Pemasangan Sasi di Gereja Berakhir Ricuh

  • Whatsapp

image

TUAL, AMUNISINEWS.COM – Ketua Majelis Jemaat Gereja Kristen Protestan Maluku Tenggara Raya (GKP-MTR), Pdt Ny. A.K.Koedoeboen / Nickiulu.S.Th. M.Th  menyampaikan bahwa pada saat pelaksanaan ibadah pergumulan malam yang berlangsung di rumah “doa” pukul 09:00-10:30 wit berakhir ricuh.
Malam itu aparat yang sedang melaksanakan patroli  menghampiri rumah doa, yakni mereka menyampaikan bahwa ada laporan dan permintaan dari Kepala Desa Taar, Tokoh Agama dan Tokoh Pemudah untuk menghentikan semua aktivitas pendirian bagunan Bina Diri Umat sekaligus dengan rumah doa.

Hal ini dikatakan, Ketua Majelis Jemaat Pdt.Ny.A.K.Koedoeboen / Nickiulu.S.Th. M.Th, Gereja Kristen Protestan Maluku Tenggara Raya (GKP-MTR), kepada wartawan AmunisiNews Rabu (25/01), saat di temui pecan kemarin.

Ny. A.K. Koedoeboen / Nickiulu. S.Th. M.Th mengatakan, bahwa menyikapi hal itu, pihak gereja berupaya untuk menyurati Kapolres, Pemerintah Walikota Tual secara khusus Pimpinan Sat Pol-PP Kota Tual.

“Sejauh ini, kami juga berupaya untuk terus membangun kordinasi langsung dengan koordinator wilayah dalam hal ini Pemerintah Kota Tual, yakni berkoordinasi hanya untuk melakukan aktifitas pembagunan,’ katanya.

Ketika anggota jemaat yang sementara melaksanakan untuk mendirikan tiang-tiang bangunan, kurang lebih pukul 09:00 pagi peristiwa itu terjadi. Seorang anggota jemaat Mandiri yang mengatakan bahwa basudara kami dari desa Taar sudah datang dan langsung dinakhodai oleh Kepala Desa yang bertujuan untuk pemasangan Hawear (sasi),” katanya

Luas tanah 2488 m2 ( dua ribu empat ratus delapan puluh depan meter persegi ), atas nama Jacob.Hukubun selaku pemilik tanah yang memiliki sertifikat, dia menyampaikan bahwa tanah ini bukan tanah bebas tetapi melainkan tanah ini sudah dibeli dan memiliki sertifikat.

Menurut Pdt Ny.A.K, bahwa Anak adat pasti beradat, kondisi yang terjadi seperti tadi dan sesuai dengan pengamatannya bahwa kedatangan kepala desa Taar bersama-sama dengan masa yang begitu banyak mengundang reaksi.

Kedatangan warga taar yang langsung dinakhodai kepala desa sempat juga dihalang-halangi, Ketua Majelis jemaat sempat mengatakan bahwa  mengapa sampai harus melakukan ini semua, tetapi masa tetap bersikeras untuk tetap melakukan Pemasangan Hawear (sasi).

Ketua Mejelis jemaat mandiri tetap berupaya mencoba untuk mengendalikan situasi sehinga konflik tidak berkepanjangan dan berupaya untuk menenangkan umat sehinga tidak terpancing dalam situasi apapun. “Kita tetap diam, sambil menantikan pemilik tanah ini yang mengatakan bahwa kami sudah memiliki sertifikat tanah,” katanya.

Tetapi pada kenyataan-nya, katanya,  mereka tidak mau untuk mendengarkan penjelasan kami, yakni karena masa diduga dirasuki oleh minuman keras dan mereka pada saat itu kelihatan sangat beringas.

Lebih lanjut, tiang-tiang yang nanti-nya akan dijadikan untuk mendirikan tempat beribadah-pun dibongkar masa dan kursi yang selalu digunakan untuk beribadah-pun juga ikut dirusaki.

Ketua Mejelis jemaat mandiri mempertanyakan bahwa seandainya ini tanah “pertuanan adat Taar”, adakah sesuatu hal yang  justru perlu untuk dimaknai dari pernyataan itu. “Kami sangat memahami tanah ini, tanah pertuanan tetapi sudah dijual dan bersirtifikat,” tegasnya

“Aktifitas peribadatan sesuai dengan ketentuan negara kami telah penuhi hal itu. Minta persetujuan tanda tangan dan ijin tempat, dan selama ini kami telah kondisikan dan justru tidak ada sesuatu yang menentang,” tambahnya.

Harapan Ketua Majelis Jemaat mandiri, mereka jangan  jadi orang asing di negeri sendiri, negeri ini yang kaya nilai-nilai. “Jangan biarkan kami terus seperti ini, kami sangat membutuhkan perlakukan hak yang sama, dan “Stop Pembodohan Terstruktur, dan jangan biarkan kami terus diadu di negeri sendiri,”  ujarnya (FP-19).

editor: hendra usmaya

Pos terkait