Proyek Talud Pemecah Gelombang Diduga Bermasalah

  • Whatsapp
talud0-herman-nasional
Proyek Talud Pemecah Gelombang di Desa Pucuk, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat

MUNTOK BABAR BABEL, AMUNISINEWS.COM—Proyek Talud pemecah gelombang yang terletak di Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat diduga bermasalah. Proyek yang bersumber dari dana APBD 2015 yang lalu itu dikerjakan oleh CV Lintas Persada dengan Nilai kontrak Rp.524.414.000,- dikerjakan oleh Dinas PUPR Kabupaten Bangka Barat.

Temuan di lapangan pada Rabu (04/1/2017) bahwa diduga proyek Talud Pemecah gelombang itu dikerjakan tidak disesuai dengan perancanaan awal dan Rencana Anggaran Biaya. Seperti ditemukan pada tanggal kontrak proyek itu tanggal tertera pada Juli 2015, dengan masa pelaksanaan selama 150 hari kelender.

Informasi awal, pada  perencanaan awal ketinggian seharusnya mencapai 2,10 meter dan panjang 50 meter, dengan susunan kedalam dasar tanah dua unit gorong-gorong. Setiap unit gorong-gorong dengan tinggi 50 CM, dan berdiameter 100 CM.

Namun fakta di lapangan ditemukan susunan satu unit gorong-gorong pun tidak full masuknya kedalam dasar tanah, sehingga tingginya berubah menjadi 1,8 meter, berarti ada kekurangan volume sebanyak 30 cm dari perencanaan awal.

Kemudian panjangnya pun berubah dari rencana awal yang seharusnya 50 meter, berubah hingga menjadi 61 meter. Artinya untuk ukuran panjang ada kelebihan 11 meter dari ukuran awalnya.

Ukuran volume ketingian terpantau memang berkurang, namun panjangnya lebih dari perencanaan semula. Selain itu, juga proses pengecoran didalam satu unit gorong-gorong tersebut seharusnya mengunakan material coran yang Full.

Namun ditemukan faktanya, ada sebagian lobang gorong-gorong sudah terisi dengan pecahan material gorong-gorong itu sendiri, dan juga ada yang diisi dengan material batu yang berada disekitar lokasi tersebut.

Info yang didapatkan pada saat pengerjaan, dikabarkan sempat terjadi ketegangan di lapangan antara pelaksana proyek dengan dinas terkait, sehingga kegiatannya sempat terhenti hingga beberapa hari.

Hal tersebut patut diduga, lantaran pelaksanaannya tidak sesuai dari perencanaan awal, dikarenakan banyaknya hamparan material batu di lokasi proyek tersebut. Namun setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, akhirnya pekerjaan kembali dilanjutkan.

 

“Pengerjaan proyek itu terkesan tidak sesuai perencanaan awal, atau pada saat perencanaan tanpa disurvei terlebih dahulu kondisi dilapangan seperti apa? Sehingga ada dugaan proyek tersebut bermasalah. Sebagai masyarakat disini, kami berharap kegiatan proyek ini agar diperiksa oleh pihak penegak hukum” ungkap sumber media ini, yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Sangat disayangkan sampai berita ini dimuat pihak Dinas PUPR Kabupaten Bangka Barat, belum berhasil dikonfirmasi walau sudah diupayakan berkali kali dihubungi via pesan singkat kepada Kepala Dinas IR Suharli serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).(romli/herman)

 

Pos terkait