Hikmah Budaya Halal Bihalal

  • Whatsapp

Oleh Rukmana

BEKASI, AMUNISI- Halal Bihalal adalah sebuah budaya yang sudah mengakar pada sebagian besar Umat Islam Bangsa Indonesia, meskipun sebatas Budaya, namun halal bihalal tidaklah bertentangan dengan Al-quran mahupun Al-hadist.

Bahkan secara eksplisit Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk memaafkan saudaranya jika bersalah, saling memaafkan adalah perintah Allah dalam Al – quran, oleh karenanya, budaya ini terus bergulir pada setiap tahunnya, terutama pada Hari Raya Idul Fitry.

hampir seluruh Umat Islam di Indonesia disibukkan dengan kegiatan Halal Bihalal, sampai – sampai Jalan tol Cikampek – Cipali mengalami kemacetan yang sangat parah.

Tahun lalu, terjadi tragedi yang sangat memprihatinkan pada pemudik yang hendak ber Halal Bihalal di Kampung Halamannya, dimana puluhan pemudik meninggal ditengah -tengah jalan tol Cipali.

Halal Bihalal juga digelar di sebuah perumahan subsidi, tepatnya Perum Villa Gading Harapan V, Rt13/12, Satria Mekar, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi.

Halal Bihalal yang digelar di Lapangan halaman Masjid Al – Ikhlas Sabtu 9 Syawal 1439 -Hijriyah dan bertepatan dengan 23 Juni 2018 ini dihadiri oleh tiga tokoh agama yaitu Ustadz Saeful Bahri, S.Pd,I, Ustadz Sumarzan S.Pd dan Ustadz Fiqro Fahmi, S.Pd,I.

Halal Bihalal diawali dengan pembacaan surat Al -Fatihah, dilanjutkan dengan Dzikir bersama yang dipimpin Ustadz Sumarzan, kemudian Sambutan ketua Rt 13 Yusran Zikrin.

Yusran dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf atas kelalaiannya dalam pendataan warganya yang berhak mendapatkan zakat.

“Saya mohon maaf karena tahun ini saya lupa mendata kaum faqir,miskin,duafa dan yatim yang ada dilingkungan Rt 13/12, akibatnya 9 orang warga tidak mendapatkan haqnya,” ungkap Yusran

Acara dilanjutkan dengan tausyiah dari Ustadz Saeful yang menegaskan pentingnya Ukhuwah dan persatuan serta kebersamaan.

“Masjid ini adalah Masjid kita bersama, mari kita makmurkan dan ramaikan dengan shalat berjamaah, pada momentum halal bihalal ini saya mengajak, mari kita jaga persaudaraan antar sesama muslim dan sesama warga negara dengan menjaga toleransi dalam perbedaan,” imbaunya.

“Selain sikap toleransi yang harus terus dijaga, musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan umat pun tak kalah pentingnya dalam mewujudkan masyarakat yang bersatu dan kompak,” ujar Ustadz Saeful

Lebih jauh, Ustadz yang merupakan lulusan Gontor ini menjelaskan pentingya musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut orang banyak.

menurutnya, Sekelas Nabi Muhammad SAW saja selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan yang menyangkut urusan masyarakat, apatah lagi kita yang terbatas keilmuannya.

“Libatkan seluruh umat muslim dalam memutuskan setiap urusan umat, hal ini akan menjaga tali persaudaraan dan jiwa kebersamaan,” katanya.

Sementara itu, saat ditemui dirumahnya Yusran mengatakan, dirinya merasa bersalah karena ada warga saya yang tidak mendapatkan zakat. “Oleh karena itu saya menyampaikan permohonan maaf pada acara halal bihalal, tidak ada niat saya mencela DKM, sebenarnya  ini akibat kurangnya koordinasi antara DKM dengan pengurus Rt, sejatinya, DKM harus koordinasi, minta data kepada Rt dalam penyaluran zakat, tapi sudahlah, kita ambil hikmahnya saja,” ujarnya singkat.

Masyarakat berharap, semoga tali persaudaraan di perum vgh v terus terjaga, semoga semangat toleransi dalam perbedaan terus terjalin.

 

Pos terkait