Putusan KPU Renggut Puluhan Nyawa Rakyat

oleh Rukmana/Dra

KAKARTA, AMUNISINEWS.Co.ID-Sejak awal,proses demokrasi pileg dan pilpres di Indonesia mengundang pertanyaan berbagai kalangan akademisi dan politisi.

Sumber DPT yang tidak transparan hingga penetapan DPT dan penyelenggaraan pemilu oleh KPU RI menuai protes dari berbagai kalangan

Peserta kontestasi pilpres dari pasangan Prabowo Subianto Sandiaga Salahudin Uno paling getol protes kepada KPU terkait adanya dugaan DPT siluman dari Kemendagri.

Namun menurut tim Prabowo Sandi,KPU sendiri kurang begitu respons dengan temuan adanya dugaan DPT siluman oleh BPN.

Pepatah kuno mengatakan,”awal yang buruk akan membuahkan hasil buruk pula” Terbukti dalam pesta demokrasi pilpres 2019 terdapat tragedi kemanusiaan yang cukup memprihatinkan kita semua sebagai anak bangsa,ada sekitar 600 orang lebih yang meninggal dunia,terdiri dari PPS,KPPS,Panwaslu dan bahkan anggota Polri pun ada yang gugur dalam menggelar demokrasi Th. 2019.

Tak hanya ratusan nyawa melayang dan ribuan orang yang dirawat dirumah sakit,pemilu 2019 juga diwarnai kecurangan.Setidaknya,BPN menemukan 7000 lebih pelanggaran atau berkisar 15% kasus pelanggaran pelaksanaan di seluruh TPS yang ada di Indonesia.
Tentu hal ini menjadi sorotan dunia internasional.Publikpun resah dan meminta dunia internasional ikut mengawasi pelaksanaan pemilu 2019.

Pesta demokrasi usai digelar suasana politik kian memanas di negeri ini.Lembaga – lembaga survei pun mulai menayangkan hasil perolehan sementara dengan sistem quick count (QC).

BPN pun menindaklanjuti temuannya dengan melaporkan ke Bawaslu,belum sempat Bawaslu menindaklanjuti seluruh aduan BPN,publik sudah ramai mempersoalkan situng KPU yang janggal.BPN pun menyiapkan ahli IT untuk mengcounter situng KPU yang diinput dari data invalid atau diduga asal asalan.dari hasil real count BPN suara Prabowo Sandi berada diprosentase 54%

Sedang dalam situng KPU Prabowo Sandi hanya memperoleh suara 44% saja,tentu ini membuat BPN tak terima dan melaporkan kejanggalan situng ke Bawaslu dan meminta KPU menghentikan Situng.

Namun,Bawaslu hanya menyatakan KPU salah prosedur dalam proses Situng.Sementara BPN meminta proses Situng dihentikan dan berbagai kecurangan di TPS yang dilakukan oknum KPPS diproses,baik pidana mahupun administrasinya.Tidak semua aduan dan tuntutan BPN digubris Bawaslu,proses situng terus berlanjut hingga diputuskan Rabu pagi pukul 2:00,22/05/19 KPU memutuskan paslon nomor urut 01 unggul dari paslon nomor urut 02 dengan prosentase yang aneh,yakni 55,50% suara Joko Widodo Maruf Amin dan 45,50% untuk suara Prabowo Subianto Sandiaga Salahudin Uno. Ini prosentase yang janggal dan tidak matching jika diprosentasekan 100%

Keputusan KPU ini dibayar dengan puluhan nyawa rakyat yang menolak keputusan KPU di Bawaslu RI Jakarta.Rabu 22/05/19,aksi damai tolak hasil rekapitulasi KPU RI oleh jutaan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah ini berakhir ricuh karena adanya provokator yang menyerang aparat saat peserta aksi mulai

Membubarkan diri guna melaksanakan buka puasa dan shalat Maghrib,upaya provokasi dari penyusup ini disinyalir untuk memfitnah umat islam yang cinta damai,ada dugaan ini adalah skenario inteligent untuk melegitimasi para pencari keadilan dengan tuduhan “perusuh”.

Menurut data dari Rumah Aspirasi Cut Meutia Jakarta,terdapat lebih kurang 20 orang yang gugur dalam insiden penembakan gas air mata oleh aparat terhadap para pencari keadilan di depan Bawaslu RI Rabu 22/05/19

Kini umat islam harus berhati-hati dan waspada,agar gerakan mulia menegakkan keadilan dan kejujuran di Bumi Indonesia tidak didramatisasi pihak tertentu sebagai gerakan radikal,gerakan makar terhadap negara.Pemerintah tidak seharusnya bertindak refresif terhadap para pencari keadilan di negeri ini.Kritik dan demonstrasi terjadi karena adanya ketidak adilan di sebuah negara.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *