Presiden RI Joko Widodo, Menabur Damai di Negeri Konflik

Oleh : Budi Setiawan

KH As’ad Said Ali

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID – KH. As’ad Said Ali, yang pernah menjabat wakil ketua PBNU, dan mantan Wakil Badan Intelejen Negara (BIN) di era Presiden Gusdur (Alm). mengatakan, jauh sebelum zaman penjajahan, sejarah Afghanistan telah ditetapkan secara geopolitik, mulanya sebagai zona penyangga antar kekaisaran yang saling memperolok, lalu sebagai titik benturan antara kekuatan-kekuatan global yang bersaing.

Tapi apakah para pemimpin Afghan masa itu tak punya pilihan selain menerima peran penyangga geopolitik yang dikenakan pada mereka? Tak mengejutkan, ada perpecahan pendapat soal poin ini. Satu aliran pemikiran berargumen bahwa Afghanistan memang berada dibawah kekuasaan dua kekaisaran yang hampir berbenturan, sementara pemikiran lain mengklaim bahwa para pemimpin Afghan sengaja memilih isolasi sebagai kebijakan yang paling melayani kepentingan masyarakat mereka.

Faktanya, kedua argumen ini, tekanan domestik dan itikad domestik, tidak harus saling bertentangan. Tapi yang jelas, peran geopolitik Afghanistan sebagai zona penyangga sepertinya melayani kepentingan lokal dengan relatif baik,
Afghanistan adalah sebagai zona negatif di mana kekuatan-kekuatan eksternal berintrik tapi merasa kesulitan menanam pengaruh.
Dalam pengertian tersebut, Afghanistan mungkin kehilangan reputasi meragukan sebagai negara penyangga dalam konteks “great game” Inggris-Rusia, tapi kini mungkin terjebak dalam kondisi stagnasi di mana ia sampai hari ini  masih memisahkan diri dari masyarakat internasional.

Di Afghanistan semula hanya ada tujuh suku, karena dua suku bertikai, satu ajak kawan dari luar dan satunya juga demikian, maka perang selama lebih dari 25 tahun pun tak kunjung selesai. “Presiden yang sekarang, 23 tahun hidup di pengasingan di luar negeri,” kata KH. As’ad Said Ali.

Pada mulanya Konflik di Afganistan dilandasi oleh aliran-aliran yang bertikai. Namun hari ini bukan lagi konflik antar aliran dalam Islam, melainkan merupakan konflik yang dilandasi konsepsi jihad yang saling berbenturan.

KH. As’ad Said Ali, menjelaskan kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Afghanistan ini merupakan kunjungan kedua Presiden RI ke negara di Timur Tengah itu. Sebelumnya, kunjungan kenegaraan pernah pula dilakukan Presiden RI pertama yakni Soekarno pada tahun 1961.

Rencananya Presiden Joko Widodo  akan mengundang perwakilan 40 kelompok di Afghanistan yang bertikai ke Indonesia untuk membahas upaya perdamaian dan persatuan.

Indonesia akan menunjukkan bahwa keberagaman bisa hidup bersama berdampingan. “Sebanyak 714 suku dengan keragaman bahasa dan budaya bersatu dalam bingkai NKRI,” tegas KH. As”ad Said Ali.kepada jurnalis, Selasa, (30/1/18) di Jakarta Selatan.

Saat ini pemikiran Islam moderat juga sudah mulai tumbuh di Afganistan. Bahkan sudah mulai menyebar di banyak provinsi di Afganistan. Dengan berkembangnya pemikiran Islam moderat di Afganistan, tentu kita berharap bisa mempercepat proses perdamaiam dan persatuan di Afganistan.

Sulit untuk mencari negara terutama di kawasan Timur Tengah menjadi mediator mendamaikan konflik di Afganistan. Sebagai negara non blok dan mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, mungkin Indonesia yang bisa mengakhiri konflik di Afganistan.

Indonesia saat ini merupakan satu-satunya negara yang pantas menjadi pilot projek peradaban yang selaras dengan madinatul munawaroh yang digagas Nabi Muhammad Saw 16 abad yang lalu. Dan Indonesia akan menjadi tempat yang baik untuk bertumbuhnya peradaban Islam yang damai.

 

 

editor: maliki hd

 

(Visited 27 times, 1 visits today)
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *