PPTK Paket Pengadaan Makan Minum Pasien di RSJ Sungailiat dr.Ria Bungkam

  • Whatsapp

Oleh Robi

SUNGAILIAT,AMUNISINEWS.CO.ID—  PPTK Anggaran Paket Pengadaan Barang (makan dan minum pasien) di Rumah Sakit Jiwa Sungailiat kabupaten Bangka sejak Tahun Anggaran 2015 sejumlah Rp 1.157.250.000,- Oleh CV. Sinergi Prima dan tahun 2016 sebesar Rp1.134.802.650,00 APBD tahun 2016 oleh CV BERKAT SEJAHTERA Serta tahun 2017 dana Rp.974.411.850,00 oleh CV.Qaishar dr.Ria terkesan diam saat dikonfirmasi via pesan Wa olehamunisinews.co.id sejak Selasa siang (29/11/2017).

Padahal pesan yang dikirimkan oleh amunisinews.co.id sangat jelas dan itu juga sudah atas persetujuan Zulkifli melalui pesan WA pada Senin (28/11),

“Mohon maaf sebelumnya permasahan ini tolong konfermasikan ke pptknya supaya tidak terjadi salah informasi di kemudian harim”  tulis Zulkifli melalui pesan WA

Menanggapai hal tersebut, Ketua LSM Gebrak Babel Suherman Saleh merasa ada yang kurang beres terhadap paket pengadaan itu, karena kalau dalam pelaksanaan paket pengadaan itu tidak ditemukan indikasi Mark Up mengapa pihak PPTK terkesan diam?

“jJka memang dalam pengadaan paket pengadaan itu tidak ada penyimpangan dana, mengapa mereka diam?”, tanya herman ke amunisinews.co.id Rabu (30/11) di Sungailiat.

Masih menurut Herman, semestinya pihak PPTK RSJ Prov.Sungailiat mengundang wartawan dan LSM untuk melihat dokumen pengadaan tersebut dan memberikan copynya karena badan publik harus tunduk pada Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik,

“Mereka harus mengundang kita untuk melihat dan memberikan copynya karena sebagai badan publik, mereka harus tunduk kepada Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik karena dalam Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik adalah salah satu produk hukum Indonesia yang dikeluarkan dalam tahun 2008 dan diundangkan pada tanggal 30 April 2008 dan mulai berlaku dua tahun setelah diundangkan,” tuturnya.

Diketahui kasus ini mencuat setelah LSM Gebrak Babel mendapat laporan salah satu warga Sungaikiat berinisial RM yang mengirimkan Surat Konfirmasi Publik kepada pihak RSJ Sungailiat yang sampai sekarang belum dijawab padahal surat itu dikirimkan sudah setahun yang lalu,

“Saya sudah setahun mengirim surat konfirmasi publik dan sudah diterima mereka ada bukti penerimaan suratnya, tetapi sampai sekarang tidak dijawabm,”kata Herman Ketua LSM Gebrak Babel menirukan perkataan RM.

Kemudian Ketua LSM Gebrak Babel  mempertanyakan juga mengapa setelah pihak RSJ Sungailiat menerima surat konfirmasi publik dari RM pada tahun 2016, anggaran pe ngadaan makan minum pasien untuk tahun 2017 malahlebih kecil padahal jumlah pasien bertambah dan harga barang barang kebutuhan makan minum lebih mahal dari tahun sebelumnya,

“Saya heran dengan pihak RSJ Sungailiat, mengapa setelah mereka menerima surat dari saudara RM pada tahun2016, anggaran makan minum pasien ditahun 2017 malah lebih kecil padahal pada tahun 2017 harga barang barang makanan dan minuman lebih mahal dari tahun 2915 dan tahun 2016,” tutur Herman.

Masih menurut LSM Gebrak Babel, kalau kita mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 715/Menkes/SK/V/2003 tentang Prasyarat Kesehatan Jasa Boga

disebutkan bahwa prasyarat yang dimiliki jasa boga untuk golongan B termasuk Rumah Sakit yaitu :
a. Telah terdaftar pada Dinas Kesehatan Propinsi setempat
b. Telah mendapat ijin Penyehatan Makanan Golongan B dan
memiliki tenaga Ahli Gizi/Dietisien
c. Pengusaha telah memiliki sertifikat kursus Penyehatan Makanan
d. Semua karyawan memiliki sertifikat kursus Penyehatan Makanan
e. Semua karyawan bebas penyakit menular dan bersih, berarti kontraktor yang mendapat paket pengadaan itu harus mempunyai syarat seperti diatas,

” Kalau kita mengacu kepada peraturan Menkes RI , kontraktor yang mendapat paket pengadaan itu tidak sembarangan kontraktor, sedangkan selama ini kita tidak pernah tahu bagaimana kreteria kontraktor yang memenangkan paket pengadaan makan dan minum pasien karena pihak RSJ Sungailiat sangat tertutup dan baik LSM ataupun wartawan sangat sulit untuk mendapatkan informasi mengenai hal tersebut”, katanya lagi.

Sementara itu salah satu Direktur RSJ Sungailiat Zulfikar mengaku tidak ada hubungannya dengan permasalahan dugaan Mark Up anggaran pengadaan makan dan minum pasien di RSJ Sungailiat tersebut setelah dikonfirmasi melalui pesan WA pada Saptu (25/11),

“Mohon maaf sepengetahuan kami tidak ada hubungannya dengan yang dimaksudkan bapak,” tulisnya dalam pesan tersebut.

Editor Hendra Usmaya

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *