Mafia Tanah Pulo Panjang Diduga ‘Atur’ Penyidik Polri

  • Whatsapp
hablawi-danmastal
Balok Hablawi dan Mastal, ahli waris yang tanahnya diserobot mafia di Pulo Panjang, Serang, Banten.

 

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM– Mafia tanah di kawasan Pulo Panjang, Serang, Banten kian bertingkah. Mereka berani menantang siapa saja yang merasa tanahnya diserobot untuk melapor ke Mabes Polri.

Hal ini terungkap dari cerita yang beredar luas di masyarakat setelah sejumlah ahli waris dari Sakirah akan melaporkan kasus pemalsuan akta jal beli (AJB) ke Mabes Polri. “Silakan saja melapor, seberapa kuat duit para ahli waris itu, kami punya akses ke Mabes Polri,” kata sumber yang mendengar ucapan seorang kaki tangan mafia tanah.

Seperti diketahui, ahli waris Sakirah mengancam akan melaporkan dugaan penggelapan tanah waris milik mereka yang berada di Pulo Panjang, Serang, Banten kepada Mabes Polri, karena tanah mereka beralih ke PT Abhaya Indonesia Energi.

Aksi ini diawali dengan dugaan pemalsuan AJB palsu No. 320/JB/24/IV/2000 oleh Sutomo. Kasus ini sudah dilaporkan oleh Mastal  ke Polda Banten, tapi proses penyidikannya berjalan di tempat.

Padahal. mantan Camat Kesamen Drs H Wagio sudah membuat surat pernyataan bahwa dia selaku camat/PPAT tidak pernah tandatangani  AJB No. 320/JB/24/IV/2000 yang dibuat Sabtu 24 April 2000 oleh yang mengatas namakan Mastal sebagai penjual dan Sutomo sebagai pembeli atas tanah seluas 6 hektar.

Wagio menjelaskan AJB itu bukan produk kecamatan karena format AJB untuk pengetikan berbeda dengan AJB yang dibuat tahun 2000.

Register penomoran formatnya  berbeda seperti halnya tercatat 320/JB/24/IV/2000 di AJB yang lain yang pembuatannya sama secara resmi tahun 2000 tercatat 320/2000.

Selain itu, kata Wagio, stempel juga berbeda dengan stempel PPAT kecamatan yang berlaku pada tahun 2000. Tanda tangan camat juga diduga dipalsukan karena tarikan tanda tangan tidak sama.

Pada tanggal pembuatan disebut hari Sabtu tanggal 24 April 2000 padahal tanggal 24 April 2000 jatuh pada hari Senin, bukan Sabtu. “AJB No. 320/JB/24/IV/2000 tidak tercatat di kantor Kecamatan Kesamen dan tidak ada arsip dengan nomor itu,” kata H Wagio dalam surat keterangannya tertanggal 18 Juni 2015, yang diketahui oleh Kades Pulo Panjang Amirudin.

Tapi, meskipun pelapor Mastal sudah memberikan keterangan  namun laporannya tidak berjalan alias di peties-kan.

Diduga, karena laporan Mastal dipetieskan oleh Polda Banten, membuat mafia tanah semakin menjadi-jadi dan menantang siapa saja untuk melapor ke Polri. Termasuk PT Abhaya yang merasa tertipu, belum lagi karena masalah surat tanahnya belum selesai tak mau melapor.

 

Dukung Laporan

Malahan,  PT Abhaya Indonesia Energi yang membeli tanah dari Sutomo mendukung apabila ahli waris ingin melaporkan kasus AJB palsu itu ke Mabes Polri.

Seorang karyawan PT Abahaya, Apit, yang mengetahui ahli waris akan melapor polisi membuat pesan pendek kepada Balok Hablawi, salah satu ahli waris Sakira.

Ini SMS nya, “ Sy setuju segera ditindaklanjuti aja.. biar ada kepastian hukum soal kepemilikannya… saya udh capek minta pertanggung jawabannya soal tanah itu belum jelas juga. Kita sudah terlanjur bayar tapi dibohongi soal dokumennya,” tulis Apit.

Pada Rabu (12/10), Balok Hablawi didampingi Amunisi bertemu dengan Apit. Lagi-lagi Apit mendukung langkah yang akan diambil oleh ahli waris untuk melapor ke polisi.

Jika PT Abhaya mengakui merasa dibohongi, lalu mengapa notaris M Islamsyah Arifin, SH berani membuat surat keterangan  Nomor 851/MI/PPAT-Not/VIII/16 yang menyebut tanah 60.000 meter persegi persil 10 Blok Nyamplung atas nama Sakirah sudah dijual oleh Sutomo kepada PT Abhaya Indonesia Energi.

“Di sinilah yang menjadi pertanyaan, mengapa notaris membuat surat keterangan seperti itu. Ini mengindikasikan dia (Islamsyah) mengetahui perihal jual beli antara Sutomo dan PT Abhaya. Tapi herannya, jika notaris tahu mengapa tidak bertanya soal bukti kepemilikan?” tanya Balok Hablawi.

Di Kantor pengacara M Islamsyah yang ditanya masalah AJB antara Mastal dan Sutomo tersebut membantah membuatnya. Dia mengatakan itu kerjaan anak buahnya bernama Hendry yang ditugaskan di wilayah Pulo Panjang.

Diduga pembayaran atas tanah tersebut dari PT Abhaya kepada Sutomo sebesar Rp1,8 miliar juga dilakukan di kantor notaris itu.

Seperti diketahui kasus ini sebenarnya bermula ketika pada tahun 1979 berdasarkan Putusan Badan Musyawarah Tentang Pengesahan Pembagian tirkah almarhum Jainul, disebut Sakirah berhak atas tanah peninggalan suaminya (Jainul) berupa Tanah Blok Seron/semadat Persil 20, Dukuh tair/Seroan persil 20,  Dukuh Pring/Nyamplung Persil 10, Blok Nyamplung persil 10, Rawa Hilman persil 6 dan rumah beserta isinya.

Sedangkan empat ahli waris lainnya mendapatkan juga bagian yang bukan bagian dari yang diterima oleh  Sakirah.

Pada tahun 1986 Sakirah menggadaikan tanah kepada Sutomo. Tahun 1996 Sakirah meninggal dunia, dan tahun 1998 para ahli waris meminta uang tambah gadai kepada Sutomo. Pada tahun 2014 para ahli waris menyerahkan dana Rp80 juta untuk menebus tanah kepada Sutomo, tapi ditolaknya dengan alasan tanah itu sudah dijual Sutomo kepada PT Abhaya.

(tim)

 

 

Pos terkait