Kemasan Produk Pengaruhi Keberhasilan Pemasaran

Oleh Hendra Usmaya

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID- Kemasan  suatu produk menjadi salah satu faktor penting dari keberhasilan pemasaran produk melalui pasar. Kemasan yang menarik dengan kualitas memenuhi standar, selain berfungsi mewadahi atau membungkus produk, bisa juga sebagai sarana promosi sekaligus informasi dari produk ini sekaligus meningkatkan citra, daya jual dan daya saing.

Untuk itu, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gita Wibawaningsih, di tahun 2018, pengembangan IKM akan difokuskan pada pembinaan dan peningkatan kualitas kemasan.

Gati, melalui program workshop e-Smart IKM, yang diselenggarakan Sabtu (20/10/2018), menyatakan akan membantu pengembangan kemasan bagi peserta pelatihan tersebut.

“Dalam program ini, anggota e-Smart IKM akan diberikan bantuan desain kemasan oleh Klinik Desain Kemasan dan Merek Ditjen IKM agar standar kualitas desain kemasannya meningkat,” tutur Gati dalam rilisnya, Minggu (11/2/2018).

Dijelaskan Gita, program ini merupakan salah satu bentuk pembinaan Ditjen IKM ke peserta workshop e-Smart untuk meningkatkan daya saing produknya agar semakin laku di pasaran.

Pada tahun 2017, sebanyak 1730 IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM. Tahun 2018 berlaku akan mencapai 4000 IKM dan tahun 2019 bertambah menjadi 5000 IKM.

Tak hanya itu, pengembangan sarana infrastruktur digital e-Smart IKM ini diharapkan dapat menjadi “Virtual Sentra IKM” yang akan meningkatkan daya saing produk serta akses pasar dalam negeri maupun global.

“Dalam pengembangan produk, Kemenperin telah melakukan pembangunan 24 Rumah Kemasan yang tersebar di 22 provinsi di bawah pengelolaan pemerintah daerah,” ugkapnya.

Gati tambah, juga sempat memberikan dukungan bagi pelaku industri khususnya IKM untuk memperbaiki kualitas kemasan produknya dengan membentuk Klinik Desain Kemasan dan Merek sejak tahun 2003, yang memudahkan usaha IKM dalam meningkatkan mutu kemasan produknya.

“Sampai tahun 2017 telah diberikan fasilitas dalam bentuk 7.217 desain kemasan, 7.636 desain merek dan bantuan kemasan cetak ke 371 IKM,” sebutnya.

Klinik Desain Kemasan dan Merek, kata Gita, dapat melayani bimbingan dan konsultasi pengembangan desain dan merek di daerah, dan layanan untuk IKM yang datang langsung.

“Klinik itu juga ikut berpartisipasi pada kegiatan bimbingan dan pendampingan teknis desain merek dan kemasan yang diselenggarakan oleh daerah,” jelas Gati.

Di samping itu, Kemenperin akan menggandeng Kementerian Informasi dan Informatika untuk penggunaan kode QR (Quick Response) dalam proses pembayaran di IKM.

“Penyusunan rencana itu akan dikerjakan mulai awal tahun ini. Jadi, produk IKM nanti ada barcode-nya, “kata Gati.

Keuntungan sistem penomoran atau pengkodean ini akan memudahkan produsen dan penjual untuk melakukan pengontrolan stok, tanggal produksi dan kadaluarsa, atau informasi lainnya.

Bahkan, dengan barcode, bisa pula produknya bisa IKM bisa dijual ke pasar ritel. “Selain itu, dengan logo e-Smart IKM, juga menunjukkan produk buatan IKM tersebut,” imbuhnya.

Gati pun terjamin kualitas dari produk-produk e-Smart IKM yang sudah dijual di trading daring.

“Melalui promosi di marketplace, memudahkan kami iklan IKM yang kurang. Bila itu terjadi, kami akan menganalisis faktor-faktor penyebab suatu produk yang kurang diminati, kemudian membantu mencarikan solusinya, “papar Gati.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *