Kejadian Penusukan Menko Polhukam Diduga Bukan Murni Teroris?

  • Whatsapp

Oleh, Budi.Setiawan.

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID.- Kunjungan Wiranto ke Alun-alun Menes, Pandeglang diwarnai aksi kriminal. Wiranto ditusuk hingga perutnya terluka. Pria 72 tahun ini segera dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto untuk menjalani operasi. Peristiwa Kamis kemarin,(10/10/2019). itu begitu menyedot perhatian publik.

Dan  bukan hanya Wiranto yang jadi korban. Ada tiga orang lain yang terluka yaitu Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, ulama Pandeglang Fuad, dan ajudan Danrem. Sementara pelakunya sudah dibekuk. Ia adalah Abu Rara yang terpapar paham radikal.Dengan pelaku melakukan penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto. dengan gunting tentunya ini, metode lama dengan melakukan alat gunting.

As’ad Said Ali, mantan wakil ketua PBNU dan mantan wakil Badan Intelejen Negara (BIN) di jaman tiga presiden yaitu Alm Gusdur, Megawati, Sby.menjelaskan, penusuk Wiranto Abu Rara, adalah mantan terpidana narkoba yang di rekrut oleh jamaah Anshorut daulah pimpinan Maman Abdurrahnan sebagai ketua JAD Indonesia. Abu Rara  juga bergabung di dalam sebuah kelompok kajian lima belasan yang sifatnya semi terbuka.dan juga di rekut sebagai pedagang Cilok.

Sedangkan istri Abu Rara Fitri Andriana merupakan alumnus pesantren Ibnu Saud di Bogor, Jawa Barat, yang diketahui berpaham keras.

Lebih lanjut ditegaskan, Serangan terhadap Menkopolhukam Wiranto bernuansa politis, dan bukan aksi teroris murni. Biasanya para teroris memilih target polisi, dimana mereka dendam karena kawan mereka banyak yang ditangkap polisi, tapi penyerangan justru diarahkan ke Wiranto sebagai Menko Polhukam. Aksi Abu Rara dalam menusuk Wiranto sangat pintar, karena dia memilih sasaran yang lemah dalam pengamanannya.

“Bisa jadi Abu Rara dimanfaatkan orang lain, lewat komando dengan imbalan tertentu, untuk mengacaukan keadaan. Dan bila ada yang mengaitkan peristiwa penusukan Wiranto dengan proses pelantikan Presiden pada tanggal 20 Oktober itu wajar,” ujar KH. As’ad Said Ali, Jum’at, 11/10/2019.

Kaum radikal masih banyak berkeliaran di Indonesia. Untuk itu pemerintah harus terus melakukan deradikalisasi secara halus dan terus-menerus. Hal ini dilakukan agar insiden penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto tidak terulang lagi.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *