Mengapa Notaris Islamsyah Keluarkan Dua Surat Isinya Bertentangan?

  • Whatsapp
balok-hablawi-halaman-1
Balok Hablawi ketika menerima surat dari notaris M Islamsyah

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM- Notaris M Islamsyah Arifin yang kantornya beralamat di Jalan KH Abdul Hadi, Kebon Jahe, Serang, Banten mengeluarkan surat keterangan yang isinya diduha bertentangan, terkait jual beli tanah milik Sakirah di Desa Pulo Panjang, Serang, Banten.

Surat pertama terungkap saat ahli waris dari Sakirah, Balok Hablawi ingin menjual tanahnya, Notaris Islamsyah menolak menandatangani surat Akta Jual Beli  (AJB).

Awalnya dia meminta ahli waris dan pembeli menyediakan uang Rp 360 juta. Tapi karena ahli waris keberatan dia meminta 10 % dari Rp 360 juta baru AJB ditandatangani, dan ahli waris baru diberikan kopi AJB, setelah lunas Rp 360 juta barulah AJB asli diberikan.

Belakangan, setelah ahli waris keberatan, dia mengeluarkan surat resmi No. : 851/MI/ PPATY- Not/VIII/16, tertanggal 25 Agustus 2016. Isi surat tersebut menerangkan bahwa tanah milik adat seluas kurang lebih 60.000 meter persegi persil 10 Blok Nyamplung atas nama Sakirah terletak di Desa Pulo Panjang, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang telah dijual kepada Sutomo, kemudian dijual lagi oleh Sutomo kepada PT Abhaya Indonesia Energi (PT AIE).

Terang saja, Balok Hablawi yang menerima kuasa dari 17 ahli waris lainnya menjadi kaget. Soalnya tanahnya itu tidak pernah dijual kepada Sutomo.

Lagi pula AJB yang dimohonkan oleh Hablawi adalah tanah sisa soalnya dari persil 10 kohir 218 luas tanah seluruhnya adalah 7.086 meter persegi tidak termasuk dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh Islamsyah yang menyebut 60.000 meter persegi sudah dijual kepada Sutomo.

Menurut Balok Hablawi, pada tahun 1986 Sakirah menggadaikan tanah kepada Sutomo. Tahun 1996 Sakirah meninggal dunia, dan tahun 1998 para ahli waris meminta uang tambah gadai kepada Sutomo. Pada tahun 2014 para ahli waris menyerahkan dana Rp80 juta untuk menebus tanah kepada Sutomo, tapi ditolaknya dengan alasan tanah itu sudah dijual Sutomo kepada PT Abhaya.

Barulah terungkap ternyata, diduga Sutomo membuat AJB palsu, yang intinya seolah menyebut salah satu ahli waris yakni Mastal telah menjual tanah kepada Sutomo dengan AJBG No. 320/JB/24/IV/2000.

Merasa tandatangannya dipalsukan, Mastal kemudian melapor ke Polda Banten. Awalnya, beberapa saksi diperiksa, termasuk mantan Camat Kesemen (sekarang Pulo Ampel) Wagijo.

Dalam keterangan tertulis diperoleh Amunisi,  Wagijo menyatakan bahwa dia selaku camat/PPAT tidak pernah tandatangani  AJB No. 320/JB/24/IV/2000 yang dibuat Sabtu 24 April 2000 oleh yang mengatas namakan Mastal sebagai penjual dan Sutomo sebagai pembeli atas tanah seluas 6 hektar.

Wagijo menjelaskan AJB itu bukan produk kecamatan karena format AJB untuk pengetikan berbeda dengan AJB yang dibuat tahun 2000. Register penomoran formatnya  berbeda seperti halnya tercatat 320/JB/24/IV/2000 di AJB yang lain yang pembuatannya sama secara resmi tahun 2000 tercatat 320/2000.

Selain itu, kata Wagijo, stempel juga berbeda dengan stempel PPAT kecamatan yang berlaku pada tahun 2000. Tanda tangan camat juga diduga dipalsukan karena tarikan tanda tangan tidak sama.

Pada tanggal pembuatan disebut hari Sabtu tanggal 24 April 2000 padahal tanggal 24 April 2000 jatuh pada hari Senin, bukan Sabtu. “AJB No. 320/JB/24/IV/2000 tidak tercatat di kantor Kecamatan Kesamen dan tidak ada arsip dengan nomor itu,” kata H Wagijo dalam surat keterangannya tertanggal 18 Juni 2015, yang diketahui oleh Kades Pulo Panjang Amirudin dan Camat Kesamen Drs Subagyo, Msi.

Padahal berbekal AJB palsu itu sudah terjadi transaksi jual beli tanah antara Sutomo dan PT AIE, diduga dilakukan di kantor M Islamsyah, dengan nilai transaksi Rp 1,8 miliar.

Ini aneh, diduga M Islamsyah mengetahui AJB tersebut tidak benar tapi membiarkan traksaksi itu terjadi. Jika dugaan ini benar Islamyah menyalahi wewenangnya sebagai notaris. Hal ini perlu didalami.

Terungkap pula, ketika proses penyidikan AJB palsu itu berjalan di Polda Banten, ternyata pada tanggal 26 Oktober 2015 notaris M Islamsyah mengeluarkan surat resmi Nomor 791/MI/Not/X/15, yang isinya menyebut dia tidak pernah mengesahkan akta jual beli terhadap transaksi ganti rugi tanah seluas lebih kurang 60.000 meter persegi antara Sutomo bin Masduki dengan PT Abhaya Indonesia Energi, yang letaknya di persil No,. 10 Blok Nyamplung, Desa Pulo Panjang, Serang dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, dasar kepemilikan tanah yang digunakan oleh Sutomo bin Masduki yaitu akte jual beli 320/JB/24/IV/2000 tanggal 24 April 2000 yang dibuat dihadapan Drs Wgijo, Kepala kecamatan Kasemen selaku PPAT ternyata tidak diakui oleh Drs Wagijo.

Kedua, tentang pemilikan tanahynya dan terhadap satus AJB320/JB/24/IV/2000 tanggal 24 April 2000 sedang menjadi masalah hukum dan dimediasikan melalui Reskrimum Polda Banten.

Surat notaris Islamsyah ini bertolak belakang dengan surat yang dibuat ketika dia menolak menandatangani AJB yang dimohonkan Balok Bablawi yakni surat notaris No. : 851/MI/ PPATY- Not/VIII/16, tertanggal 25 Agustus 2016. Isi surat tersebut menerangkan bahwa tanah milik adat seluas kurang lebih 60.000 meter persegi persil 10 Blok Nyamplung atas nama Sakirah terletak di Desa Pulo Panjang, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang telah dijual kepada Sutomo, kemudian dijual lagi kepada PT Abhaya Indonesia Energi (PT AIE).

“Kapan kami menjual tanah itu kepada Sutomo?,” tanya Balok heran. Jika disebut sudah dijual oleh Sutomo kepada PT AIE, dari mana ada AJB antara ahli waris dan Sutomo?

Jika mengacu pada surat notaris No Nomor 791/MI/Not/X/15, tanah atas nama Sakirah kohir 218 dinyatakan transaksinya antara Sutomo dan PT Abhaya tidak sah karena Sutomo diduga menggunakan AJB palsu. Jadi tanah itu tidak bermasalah. “Lalu, mengapa hanya karena kami tak menyetor uang Rp 360 juta notaris tak mau tanda tangan AJB. Ada apa ini?” tanya Balok Hablawi.

Terkait masalah ini, ahli waris akan mengadukan hal ini kepada Asosiasi Notaris Indonesia, dengan harapan organisasi induk para notaris itu dapat membantu menyelesaikan masalahnya.

Soal mengapa Islamsyah tak mau menandatangani AJB pernah dikonfirmasi oleh Amunisi, dijawab dia hanya mau melayani AJB yang tanahnya hanya dijual kepada PT Abhaya. (tim)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *