Konfrontir Kasus Penipuan oleh Profesor Penuh Kejanggalan

  • Whatsapp

Oleh Tim

Mapolda Metro Jaya (foto: ist)

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID-  Konfrontir  kasus dugaan penipuan sebesar Rp 950 juta oleh MN yang mengaku bergelar profesor penuh kejanggalan.

Menurut sumber di Polda Metro Jaya, Senin (23/4) konfrontir antara pelapor dan terlapor masuk tahap kedua atau yang kedua.

Kjanggalan tersebut, di antaranya, terlapor MN tidak mengaku menerima uang, padahal, saksi-saksi yang sudah diperiksa membenarkan bahwa MN menerima uang  di kantor pelapor di Gedung GM, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

MN juga mengaku tidak menerima surat kuasa untuk mengurus sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Kata, sumber itu, bagaimana pelapor memberikan surat kuasa, pelapor tahu  terlapor masih sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), yang juga sebagai dosen di universitas Sulawesi Selatan yang mengajar Iilmu hukum.

“Jelas terlapor tidak menerima surat kuasa untuk beracara megurus kasus terlapor karena dia seorang ASN yang tidak boleh berpraktik pengacara,” ujar sumber tersebut,

Kemudian keganjilan lainnya saat konfrontir, masih menurut sumber, terlapor juga awalnya tak mengakui mengirim email dengan kata-kata yang intinya sudah selesai mengerjakan sesuatu tugasnya. Tapi megitu di cek dari nomor ponsel siapa, dan email siapa mengirimkan email itu, akhirnya ia mengaku.

Anehnya lagi, jelas sumber tersebut, juga tak mengakui kirim uang lewat transfer kepada orang-orang tertentu. Lucunya, tambah sumber itu, kembali lagi akhirnya mengaku. mengirim ke rekening ‘orang’ sebanyak tiga kali, dengan alas an untuk membeli tanah.

Orang-orang yang ditransfer rekeningnya itu orang gak berduit. Bagaimana sampai di transfer puluhan dan ratusan juta?

Untuk diketahui terjadinya dugaan tindak pidana penipuan bermula saat terlapor diberikan tempat di tempat pelapor, dan membuka kantor bantuan hukum,.

Terlapor mengaku bisa mengurus masalah-masalah pengurusan tanah, dan mengiming-imingi pelapor sudah sering memenangkan perkara di Mahkamah Agung (MA).

 

Pelapor tertarik, dan bersedia mengeluarkan uang sebesar Rp 950 juta, yang digelontorkan secara bertahap. Tapi bukan menang perkara yang didapat, malah sebaliknya, uang tersebut raib. MN pun sudah tak bisa dihubungi.

Merasa kesal karena terperdaya, korban yang bergelar doktor dan berprofesi sebagai pengusaha  melaporkannya ke Polda Metro Jaya.

Korban melaporkan MN dengan nomor laporan LP/2951/VIII/2017/PMJ/Dit Reskrimum, tanggal 22 Agustus 2017, dengan tuduhan dugaan melakukan Penipuan dan atau Penggelapan dan atau Pemalsuan, disangkakan melanggar Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP.

Sementara tempat kejadian, seperti tertulis dalam surat laporan, di  GM Lantai 25, Jalan Imam Bonjol No. 61, Jakarta Pusat.

 

Pos terkait