Hikmah di HBH Ponpes Miftahul Khaer: Kesalahan Walau Setitik akan Dipertanggungjawabkan

Oleh Edy Tanjung

TANGERANG, AMUNISINEWS.CO.ID — Pada akhirat nanti orang yang tersakiti oleh seseorang  akan datang menuntut. Akhirnya pahala kebaikan yang dimiliki sesorang yang men-dzolimi akan habis diberikan kepada orang-orang yang disakiti tersebut. Lalu pahala kebaikannya pun habis, sebelum dimasukkan ke dalam api neraka. Sesungguhnya jika ahli-ahli Allah mengingat tuntutan di hari pembalasan, tidak akan mau menyakiti orang lain. Sebab walau setitik yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan.

Demikian hikmah Halal bil halal (HBH) menandai usainya ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan seiring telah dilaluinya hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H yang disampaikan kiai tasawuf.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan takwa atas nikmat-Nya Idul Fitri, Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Khaer di Kampung Babakan, Kelurahan Sukabakti,  Kecamatan Curug,  Kabupaten Tangerang,  di bawah pimpinan KH Hafis Gunawan SPd, dengan pimpinan yayasan KH Armad Syaripudin SPdI dan bendahara yang juga Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Drs Ahyani MM, pada Sabtu lalu menggelar open house.

Tampak hadir sesepuh  dan ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU)  dari Kecamatan Curug seperti KH Mustofa, penceramah KH Ade Idham, Sekretaris NU Curug Ustadz Tajuddin, para kepala sekolah,  dewan guru MTs-MA, santri dan wali santri, tokoh dan masyarakat.

Kegiatan halal bihalal juga diselingi hiburan kesenian marawis. Di penghujung acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh Ustadz H Adung yang diteruskan acara ramah-tamah dan santap siang bersama.

Usai melantunkan istighfar, dzikir dan tahlil bersama yang dipandu Ustadz Tajuddin, pengasuh Ponpes Miftahul Khaer KH Hafis Gunawan mengucapkan terima kasih kepada semua fihak yang menghadiri halal bihalal. Disebutnya, sejarah awal digagasnya halal bihalal  atau kini juga dikenal dengan open house.

“Halal bihalal dulunya atas prakarsa  KH Hasbullah Wahab.  Sedangkan kegiatan di Ponpes Miftahul Khaer  memakai istilah open house karena acaranya terbuka untuk umum, sehingga siapapun bisa datang,” ujarnya

Selain itu, KH Hafis Gunawan mengungkapkan rasa syukur pada tahun ajaran baru 2019-2020 Ponpes Miftahul Khaer sudah mendaftar santri baru sebanyak 440 orang. Pada bagian lain disebutkan kehadiran pondok pesantren ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan umat Islam.

Diingatkannya pula, jika ada wartawan yang datang ke pondok pesantren, harus mengikuti adab-adab di Ponpes.  Hendaknya menanyakan pada kiai berita apa yang bisa disampaikan, sehingga akhirnya kehadiran wartawan pun bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Senada dengan KH Hafis Gunawan SPdI, Pimpinan Yayasan Ponpes Miftahul Khaer, KH Armat Syaripuddin SPdI mengatakan, kemajuan ponpes Miftahul Khaer sebagai berkah dari Allah SWT.

“Kehadiran Ponpes ini di Curug Tangerang, telah memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya dan wilayah lainnya. Dan halal bihal yang rutin dilakukan setiap tahun adalah wujud kemanfaatan dengan tetap terjaganya hubungan wathoniah,” kata KH Armad Syaripuddin.

Sesuai apa yang disampaikan KH Hafis Gunawan SPd, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Drs Ahyani MM  dari PPP mengungkapkan pernah mengajar pada awal berdiri Ponpes Miftahul Khaer di tahun 2007. Ia membenarkan bahwa halal bihalal hanya ada di Indonesia.

“Awal lahirnya halal bihalal dilandasi Kiai NU yang selalu hadir memberikan solusi ketika ada permasalahan.  Dulu pada 1948, saat elit politik saling menyalahkan, Ir Soekarno meminta solusi ke KH Wahab Hasbullah untuk pemecahan masalah. Dicetuskannya ide untuk mengadakan halal bihalal, saling memaafkan. Sehingga hal itu berkembang hingga sekarang. Kondisi seperti dulu itu perlu dikemukakan lagi untuk solusi permasalahan berbangsa seperti sekarang ini,” papar Drs Ahyani MM.

