Mantan Kadis Hutbun Basel Bersaksi di Sidang Tipikor Pupuk

  • Whatsapp

logo-basel

AMUNISINEWS.COM, Pangkalpinang : Jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung menghadirkan kesaksian dari adik kandung Jamro bin H Jali yakni Hatamarrasyid  bin H Jalil.  Hatamarrasyid   sendiri merupakan mantan kepala dinas perkebunan dan kehutanan Pemkab Bangka Selatan. Sekaligus sebagai atasan langsung dari pihak terdakwa yakni   Kartino (PPK), Yudhi Irfani (pejabat
pengadaan) dan  Hambali  (penerima kuasa dari Mundilah Muhammad Syarkowi selaku direktur CV Dwinda Chantika Utama  yang buron).

Dalam keterangan yang diberikan oleh Hatamarrasyid sendiri di hadapan majelis hakim yang diketuai Setyanto tak banyak membantu anak buahnya yang sedang terjerat hukum tersebut. Hatamarrasyid  justeru lebih banyak memilih pernyataan “tidak tahu” saat hakim dan jaksa penuntut mempertanyakan terutama soal peranya selaku kepala dinas saat itu yang sampai menyebabkan terjadinya kerugian   negara Rp 1.225.844.098.

“Saksi banyak memberikan pernyataan tidak tahunya ketimbang tahunya. Padahal kita sangat mengharapkan saksi bisa memaparkan sesungguhnya bagaimana sampai terjadi korupsi itu. Tetapi ya hak saksi lah terlebih sudah disumpah untuk menyatakan tidak tahu. Kita sebagai penuntut sudah memiliki penilaian dan kesimpulannya,” kata salah satu jaksa penuntut Novianto.

Terkait apakah Hatamarrasyid sendiri bisa terjerat sama sebagai terdakwa menurut Novianto tergantung pada penyidik Polda Bangka Belitung serta fakta persidangan yang berkembang nantinya.  Para terdakwa menruutnya dipersilahkan nyanyi semerdu-merdunya siapa saja yang terlibat ataupun menikmati hasil
korupsi tersebut. “Bilama fakta memang menunjukan adanya keterlibatan pihak-pihak lain selain para terdakwa ya harus kita proses. Namun dalam perkara ini proses awal penyidikan sendiri itu di Polda Bangka Belitung,” ungkapnya.

Sementara  itu saksi Hatamarrasyid sendiri kepada wartawan saat disamperin lebih memilih tidak tahu dan ogah berkomentar. Dirinya mengaku ogah menyatakan apapun dan menyuruh wartawan bertanya langsung pada jaksa. “Saya tidak tahu, tanya saja sama jaksanya. Jaksa sajalah,” tukasnya kepada wartawan seraya pergi ke arah parkiran.

Dalam perkara ini  tim jaksa penuntut dari Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung  menyatakan  3 terdakwa  yang semuanya telah diangkat oleh kepala dinas perkebunan dan kehutanan Pemkab Bangka selatan, Hatamarrasyid  bin H Jalil melalui surat keputusan nomor: 188.4/31/DPK/2012 tanggal 1 Februari 2012, dalam perkara ini telah melakukan perbuatan secara bersama-sama telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan, secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dikatakan dalam dakwaan bahwa perbuatan saksi Kartino selaku PPK dan saksi Yudhi Irfani (pejabat pengadaan) setidak-tidaknya telah memperkaya terdakwa Hambali karena dalam pengadaan pupuk organik tersebut terdakwa Kartino selaku PPK tidak mengendalikan pelaksanaan kontrak sebagaimana mestinya, sehingga pekerjaan yang dilakukan oleht terdakwa Hambali tidak selesai seluruhnya pada waktu yang telah ditetapkan serta tidak sesuai spesifikasinya baik berdasarkan peraturan yang
berlaku yaitu peraturan menteri pertanian nomor 70/permentan/S.R.140/10/2011 maupun dengan yang perjanjian dalam kontrak, namun terdakwa Hambali telah menerima pembayaran sebesar Rp 100 persen dengan total Rp 3.309.600.000.

Perbuatan para terdakwa tersebut menurut jaksa penuntut Sarpin saat membacakan dakwaan telah merugikan keuangan negara  atau perekonomian Negara sebagaimana laporan hasil audit badan pemeriksa keuangan dan pembangunan dengan nomor SR-145/PW29/1/2016  tanggal 28
Maret 2016 sebesar Rp 1.225.844.098.

Adapun rincian sebagai berikut: jumlah pembayaran bersih yang diterima CV Dwinda Chantika Utama Rp 3.309.600.000 dikurangi jumlah biaya ril yang dikeluarkan CV Dwinda Chantika Utama 2.083.755.902  berjumlah total kerugian Negara Rp 1.225.844.098.

Sementara itu 3 terdakwa itu sejak tanggal 5 April  2016 oleh penyidik Tipidkor Polda Bangka Belitung sudah dilakukan penahanan. Hingga kini baik jaksa penuntut maupun majelis hakim tidak melakukan penahanan luar pada para terdakwa. Dengan begitu ke 3 terdakwa masih dithan di sel tahanan lapas
Tuatunu Pangkalpinang hingga saat ini.(man)

 

Pos terkait