Mantan Bendahara RT Digugat di PN JakUtara

  • Whatsapp
Suasana di ruang sidang PN JakUt

Oleh : Aston Darwin

Suasana di ruang sidang PN JakUt

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID – Sidang perkara perdata mantan bendahara Kelurahan Klp.Gading Timur, Jakarta utara, Lo Mei Ing yang digugat oleh Bian Engger Lim, selaku ketua Rt.10, Rw. 02 yang digelar di kantor Pengadilan Negeri Jakarta utara, kini mulai mendapat titik terang.
Pada sidang sebelumnya, pihak tergugat hadirkan 4 orang saksi. Dalam keterangannya, saksi Hadi Waluyo mengatakan, bahwa saudara Bian Engger Lim, yang bertugas sebagai ketua Rt.10, Kelurahan Klp.Gading Timur, dinilai tidak bisa memberikan pelayanan yang baik kepada yang bersangkutan.                                                               Pasalnya, ketika saksi hendak meminta surat pengantar untuk dibuatkan Surat Kecakapan Catatan Kepolisian ( SKCK), namun Ketua RT tersebut, malah terkesan tidak bersedia untuk memberikannya.
Menurut keterangan saksi Hendra Gunawan Kusuma yang merupakan mantan ketua RT.10 itu mengatakan, bahwa pengambilan dana operasional RT yang dilakukan oleh tergugat, dinilai bukanlah wewenang tergugat. Karena tergugat, tidak lagi menjabat sebagai bendahara. Ironisnya lagi, dana operasional yang diambil oleh tergugat, malah dibagi – bagi.
Sementara itu, menurut keterangan saksi Tina Sagala yang resmi diangkat sebagai bendahara sejak 2014 itu mengatakan, bahwa semua keterangan yang diberikan oleh saksi – saksi tersebut, tidaklah benar. Saksi Tina Sagala juga mengatakan, setelah pergantian kepengurusan RT, maka wewenang untuk pengambilan dana operasional, adalah merupakan wewenang ketua RT yang baru. Hal itu dimaksudkan, agar dana operasional tersebut, bisa digunakan untuk kegiatan sosial. Bukan untuk dibagi – bagi maupun dipakai untuk keperluan pribadi.
Jadi, Berdasarkan keterangan dari saksi – saksi tersebut, dinilai bertentangan dengan informasi yang akurat dari pihak RW maupun dari pihak kelurahan.
Apabila keterangan saksi – saksi tersebut dinyatakan palsu, maka nasib sial akan segera menimpa sang saksi. Karena keterangan yang diberikan itu bertentangan dan melanggar ketentuan Pasal 242 KUHP tentang keterangan palsu yang diancam dengan hukuman pidana selama 7 tahun penjara.
Menurut pengakuan Lo Mei Ing (tergugat), dirinya digugat karena diduga telah menyalagunakan dana kas operasional RT senilai Rp.22.710.570. -Namun, ketika ketua RT yang saat itu dijabat oleh saudara Bian Engger Derson Lim, dirinya hanya menerima uang/dana kas operasional sebesar Rp.20.269.270. Jadi, selisih jumlah uang yang diserahkan kepada dirinya adalah senilai Rp.2.441.300.

Selain itu, dirinya juga disinyalir telah mengambil dana operasional RT, sebesar Rp.2.925.000. Hingga sampai kini, keberadaan uang tersebut, tidak diketahui rimbanya. Bahkan pada tanggal 17-07-2015 lalu, tergugat malah dituding telah mengambil uang titipan kas RT, sebesar Rp.1.000.000. Selain itu, tergugat juga diduga sengaja menyimpan uang iuran milik salasatu warga selama 10 bulan yang nominalnya sebesar Rp.2.000.000. Yang lebih mengherankan lagi, tergugat bahkan tidak mau membayar uang iuran warga selama 2 tahun yang nominalnya sebesar Rp.5.450.000.
Jadi, total uang iuran warga yang dipegang oleh tergugat adalah sebesar Rp.13.816.300.

Terlepas dari masalah uang iuran tersebut, tergugat juga disinyalir telah melakukan pencemaran nama baik secara berulang – ulang. Yang intinya menyebut bahwa diri penggugat adalah orang gila dan banci.
Menurut informasi dari tim Penasehat Hukum penggugat, bahwa kasus dugaan penggelapan dana operasional RT tersebut, sudah dilaporkan kepihak Polres Metro Jakarta utara. Dengan tujuan, agar jelas siapakah yang harus bertanggung jawab terkait selisih dana operasional RT tersebut. Ucap tim Penasehat Hukum penggugat pada wartawan

 

editor: maliki hd

 

Pos terkait