Pabrik Criping Dekat Pemukiman, Warga Desa Cakura Keluhkan

  • Whatsapp

Oleh : Hamzar Siriwa

Kendaraan bertonase besar adalah armada pabrik.

TAKALAR, AMUNISINEWS.CO.ID – Keberadaan pabrik batu olahan Criping di Desa Cakura yang letaknya dinilai terlalu dekat dari tempat pemukiman, dikeluh resahkan oleh warga Desa setempat.

Kades Cakura Kec. Polongbangkeng selatan Kab.Takalar Sulsel, Ardiansyah saat ditemui awak Media ini di salah satu rumah wargan pada Selasa, 9 Oktober 2018 mengaku, kalau kekayaan Desanya berupa pasir dan batu kali, diduga habis dicuri oleh pihak PT Karya Pare Sehatera (KPS).

Industri pengolahan batu menjadi criping di Dusun Buakanga diduga milik Fery (warga nonpri) dan sejak beroperasi beberapa bulan lalu tahun ini, keberadaannya dinilai sangat resahkan warga Dusun Buakanga, karena letak pabrik tersebut, hanya kurang lebih 500 m dari pemukiman warga.

Sejumlah warga bersama Kades cakura, Ardiansyah S.Pd mengakui kalau keberadaan industri sangat mengganggu ketenangan warga, terlebih dimalam hari akibat dari kebisingannya sampai radius dua kilo meter.

Kata warga, Selain gangguan kebisingan pabrik, juga kendaraan mobil besar milik perusahaan yang lalu lalang keluar masuk mengambil material criping dan campuran beton yang diangkut oleh mobil molen yang sangat berdampak menimbulkan debu dan merusak infrastruktur jalan, membikin retak dinding tembok rumah warga akibat getaran kendaraan besar itu.

Karena selain abu criping yang beterbangan diterpa angin, juga debu jalanan yang bisa dibayangkan besarnya akibatkan gangguan, dinilai sangat berpotensi mendatangkan penyakit.

Warga mengatakan, bahwa mesin pabrik beroperasi rata rata dimalam hari, sehingga warga merasa sulit untuk istirahat.

Warga  juga soroti penempatan lokasi Tambang yang dianggap tidak strategis, karena mobil raksasa milik perusahaan yang  lalualang ke jalanan perkampungan menuju pabrik tersebut kecil hingga angkutan masyarakat sangat sulit lewat bila berpapasan dengan mobil besar milik perusahaan tersebut.

Sejalan dengan itu, Kades Ardiansyah menyebutkan, selain gangguan yang dikeluhkan warga, juga penempatan industri diduga kuat diluar mekamisme yang berlaku, karena setiap penempatan industri di Desa, biasanya diproses izinnya melalui pemerintah setempat, tetapi industri ini yang pemiliknya diduga warga tidak prosedural.

“Kenapa saya katakan habis dicuri, karena pasir yang terdapat di kali itu habis di ambil oleh perusahaan. Sementara posisi kali tersebut tidak masuk lahan olahannya, sungai atau kali itu milik negara yang tidak bisa diolah dijadikan keuntungan pribadi”. Kata Ardiansyah.

Sementara pengawas perusahaan, Najib saat dikonfirmasi via ponselnya (09/10) mengaku telah memiliki izin, dan juga pasir serta batu kali itu dibeli dari warga setempat. Akunya.

 

Pos terkait