Provokator Kacaukan Pengembalian Batas Tanah Di Ds Mandaya Banten

  • Whatsapp

Oleh : Rukmana Fadli

Suasana saat di Pos Kamling

SERANG, AMUNISI – Kesadaran masyarakat terhadap hak milik orang lain di Desa Mandaya, Kec.Carenang, Serang Banten masih lemah.  Tanah bersertifikat seluas 6670 M2 atas nama Yusron Effendi di Desa Mandaya, Carenang, Serang-Banten tak produktif selama kurun waktu 20 th, tanah ini ditinggalkan pemiliknya ke perantauan, tanah ini pun sempat diagunkan ke Bank Mandiri untuk pinjaman Uang dan diterima.

Dan kini sertifikat tanah tersebut sudah ditebus oleh pemiliknya, mengingat usianya sudah 76 th,Yusron merasa perlu mengurus tanahnya guna kepentingan putera puterinya kelak, maka ia pun berinisiatif menjual tanah miliknya itu, namun, usahanya selalu gagal, pasalnya, ada provokator yang mempengaruhi setiap calon pembeli yang datang ke lokasi guna melihat obyek tanah.

Awalnya Yusron tidak percaya dengan rumor adanya provokator tersebut, dan rumor tersebut menjadi kenyataan saat petugas resmi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Rudiyat melakukan pengukuran untuk menentukan dan mengembalikan batas – batas tanah milik Yusron seluas 6670 M mendapatkan tudingan dari warga Desa Panenjoan, Serang, Banten bahwa: tanah milik Yusron tersebut rancu, (tidak jelas). padahal, berdasarkan peta rincik BPN, Leter C Desa Mandaya, tanah dengan SHM.No.066.Blok Kisatip Kp.Watgalih – Ds.Mandaya- Kec.Carenang-Kab.Serang ini tertera nama pemiliknya Yusron Effendi dengan Luas:6670.m2 tertera pada SPPT No.002.0080.0.

Tanah seluas 6670 M2 milik Yusron Effendi tersebut sudah banyak yang mau membeli, namun karena N inisial si mulut berbisa selalu mengatakan tanah tersebut tanah rancu, maka hingga kini tanah tersebut belum laku dijual.

Menurut N yang berprofesi guru ini mengatakan tanah tersebut adalah tanah rancu, ini dikatakan oleh N dihadapan pemilik tanah Yusron Effendi, Kanit Binmas Polsek Carenang Iptu Oni Syahroni, Rudiyat petugas ukur dari BPN Serang dan puluhan warga Desa Panenjoan dan warga Desa Mandaya setelah pengukuran untuk pengembalian batas tanah sukses dilakukan oleh petugas ukur BPN Serang, Rudiyat Rabu (26/09/2018).

“tanah ini masih rancu, belum jelas asal usulnya, jadi saya tidak mau tanda tangan saksi atas batas yang ditentukan,” ucap N pada Rabu 26/09/18 di Pos Kamling sudut tanah Yusron Effendi sambil pergi meninggalkan Rudiyat.

Tentu saja hal ini memicu Yusron berang,”anda seorang guru, kalau bicara itu harus logis, faktual, saya punya bukti sertifikat, kok beraninya anda mengatakan tanah saya tanah tidak jelas, tanah rancu, saya laporkan anda atas tuduhan tanpa dasar ini,” hardik Yusron. (kondisi sedikit tegang)

Dan sangat disayangkan, proses pengembalian batas tanah milik Yusron ini tidak dikawal, tidak diawasi oleh aparat desa Mandaya, ini sebuah keteledoran aparat Desa Mandaya, seharusnya, Kepala Desa ada ditempat lokasi dan melakukan pendekatan persuasif terhadap warga – warga yang tanahnya berbatasan dengan tanah H.Yusron seperti Nurdin, Pirda, dan Pangi, tapi apa yang terjadi, Kepala Desa Mandaya menugaskan Sekdesnya Halili, dan saat proses pengukuran Halili tidak mengikuti hingga selesai, apalagi turun ke lokasi tanah guna ikut menyaksikan proses pengembalian batas – batas tanah dan membantu BPN untuk persuasif kepada warga yang berbatasan tanahnya dengan tanah Yusron Efendi. Seandainya saja, ada aparat Desa yang mendampingi petugas BPN dalam proses pengembalian batas, maka kericuhan kecil itu pun tidak akan terjadi.

Terlihat Tupoksi selaku aparat Desa sangat tidak dijalankan dengan baik oleh Kepala Desa Mandaya, mengingat Aparat pemerintahan daerah/desa adalah sebagai pelayanan masyarakat.

 

Pos terkait