Profesor Pelaku Penamparan Tak Hadiri Undangan Klarifikasi Polisi

Oleh Tim

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID- Kasus penamparan oleh  Ketua Lambaga Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (LN-PKRI)  Irwannur Latubual (IL) yang bergelar profesor, terus berlanjut. Pada Senin (20/5) kemarin terlapor diundang klarifikasi tapi tidak hadir. Begitu juga pada Selasa (21/5).

Salah satu anggota penyidik yang ditemui Amunisinews mengatakan terlapor sedang sibuk di Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Dia memberi kabar  akan hadir pada Rabu (22/5),” kata seorang penyidik.

Kendati tak dua kali tak bisa hadir terlapor tidak bisa dijemput paksa karena kasus penamparan ini adalah kasus tindak pidana ringan. Pemanggilan kemarin sifatnya hanya undangan klarifikasi yang kasusnya akan segera disidsangkan di pengadilan.

Sementara itu, korban Deny Saleh telah menunjuk lawyer untuk membantu proses hukum kasusnya. Lawyer yang ditunjuk adalah Budi Suranto Bangun, Komarudin dan Tony Budianto.

Budi Suranto yang dihubungi mengatakan kasusnya memang langsung bisa disidangkan di pdengadilan karena termasuk dalam tindak pidana ringan.
“Tapi bila pengadilan memutus bersalah dan memerintahkan terlapor ditahan,maka bisa saja ditahan,” ungkapnya.

Yang pasti, kata Budi, penerapan pasal yang sejak awal pelaporan yang lemah, Padahal, bisa saja terlapor dikenakan pasal penganiayaan karena secara psikis, korban sangat menderita dan menanggung beban yang berat.

Dalam kasus ini penyifik sudah memintai keterangan terlapor dan dua saksi lainnya, termasuk meneliti rekaman Closed Circuit Television (CCTC) kasus penamparan pekerja Asosiasi Pengelola CSR Republik Indonesia (APCRI) itu.

Seperti diberitakan korban Deny melapor pada Kamis (9/5) dan menyerahkan rekaman CCTV pada penyidik.  Laporan tercatat dengan nomor LP No.782/K/V/2019/RESTRO JAKPUS

“Bukti rekaman itu sudah saya serahkan,” kata Deny di Polres Jakarta Pusat usai dia di BAP pada Senin (6/5). Rekaman inilah yang nantinya akan mengungkap benarkah terjadi penamparan yang membuat pipi bagian kanan Deny memar.

Kejadian penamparan berlangsung kantor LN-PKRI yang juga kantor APCRI dilantai 12- A Menera Era di kawasan Senen,Jakarta Pusat. Akibat perbuatan IL, korban mengalami memar di wajahnya. Korban sudah minta visum ke dokter RS.

Kronologis kejadian,  pemukulan bermula dia dan terlapor awalnya sama-sama berjalan di dalam kantor.”Saya menyapa dengan sopan akan tetapi Pak Irwannur menanyakan kenapa saya minta data dari anak buahnya, lalu marah-marah dan menampar saya,”ujar Deny.

Padahal saat itu, kata Deny dia sudah tanya data yang mana, tapi Prof terus saja menyerangnya menggunakan tangan kiri. Profesor juga mengumpat,”Dasar anjing urus saja pekerjaanmu,”.

“Saya menjadi bingung dan shock untungnya ada keamanan Pak Ketum yang melerai,” ujar Deny.

Deny menduga data yang dimaksud adalah data laporan harian yang sebelum dia masuk kerja di APCRI dan berharap kasusnya dapat diproses demi keadilan meskipun polisi hanya mengenakan pasal penganiayaan ringan dan penghinaan ringan.

Hingga Selasa kemarin Deny belum bisa masuk kantor karena masih menderita trauma mendalam. “Ini baru pertama kali saya mengalami tindak kekerasan. Saya trauma,” katanya kepada Amunisi.

 

21 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Irlan Suharlan : Secara Normatif Kades Tidak Boleh Melaksanakan Pekerjaan Infrastruktur

Sel Mei 21 , 2019
Oleh Asep Sukmana KARAWANG, AMUNISINEWS.CO.ID – Irlan Suharlan Camat Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawan menerangkan (21/05/19). Panitia Pembangunan harus difungsikan,saat pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur. Kalau di tingkat desa seperti LPM atau Kasie ekonomi pembangunan (Ekbang). Namun ketika lembaga tersebut tidak berfungsi maka kepala desa dapat mengambil alih pekerjaan dengan membentuk paitia […]