Mantan Kades diduga Caplok Tanah Warga, Gunakan Jabatannya selaku Kades

  • Whatsapp

Oleh, Tri Teguh A

KETAPANG, AMUNISINEWS.CO.ID.- Mantan Kades (Kepala Desa) Sukaharja diduga caplok Tanah masyarakat yang terjadi tanah milik Tairu (Alm) dengan lebar 64 meter dan panjang 300 meter, dan tanah tersebut dimiliki sebelum Desa punya nama di tahun 50 an. Kala itu belum ada yang namanya Desa Sukaharja masih disebut Pangelan lalang kecil dan Lalang besar, keadaannya menyatu dengan kandang kerbau, dan belum ada Kepala Desa, masih disebut Kepala Kampung.

Pada waktu itu, hampir semua tanah dijadikan miliknya, Sapri selaku mantan kades ini sudah tidak heran lagi, sudah terlibat dengan kasus perkasus tanah sering berurusan dengan pengadilan, dan sampai sekarang ia tidak berkuasa lagi menjadi tuan takur kata warga masih tetap saja dibawa-bawa sampai sekarang sifatnya yang masih seakan memiliki kekuasaan dan membawa anaknya saat berurusan serta bersikeras untuk mempertahankan hak seseorang yang diambil alih oleh mereka sampai saat ini, bermodus pengakuannya bahwa alasannya membeli tanah dengan orang lain, kata Sapri pada saat dîtemui.

Seperti yang dikatakan Dani selaku warga masyarakat kelurahan Sukaharja Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, dikatakannya kepada awak media Amunisi pada saat mempertemukan mantan kades bersama tuan tanah yang sebenarnya tepat di warung depan kampus Politeknik Negeri Ketapang pada tanggal (23 – 02 – 2020) lalu, pukul 09:34 pagi, Dani menyerahkan mengenai kelanjutan saat pertemuan berlangsung tinggal dari pihak sipenggugatlah yang selanjutnya menjelaskan asal-usul tanah tersebut.

Sebelumnya Dani mengatakan kepada Sukanda anak mantan kades, bahwa persoalan orang tua nya jangan ikut campuri terlebih dahulu, Marsudin selaku mantan Kades desa Sukabangun dan juga sipenggugat menanyakan kepada Sapri, yang sebenarnya yang membuat surat tersebut atas nama siapa pada waktu itu, dan dijawab Dani atas nama Sukanda anak kandung mantan kades Sapri.

Marsudin mengatakan di tahun 2004 ia masih menjabat Kades dan anak buahnya pun mempunyai tanah di lokasi tersebut, lalu kemudian beberapa warganya untuk menerbitkan surat SKT tanah miliknya yang terletak di desa Sukaharja, setelah dilakukan penebasan secara serentak tanah tersebut diukur sesuai dengan pemiliknya masing-masing dan sebagian tanah miliknya mempunyai surat pada tahun 1954 dan tahun 1955 yang dibuat Kepala kampung Sukaharja yang pertama menjabat di desa Sukaharja, maka dengan itu berdasarkan keterangan pemilik kepada mantan kades masih menjabat pada tahun 2004 Marsudin langsung meminta turun ke lapangan dengan Kades Sapri beserta stafnya didampingi Camat. Fajar (Alm), dan di sahkan oleh camat pada waktu itu, namun anehnya kades Sahpri menjawab tunggu saja nanti dengan alasan, tidak mau menanda tangani waktu itu.

Lanjut Marsudin, dalam hal ini mengatakan kepada Sapri mengapa Sapri begitu berani membeli tanah tersebut, padahal Sapri itu sudah tau itu tanah Milik nya hak orang Sukabangun, dan siapa nya membuatkan suratnye, tegasnya Marsudin.
Sanggahan Sapri mengatakan hal itu tidak perlu lagi lah dipertanyakan, dengan alasannya mengulur waktu.

Pada masa itu memang Dedi selaku anak kandung Tairu memang belum ikut campur tangan, dan yang mengurusnyapun dahulu masih Orang tua korban semasa hidup dan didampingi camat serta Sahpri dan Marsudin surat itu sudah dibuat serta sudah jelas diketahui camat, ironisnya Sahpri selaku Kades saat menjabat waktu itu dengan menggunakan kekuasaannya sengaja melakukan niat tidak baik dengan mengulur waktu untuk penandatanganan sûrat SKT yang sudah dibuat staf desa, dari 2004 sampai sekarang dia sudah tidak menjabat Kepala desa, anehnya sekarang tanah itu menjadi miliknya sendiri, dan selama 16 tahun baru dibuatkan nya surat itu pada tahun 2018 lalu, dengan dalih ia membeli tanah tersebut dengan orang yang sudah meninggal, tanpa mengantongi surat resmi, begitulah caranya kades Sahpri menggunakan pola lama dengan halalkan segalacara untuk merampas tanah milik orang lain.

Dedi Sumarni menambahkan selaku pewaris dari orang tuanya Tairu melanjukan mengurus tanah tersebut di kantor kelurahan Sukaharja untuk mendapatkan kepastian dari mantan kades Sahpri dengan cara kekeluargaan, tapi Sahpri tetap saja bertahan bahwa itu adalah miliknya, Dedi meminta kepada aparat yang terkait untuk dapat menindak tegas kepada pelaku ini yang sudah banyak merugikan orang lain yang sudah jelas melanggar hukum, diduga adanyan pidana merampas tanah milik seseorang, pungkas Dedi Sumarni.

 

 

Pos terkait