Kantin SDN 12 Pagi Pondok Labu, Diduga Dijual Rp5 Juta Perlapak

  • Whatsapp

 

Oleh Bambang Soeherdy

JAKARTA, AMUNISINEWS. Kantin SDN 12 Pagi Pondok Labu, CIlandak Jakarta Selatan diduga dijual Rp. 5 Juta per lapak.

Sejalan akan diresmikannya Gedung Baru SDN 12 Pagi Pondok Labu, Jl. Andara. RT.002/RW.03 Pondok Labu Jakarta Selatan, kantin yang pernah adapun turut dirombak.

Saat awak media Amunisi menkonfirmasi mengenai kantin, Jum’at (13 Maret 2020), di SDN Pondok Labu, menemui Eko (guru) yang merupakan koordinator pedagang kantin. Eko mengatakan “Disini saja Pak bicaranya, agar didengar dengan yang lain,” di ruang tunggu. Selain Eko ada juga guru dan penjaga sekolah serta beberapa walimurid yang turut mendengar.

“Sekolah yang sehat, sebaiknya mempunyai kantin yang sehat dibawah pengawasan sekolah. Namun, dalam peremajaan sekolah, tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan kantin. Inisiatif kami, saya dan Jamiah (guru) menghadap Kepala Sekolah agar diadakan kantin,” kata Eko.

“Dari 8 pedagang yang ada, hanya 7 yang sering datang ke sekolah saat pembangunan, Jadi kami berasumsi bahwa hanya 7 pedagang itu yang berminat. Adanya penambahan pedagang yang baru sebanyak 4 pedagang, diantaranya pensiunan guru,”’ ungkapnya.

Saat ditanya, apakah para pedagang itu dikenakan biaya, lebih lanjut Eko mengatakan “Mengenai biaya, saya tidak turut campur. Saya arahkan ke pemborong, mereka yang bicara. Didapat kesepakatan 5 Juta per lapak. Saya tidak menerima serupiahpun, mereka langsung dengan pemborong,” imbuhnya.

Hal ini berbeda dengan yang disampaikan Rapiana Simbolon, pedagang lama yang tidak terakomodir di kantin yang baru, kepada Amunisi.

“Saya berjualan makanan kecil-kecilan, sejak tahun 2014. Saya warga sini, Pak, Tinggal di Jl. Mesjid At Taubah No. 42. RT.004/RW.03. Beda 2 RT dengan SDN 12 Pagi, bahkan rumah saya letaknya di belakang sekolah. Saya juga aktif di masyarakat, sebagai Pengurus PKK dan kegiatan keagamaan. Mengapa, saya tidak diikut sertakan kembali untuk berjualan. Tidak pernah diajak pertemuan. Kan bisa menghubungi saya, dekat koq dengan sekolah,” ungkapnya.

“Senin kemarin (9 Maret 2020), saya dengan anak saya menghadap Kepala sekolah. Saya diterima, bicara di Ruang Guru dihadapan para Guru, diantaranya Eko dan Jumiah. Saya menangis, mendengar ucapan Kepala Sekolah yang tak sepantasnya diungkapkan, apalagi dihadapan para guru”.

“Ibu tau, kenapa tidak bisa berdagang disini.? Ibu tidak pernah beramal, Tidak pernah membeli Pot Bunga. Tidak pernah memberi makan guru-guru. Tidak pernah datang selama sekolah dibangun,” ungkapnya sambil menirukan gaya Kepala Sekolah saat mengatakan hal tersebut.

“Saya kaget pak, dan saya menangis. Anak saya pun sempat marah kepada Kepala Sekolah. Apakah saya beramal, harus bilang-bilang kepada Kepala Sekolah.? Saya tidak terima, dia (kepala sekolah) mengatakan itu dihadapan anak saya dan guru-guru,” ujarnya.

“Kemana lagi saya harus mengadu, menyampaikan masalah ini. Sedangkan saya hanya mau menanyakan kenapa saya tidak bisa dagang. Tapi, saat saya menghadap, Kepala Sekolah malah bilang gitu. Sudah tidak bisa dagang, dibilang tidak pernah beramal pula,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi ke Eko mengenai adanya kata-kata yang diungkapkan Kepala Sekolah, Eko mengatakan “Maaf pak. Itu masalah pribadi, kalau dalam hal beramal. Saya tidak bisa bicara”

Menurut Eko, SDN 12 Pagi Pondok Labu, akan diresmikan tanggal 19 Maret 2020 dan dihadiri oleh Kepala Dinas.

Sungguh malang nasib Rapiana, sudah tidak bisa dagang kembali, malah dituding tidak pernah beramal oleh Kepala Sekolah dihadapan para guru.

Tidak sepantasnya hal itu diucapkan oleh siapapun, terlebih seorang kepala sekolah. Ironisnya lagi, menurut Eko, para pedagang yang akan berjualan di kantin, bicara langsung dengan pemborong mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk pembangunan kantin. Lalu, dimana peran Sekolah..? Mengapa Ropiana pedagang lama dan juga Tokoh Masyarakat setempat tidak diikutsertakan.

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *