Rabu , 17 Januari 2018
Home / POLICE NEWS / Kapolres Sumenep: Perintah, agar Tembak Debt Collector 

Kapolres Sumenep: Perintah, agar Tembak Debt Collector 

Oleh : Tim/Rukmana Fadli

Markas Kepolisian Resort Sumenep

JAKARTA,AMUNISINEWS.CO.ID – Di tahun baru 2018, terdengar masih adanya ulah debt collector di salasatu kota di Jatim yaitu Sumenep yang ambil paksa sepeda motor pelajar. Hal seperti ini masih sering terjadi atas perilaku para debt collector yang lakukan tarik paksa sepeda motor atau mobil di jalanan, dimanapun keberadaannya di seantero RI. Dan untuk itu, hendaklah masyarakat gerebeg  tangkap dan gebuki, imbauan Kapolres Sumenep Akbp Joseph Ananta Pinora pada awak media beberapa waktu lalu.

Karena mereka tidak ubah nya seperti para Begal terang2an, sebaiknya Masyarakat harus tahu ini. (catatan: jangan sampai ajal)

Tanggapan warga masyarakat Wahyanto Meiono ”Kita bagikan informasi ini kepada segenap rakyat  Indonesia supaya masyarakat tidak dibodohi, diintimidasi dan di Teror oleh yang namanya Debt Collector” ujarnya

Pernyataan Bank Indonesia  (BI) terbitkan Surat Edaran BI No. 15/40/DKMP tanggal 23 Sep 2013.

Mengatur bahwa, syarat uang muka/DP kendaraan bermotor melalui bank minimal adalah 25% untuk roda 2 dan 30% untuk kendaraan roda 3 atau lebih untuk tujuan nonproduktif, serta 20% untuk roda 3 atau lebih untuk keperluan produktif.

Begitu pula Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang Leasing atau perusahaan pembiayaan untnk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/ 2012 tentang pendaftaran Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang dikeluarkan tanggal 7 Oktober 2012.

Menurut Undang-undang No.42 Tahun 1999, Fidusia adalah suatu proses mengalihkan hak milik atas suatu benda dengan dasar kepercayaan, tapi benda tersebut masih dalam penguasaan pihak yang mengalihkan.

Pada Fidusia umumnya dimasukkan dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor. Para debitur dan kita sebagai debitur membayar biaya jaminan fidusia tersebut.

Dan Pihak leasing wajib mendaftarkan setiap transaksi kredit di depan notaris atas perjanjian fedusia ini, seperti dirilis Lembaga OJK

Jadi perjanjian fidusia ini melindungi aset konsumen, leasing tdk bisa serta merta menarik kendaraan yang gagal bayar karena dengan perjanjian fidusia, alur yang seharusnya terjadi adalah pihak leasing melaporkan ke pengadilan

Selanjutnya, hingga kasus Anda akan disidangkan dan pengadilan akan mengeluarkan surat keputusan untuk menyita kendaraan Anda dan kendaraan Anda akan dilelang oleh pengadilan dan uang hasil penjualan kendaraan melalui lelang tersebut akan digunakan untuk membayar hutang kredit Anda ke perusahaan Leasing, lalu uang sisanya akan diberikan kepada Anda.

Maka, jika kendaraan anda akan ditarik oleh Leasing, mintalah surat perjanjian Fidusia nya dan sebelum ada surat Fidusia tersebut jangan ijinkan atau membolehkan penagih membawa kendaraan anda.

Karena jika mereka membawa sepucuk surat Fidusia (yang ternyata diduga adalah PALSU) silakan anda bawa ke hukum, pihak leasing akan didenda minimal Rp.1,5 milyar.

Tindakan Leasing melalui Debt Collector atau yang di juluki sebutan Mata elang dan mengambil secara paksa kendaraan dirumah, merupakan tindak pidana Pencurian.

Jika pengambilan dilakukan di jalanan, merupakan tindak pidana Perampasan dan atas tindakan tersebut, mereka bisa dijerat Pasal 368, Pasal 365 KUHP Ayat 2, 3 & 4 junto.

Bagi para debitur, ayo sebarkan pengertian pembelajaran ini, untuk menghentikan tindakan semena mena dari mata elang atau debt collector. Agar tercipta Tertib Hukum, menghargai hukum guna menjadi masyarakat cerdas.

 

 

editor: maliki hd

 

(Visited 19 times, 1 visits today)

Simak Juga

Tekan Pelanggaran Lalin, Perlu Upaya Semua Pihak

Oleh Franky Urias PASURUAN,AMUNISINEWS.CO.ID.: Memasuki penghujung akhir tahun 2017, pelanggaran terhadap peraturan lalu lintas masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *