Polda Babel akan Lidik Proyek Talud Pemecah Gelombang Bermasalah

  • Whatsapp

 

img-20170110-wa0026PANGKALPINANG, AMUNISINEWS.COM—Direktur Kriminal Khusus ( Dirkrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung Kombes Mukti Juharsa atas seijin Kapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjend Pol Anton Wahono akan menyelidiki Proyek Talud Pemecah Gelombang yang terletak di Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat yang diduga bermasalah.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kombes Mukti Juharsa melalui WA pada hari Senin (9/1/2017) sekitar jam 3.00 sore kepada amunisinews.com terkait Proyek Talud Pemecah Gelombang di Desa Pusuk bersumber dari dana APBD 2015 yang diduga bermasalah.

” Kami akan lidik,” tulis Kombes Mukti di WAnya

Proyek Talud tersebutdikerjakan oleh rekanan Dinas PUPR Kabupaten Bangka Barat dari CV Lintas Persada dengan Nilai kontrak Rp.524.414.000,-

Diketahui sebelumnya berdasarkan pantauan wartawan di lapangan pada Rabu (04/1/2017) bahwa diduga proyek Talud Pemecah Gelombang itu dikerjakan tidak disesuai dengan perancanaan awal dan Rencana Anggaran Biaya. Seperti ditemukan pada Tanggal Kontrak proyek itu tanggal tertera pada 1 Juli 2015, dengan masa pelaksanaan selama 150 hari kelender.

Informasi awal, pada perencanaan awal ketinggian seharusnya mencapai 2,10 meter dan panjang 50 meter, dengan susunan kedalam dasar tanah dua unit gorong-gorong. Setiap unit gorong-gorong dengan tinggi 50 CM, dan berdiameter 100 CM.

Namun fakta di lapangan ditemukan susunan satu unit gorong-gorong pun tidak Full masuknya ke dalam dasar tanah, sehingga tingginya berubah menjadi 1,8 meter, berarti ada kekurangan volume sebanyak 30 cm dari perencanaan awal.

Kemudian panjangnya pun berubah dari rencana awal yang seharusnya 50 meter, berubah hingga menjadi 61 meter. Artinya untuk ukuran panjang ada kelebihan 11 meter dari ukuran awalnya.

Ukuran volume ketingian terpantau memang berkurang, namun panjangnya lebih dari perencanaan semula. Selain itu, juga proses pengecoran didalam satu unit gorong-gorong tersebut seharusnya mengunakan material coran yang full.

Namun ditemukan faktanya, ada sebagian lobang gorong-gorong sudah terisi dengan pecahan material gorong-gorong itu sendiri, dan juga ada yang diisi dengan material batu yang berada disekitar lokasi tersebut.

Info yang didapatkan pada saat pengerjaan, dikabarkan sempat terjadi ketegangan di lapangan antara pelaksana proyek dengan dinas terkait, sehingga kegiatannya sempat terhenti hingga beberapa hari.

Hal tersebut patut diduga, lantaran pelaksanaannya tidak sesuai dari perencanaan awal, dikarenakan banyaknya hamparan material batu dilokasi proyek tersebut. Namun setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, akhirnya pekerjaan kembali dilanjutkan.

“Pengerjaan proyek itu terkesan tidak sesuai perencanaan awal, atau pada saat perencanaan tanpa disurvei terlebih dahulu kondisi dilapangan seperti apa? Sehingga ada dugaan proyek tersebut bermasalah. Sebagai masyarakat disini, kami berharap kegiatan proyek ini agar diperiksa oleh pihak penegak hukum,” ungkap sumber media ini, yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Sangat disayangkan sampai berita kedua ini dimuat pihak Dinas PUPR Kabupaten Bangka Barat, masih belum berhasil dikonfirmasi walau sudah diupayakan berkali kali dihubungi via pesan singkat kepada Kepala Dinas IR Suharli serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).(romli/herman)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *