keras aksi brutal aparat terhadap rekannya.

 

 

 

editor: maliki hd

 

Pos terkait