Kasus ILS Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Jaksa Anggap Kerugian Negara Total Lost

  • Whatsapp

Oleh Herman Saleh

PANGKALPINANG, AMUNISINEWS.CO.ID – Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Elvin Fahluzi dalam kasus korupsi pengadaan   dan pemasangan instrument landing system (ILS) Bandara Depati Amir kota Pangkalpinang tahun anggaran 2008  dengan pagu anggaran  Rp.12milyar milik Departemen Perhubungan RI  berlangsung di PN Tipikor kota Pangkalpinang.

Terungkap dalam kasus terjadi perbuatan  secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Diuraikan JPU Sarpin  berbagai perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam pelaksanaan proyek yang dilakukan terdakwa sehingga merugikan keuangan negara. Mulai dari dokumen yang hilang, pekerjaan tak tuntas hingga akhirnya ILS tak bisa berfungsi. Sehingga uang negara nota bene milik rakyat senilai Rp 12 miliar itu terbuang sia-sia.

Dikatakan  Sarpin terdakwa Elvin Fahluzy dalam proyek ini  menjabat sebagai bendahara pengeluaran pada Dinas Perhubungan  Bangka Belitungmerangkap sebagai pejabat pembuat komitmen  serta kuasa pengguna anggaran bersama-sama dengan direktur PT. Hidayah Mandiri, Zaenudin.

Panitia telah melaksanakan proses pelelangan pengadaan  ILS tahun 2008 dengan menggunakan pelelangan umum pasca kualifikasi sistem gugur metode 1  sampul dan diikuti 4  perusahaan  peserta lelang salah satunya  PT. Hidayah Mandiri. Tetapi anehnya penyidik tidak memperoleh dokumen-dokumen  lelang tersebut.

Dalam pelaksanaan kegiatan pihak perusahaan  PT. Hidayah Mandiri beberapa kali mendapatkan peringatan karena tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan schedule. Namun lagi-lagi dokumen tersebut hilang,” ungkapnya.

Pada tanggal 10 Desember 2008 dikeluarkan berita acara pemeriksaan pekerjaan  pada satuan kerja Bandar  Udara Depati Amir Pangkalpinang 2008 nomor: 61/SATKER-BUDA/2008 yang hanya ditandatangani oleh direktur Zaenudin tetapi tidak ditandatanganioleh panitia pemeriksa barang dan terdakwa Elvin Fahluzy. Namun kenyataanya peralatan ILS dalam keadaan belum terpasang dan masih berada di gudang bandara Depati Amir serta tidak pernah dilakukan commissioning (uji coba) sebelum diserahkan kepada pengguna barang/ jasa

“Sampai dengan batas waktu berakhirnya kontrak yaitu  tanggal 16 November 2016, masih terdapat pekerjaan yang belum diselesaikan, dimana alat-alat ILS belum terpasang dan dilakukan uji coba (commissioning),” ucapnya.

“Bahwa terdakwa    tidak menyimpan dengan baik dokumen kegiatan  di kantor satuan kerja Bandar Udara Depati Amir Pangkalpinang  melainkan disimpan di rumah pribadi. Sehingga dokumen-dokumen kegiatan seperti dokumen perencanaan, dokumen pengadaan, lampiran kontrak (berupa daftar kuantitas dan harga, spesifikasi teknis), serta dokumen pembayaran tidak dapat ditemukan/ hilang,” ungkapnya.

Sampai saat ini ILS diungkapkan tidak berfungsi untuk membantu proses pendaratan pesawat dengan tepat dan aman, serta peralatan ILS dalam kondisi tidak terawat, bahkan ada sebagian yang hilang. Kondisi ini terindikasi telah merugikan keuangan negara dan apabila dilihat dari perspektif manfaat yang diharapkan, maka telah menimbulkan kerugian negara secara total loss (kerugian total).

Perbuatan terdakwa dijerat pidana pasal 2 ayat  (1) jo. pasal 18  UU nomor: 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi  sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor : 20 tahun 2001  tentang perubahan atas undang-undang nomor: 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) Ke- 1 KUHP.

 

Editor Hrendra Usmaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *