PT Jalin Vaneo PHK Karyawan Kecelakaan Cacat Permanen

  • Whatsapp

oleh Tri Teguh/Dedy S

KETAPANG, AMUNISINEWS.CO.ID-Hafid,Manager Humas PT.Jalin Vaneo mengatakan alasan pihak perusahaan memberhentikan karyawan yang alami kecelakaan hingg cacat permanen.

Menurutnya, perusahaan sudah menggaji korban M Syahyuni  lebih dari setahun sesuai aturan 4x berturut-turut dan keterangan dari dokter korban sudah tidak mampu lagi bekerja.

“Makanya diberhentikan,” jelas Hafid bersama Uti Sumadi selaku Humas, saat dikonfirmasi di ruang

PT Jalin Vaneo ini berada di daerah Mentabe Desa Tual, Sungai Terung, Kabupaten Kayong Utara propinsi Kalimantan Barat.

Amunisi pertanyakan apakah kewajiban perusahaan sudah penuh dilakukan untuk korban ? Jawab Hafid untuk kewajiban perusahaan sudah penuh dan sudah dilakukan dengan baik sesuai dengan prosedur perusahaan serta undang-undang berdasarkan aturan dari kepemerintahan Depnaker Ketenagakerjaan dan lain-lain.

Pihak perusahaan meminta waktu kepada Amunisi untuk mempertimbangkan kembali mengenai permasalahan yang telah terjadi di perusahaannya, namun sampai saat ini belum juga ada tanggapan dari pihak perusahaan.

Hafiz mengatakan jika ada kecelakaan yang terjadi masih dalam ruang lingkup perusahaan dan masih dalam waktu jam kerja baik itu sampai mengakibatkan cacat permanen, itu sudah pasti ada ganti ruginya.

Namun sangat disayangkan sekali pembicaraan Hafid tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan, dan betul ada perusahaan menanggung pada saat pertama-tama terjadinya kecelakaan yang dialami korban, namun berlangsung beberapa bulan ke depannya pada saat korban masih memerlukan perawatan dan penanganan medis pun masih belum tuntas terjadilah pemecatan kerja.

Selasa, 10 September 2019 lalu, M.Syahyuni status karyawan PT JV yang ber-alamat di Tran Lubuk Laes SP 03 yang bekerja sebagai pemanen buah sawit divisi 04 yang mengalami cacat permanen dibagian kaki sebelah kiri, dan ada dugaan saat dioperasi Syahyuni mengatakan bisa jadi ini dipasang pen saat di operasi kemarin.

Dikarenakan pesan dari pihak rumah sakit mengatakan jika sudah sampai saatnya selang waktu beberapa bulan ke depan korban diharapkan harus datang kembali kepihak rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kembali.

“Namun sebelum sampai waktu ingin cek keadaannya ke rumah sakit saya pun di PHK, “tutur M.Syahyuni.

Lanjut lagi Syahyuni mengatakan diakibatkan ketimpa egrek kaki yang seharusnya diharapkan bisa normal kembali kini berbeda dengan posisi kaki sebelah kanannya dan kaki kiri sehingga mengecil cacat secara permanen.

“Saya kecewa seharusnya masih mengharapkan pekerjaan sebagai tulang punggung keluarga dengan posisi saya lagi seperti ini sudahlah tidak ditanggung lagi dari pihak perusahaan yang sebenarnya menangani musibah yang seharusnya sampai tuntas, tidak sepatutnya dilakukan demikian apalagi sampai saya di PHK,”tambah dia.

Syahyuni yang bekerja selama 2 tahun mengabdi di perusahaan ini pada tanggal 13 Februari 2017 awal bekerja, dia orang kecelakaan kerja tertimpa egrek di saksikan 5 orang di TKP (Tempat Kejadian Perkara) , salah satunya Zainal Abidin termasuklah Eka selaku manager, Askep, Asisten, dan Mandor 1.

Hal yang sama menimpa Mu’in(39) warga Desa Batu Barat jalan teluk aur sudah menjadi kariawan tetap, dan mengabdi selama 4 tahun, namun nasib tidak memihak kecelakaan yang sama terjadi sewaktu bekerja panen buah sawit dan tertimpa egrek tepat di sebelah kiri tangannya.

Perusahaan lakukan pemecatan secara sepihak, dan Mu’in dipaksa untuk menandatangani sewaktu beberapa orang yang ada di tempat salah satunya itu Roni selaku Askep, HRD dan lainnya pada saat itu.

Mu’in sempat mendatangi kantor Depnaker menanyakan masalah asuransi kecelakaan, namun dari pihak Depnaker mengatakan bahwa dari pihak perusahaan belum ada melaporkan bahwa ada kecelakaan.

Sangat disayangkan Mu’in hanya mendapat surat rujukan ke Pontianak dari Depnaker.

Mu’in yang sekarang sudah tidak bekerja sebagai tulang punggung keluarga memiliki tanggungan istri dan 2 orang anak 1 laki-laki dan 1 perempuan, Deo umur 13 tahun dan Salpin umur 9 tahun

Seharusnya
Jamsostek atau BPJS ketenagakerjaan kerjaan
1)jaminan hari tua
2)jaminan kematian
3)jaminan kecelakaan kerja.

“Ya di antara seharusnya sudah menjadi tanggungjawab pihak perusahaan, dan sudah ada jaminan nya namun percuma sebagai rakyat kecil muin merasa kecewa dan tertindas, “ujarnya kepada amunisi.

Ditambahkan lagi oleh Hafid bahwa , karyawan PT JV yang tadinya sakit dengan meminta surat keterangan dari dokter, tapi ternyata setelah dicek ke lapangan sering menemukan karyawan tidak sakit malah bekerja di luar tempat lain dan bukannya malah istirahat karna sakit malah enak-enakan memancing ikan

“inilah yang terkadang menjadi pertimbangan perusahaan yang awalnya percaya penuh tapi akhirnya seakan kurang percaya kepada karyawan itu sendiri,” katanya.

Ditambahkan oleh Uti Sumadi, perusahaan sudah membentuk yang namanya SKP (Serikat Kariawan Perusahaan).

Roni Adkep perusahaan sewaktu Muin diputus kerja secara sepihak pernah mengatakan, jaminan dan segala macam sudah didaftarkan ke BPJS, sebagai asuransi yang menanggung.

Sama juga dengan kasus M.Syahyuni yang terkena egrek yang sama, dia jugakan tidak terima, tapi Sahyuni sudah kita asuransikan ke BPJS

“Aa yang kami perlukan untuk mengurus BPJS kami juga memerlukan bantuan dari kariawan tersebut, ini bukan perusahaan kejam mem PHK kariawan karena sudah sakit-sakitan lalu kami PHK, sewaktu karyawan sehat kami pakai setelah sakit kami campakkan, yang kami sampaikan ini adalah kewajiban perusahaan dan kami hanya menjalankan perintah dari perusahaan,” tegasnya.

Selebihnya kalau karyawan tidak terima itu hak karyawan silakan kariawan tersebut menempuh jalur lain dari dinas ketenagakerjaan.

“Di  sana ada yang namanya PHPHI (Pengadilan Hubungan Industri), setelah itu di Pontianak nanti sidang lah jika memang Bpk tidak puas dengan apa yang diberikan perusahaan, jika belum ada penyelesaian lanjut lagi ke Jakarta jika memang mau kalah jadi abu menang jadi arang,” kata Roni.

Pos terkait