Selaku wakil rakyat dirinya berharap pada para kiai mau memberikan masukan kepada wakil rakyat untuk dijadikan Perda di Kabupaten Tangerang. Perda sendiri bisa muncul dari eksekutif dan legislatif sebagai refresentasi masyarakat. Misalnya dibuatnya Perda untuk  anti minuman keras. Harapannya,  mudah-mudahan muncul lagi ide cemerlang dari para ustadz dan santri menyampaikan usulan Perda yang disebut sebagai peraturan dunia. Sebab tabiat kita memang lebih takut kepada polisi daripada Allah, lebih takut urusan dunia daripada hukuman akhirat.

“Anggaran Kabupaten Tangerang sekarang, lanjut Ahyani, sudah hampir Rp 6 triliun. Kab Tangerang sendiri sudah 11 kali mendapatkan WTP dari BPK, sebuah prestasi manajemen terbaik di pemerintahan. Dengan adanya masukan dari para kiai agar dapat menyentuh yang dibutuhkan menyangkut keagamaan. Sebabnselama ini pendidikan umum lebih diperhatikan daripada pendidikan keagamaan. Bicara Perda terkait agama pun agak sulit, apalagi dengan lebih banyaknya dewan dari partai nasionalis. Karena itu, diperlukan masukan dari bawah terutama dari para kiai untuk  lahirnya Perda-perda terkait agama,” paparnya.

Kembali kepada pondok pesantren, sebenarnya, lanjutnya,  kemanfaaan ilmu bukan dari banyaknya ilmu seseorang tapi ilmu yang barokah yang berasal dari guru. Kita bersyukur dengan kuatnya para alumni dan masyarakat seperti yang selalu terjalin di Ponpes Miftahul Khaer, sejak berdiri hingga kini.

Sementara, KH Ade Idham yang memberikan tausiah, menyampaikan walau ada sebagian yang menganggap halal bihalal sebagai bid’ah, adalah wajar karena harusnya melihatnya sebagai da’watul bil hal (perbuatan) dan bukan hanya da’watul bil qaul (ucapan).

“Ulama tasawuf dalam berdakwah mengajak dengan tingkah laku yang lebih mengena daripada hanya dengan ucapan. Janganlah menasihati  orang lain agar tidak berbohong padahal dirinya sendiri melakukan kebohongan. Karena itu halal bihalal dapat dijadikan pacuan dakwah bil hal,” ceramah KH Ade Idham

Dia menceritakan, ketika Nabi Muhammad SAW akan wafat, kepada para Sahabat Rasul sempat bertanya: Siapa yang pernah aku dzalimi? Tuntutlah aku hari ini sebelum datangnya tuntutan di hari kiamat kepadaku. Setelah tiga kali Rasulullah bertanya barulah seorang sahabat Rasulullah mengaku bahwa Nabi Muhammad pernah dengan tak sengaja memukul di bagian punggungnya dengan tongkat ketika hendak berperang.

Dikatakan sahabat, meski sudah melupakan hal itu, tapi karena Nabi memintanya  untuk berterus terang, akhirnya Sahabat yang  diminta Nabi untuk membalas dengan memukul punggungnya. Tapi siapa yang sanggup memukul punggung Rasul yang putih bersih dan halus ketika bajunya dibuka, kecuali sahabat malahmenciumnya, karena umat Islam yang beriman  percaya siapa yang menyentuh kulit Nabi Muhammad akan terbebas dari siksa api neraka.

“Kembali kepada halal bihalal, ialah makom tobat yang sebenarnya. Sebelum datang hukuman Allah  harus diselesaikan dulu dengan hukuman antarmanusia. Di halal bihalal kita harus melepaskan sifat-sifat hasud, harus minta maaf. Harus tobat. Sebab orang bangkrut bukan manusia yang tidak punya uang dan barang berharga. Sebab manusia nanti hanya membawa pahala ibadah. Tapi tak gunanya pahala ibadah itu kalau hidup selalu mencaci maki orang lain,” tandasnya.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *