Gelar Profesor Ketua LN-PKRI Belum Tercatat di Kemendikti

Oleh Tim

JAKARTA,  AMUNISINEWS.CO.ID- Momen HUT ke-73 Polri pada 1 Juli 2019 ini digunakan oleh kelompok massa untuk mengucapkan selamat melalui bunga. Termasuk juga dilakukan oleh Ketua Lembaga Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (LN- PKRI) Irwannur Latubual (IL) yang bergelar profesor doktor serta kasusnya  dalam proses di Polres Jakarta Pusat.

Di bagian halaman Polres Jakarta Pusat di Kawasan Kemayora, terlihat ucapan bunga dari LN PKRI serta Assosiasi Pengelola CSR Republik Indonesia (APCRI) atas nama Prof DR Irwannur Latubual di antara ucapan lainnya.

IL dalam proses penyelidikan di Polres Jakarta Pusat dalam kasus penamparan dan penghinaan terhadap Denny Saleh, pekerja pada APCRI. Dalam kasus ini sudah beberapa saksi dimintai keterangan, termasuk IL sendiri yang sudah memenuhi undangan klarifikasi pada Rabu (22/5/2019).

Pengacara Denny, Budi Suranto bangun, SH, MH yang didampingi Tony Bdiyanto SH, MH dan Komarudin SH ketika diminta komentarnya mengatakan kasus yang menimpa kliennya belum selesai karena akan mengajukan saksi-saksi lain yang terlihat dalam rekaman CCTV ketika peristiwa terjadi di Gedung Menara Era lantai 12, tempat LN PKRI dan APCRI berkantor.

Kejadian pada Senin (29/4/2019) dan dilaporkan pada Kamis (9/5). Laporan tercatat dengan nomor LP No.782/K/V/2019/RESTRO JAKPUS. Korban sudah menyerahkan alat bukti berupa rekaman closed circuit television (CCTV).

Ketika ditanya etiskah seorang yang masih dalam proses hukum mengirim ucapan bunga pada kepolisian yang tengah menyelidikinya, Budi Suranto menyatakan sah saja. Hanya yang menjadi pertanyaan di benak kliennya apakah benar IL itu bergelar profesor dan dan doktor luluisan mana.

“Semestinyakan seorang profesor sangat berhati-hati dalam bertindak tidak cepat marah tanpa alasan dan main kekerasan serta penghinaan. Siapapun tidak akan terima jika dirinya diperlakukan seperti itu,” tegas Budi Suranto sambil menyatakan dia tidak tahu soal gelar-gelar akademis itu dan persilakan wartawan untuk konfirmasi ke Kemendikti.

Wartawan Amunisi kemudian mendatangi Dirjen Sumber Daya Pendidikan Tinggi (SDM Dikti) Kemendikti, dan ditemui Puji Staf Dirjen. Staf Dirjen ini menyatakan bahwa nama yang bersangkutan yaitu Prof Irwannur Latubual tidak tercatat. “Saya sudah cek melalu data base resmi di Kemendikti dengan gelar prof tersebut tidak terdaftar secara resmi di Kemendikti. Seharusnya seseorang yang mendapat gelar Prof, perguruan tinggi yang mengeluarkan gelar harus melapor ke Dikti agar tercatat secara resmi dan masuk dalam data base,” kata Puji.

Puji melanjutkan belum ada yang memberikan laporan gelar Profesor Irwannur kepada Kemendikti, bisa jadi diduga gelar tersebut belum resmi.

Penghinaan

Sementara Deny menceritakan awalnya dia dan terlapor sama-sama berjalan di dalam kantor.”Saya menyapa dengan sopan akan tetapi Pak Irwannur menanyakan kenapa saya minta data dari anak buahnya, lalu marah-marah danmenampar saya,”ujar Deny.

Padahal saat itu, kata Deny dia sudah tanya data yang mana, tapi Prof terus saja membabibuta dengan menyerang saya menggunakan tangan kiri. Profesor juga mengumpat,”Dasar anjing urus saja pekerjaanmu,”.

“Saya menjadi bingung dan shock untungnya ada keamanan Pak Ketum yang melerai,” ujar Deny.Deny menduga data yang dimaksud adalah data laporan harian yang sebelum dia masuk kerja di APCRI dan berharap kasusnya dapat diproses demi keadilan.

Dalam rekaman CCTV yang diperlihatkan terlihat profesor beberapa menampar Deny mengenai bahu dann wajah korban.

181 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KORAN AMUNISI

dan AMUNISINEWS.CO.ID

Ide dasar penerbitan Surat Kabar Umum (SKU) Amunisi dan Amunisinews.co.id antara lain membantu pemerintah dalam upaya penegakkan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP-RI) No, 68 tahun 1999, yang ditetapkan pada 14 Juli 1999 mengatur bagaimana peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara, termasuk membantu penegakan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Amunisi adalah bagian dari masyarakat, yang diharapkan pula dapat berperan aktif. Karena itu, sebagai media cetak, yang akan turut serta dalam penegakkan hukum di Indonesia, Amunisi harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Tentunya, diaflikasikan dalam bangun tubuh (halaman) dengan organ-organ (rubrikasi) yang tepat sasaran, yakni setiap yang disajikan adalah berisi informasi-informasi yang digali melalui kerja keras investigasi dengan pendalaman yang dapat dipertangungjawabkan.