Sempat Dicegah Polisi Singkawang, 1.000 Cahaya Lilin untuk Ahok Berlangsung Tertib

  • Whatsapp
lilin singkawang
1.000 cahaya lilin buat Ahok dari masyarakat Singkawang

SINGKAWANG, AMUNISINEWS.COM-Aksi solidaritas yang mendukung Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok semakin menjalar seolah tak terbendung.

Kali ini tidak ketinggalan Kota Singkawang, Kalimantan Barat menggelar aksi damai serupa.

Dari pantauan wartawan amunisinews.com,  beberapa hari sebelumnya, media sosial sempat dihebohkan akan adanya aksi solidaritas dukungan warga Kota Singkawang kepada mantan Bupati Belitung Timur itu.

Aksi yang dinamai “1.000 Cahaya Lilin Bentuk Solidaritas Untuk Ahok” sempat mendapatkan penolakan dari beberapa masyarakat Kota Singkawang, yang khawatir bahwa kegiatan tersebut dapat menimbulkan intoleransi di Kota Singkawang.

Perlu diketahui Kota Singkawang adalah salah satu kota dengan toleransi umat beragama yang tinggi.

Pada tanggal 12 Mei, terjadi pertemuan membahas kegiatan tersebut antara pihak Polres Kota Singkawang dengan panitia pelaksana.

Pertemuan yang digelar di Komplek Villa Permata, Kaliasin, Singkawang, tersebut tidak menemui titik temu. Dialog yang dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.00 Wib berakhir dengan jawaban yang tidak pasti akan terlaksananya kegiatan tersebut.

Hadir dalam diskusi tersebut ialah, Kasat Intelkam AKP Nugroho SH,

Kapolsek Singkawang Barat Kompol Sunarso, Kapolsek Singkawang Selatan AKP Laelan Sukur serta beberapa Anggota DPRD Kota Singkawang.

Keesokan harinya pada tanggal 13 Mei, panitia pelaksana menyatakan pembatalan aksi solidaritas tersebut secara sepihak. Alasannya, karena atas pertimbangan dan saran pihak kepolisian agar tetap menjaga dan memelihara situasi Kota Singkawang yang kondusif, dan dikhawatirkan menimbulkan perselisihan antar golongan.

Melalui akun instagram Humas Polres Singkawang, membenarkan pembatalan tersebut karena faktor keamanan.

Namun apa daya, seolah nasi telah menjadi bubur. Sempat hebohnya kabar akan dilaksanakan aksi tersebut pada Minggu 14 Mei pukul 19.00 Wib di pintu utama Lapangan Kridasana, Jalan Pelita, Singkawang.

Sebagian besar masyarakat Kota Singkawang menyambut dengan antusias.Bahkan secara spontanitas tetap “nekat” mendatangi lokasi untuk mengelar aksi solidaritas tersebut.

Ditemui di lokasi yang dijada ketat aparat kepolisian dan tentara, Fendy (18), mengungkapkan kekecewaannya.”Saya ingin nyalakan lilin dukungan kepada Ahok, tapi polisi menghadang dan mengusir saya untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut,” ujar Fendy penuh kesal.

Penjagaan ketat pihak aparat berhasil membatalkan niat massa yang terus berdatangan ke lokasi yang ditelah ditentukan.

Insidenpun sempat terjadi kala massa yang telah tiba dahulu menyalakan lilin, dan berusaha dibubarkan pihak berwajib. Saat itu, terjadi aksi tarik-menarik antara kepolisian dan massa, ketika pihak berwajib berusaha mengamankan seorang yang diduga provokator aksi oleh pihak berwajib.Namun berhasil dicegah oleh massa berkat kesepakatan dan dialog yang sempat memanas.

“Sangat disayangkan sikap polisi yang seharusnya mengayomi dan melindungi hak masyarakat justru berperilaku brutal dan radikal,” pungkas Chandra Kirana, Ketua Umum Sekretariat Nasional Komite Penegakan Pro Justitia, saat dikonfirmasi via telepon.

Chandra yang saat itu juga berada di lokasi menambahkan, bahwa oknum aparat sepertinya sengaja menciptakan kondisi untuk menyalakan peserta aksi yang dengan sengaja memutarbalikkan fakta. “Peserta aksi melakukan perlawanan dikarena sudah tidak tahan dengan sikap kasar dan arogansi oknum tersebut,”pungkas Chandra.

Massa yang berhasil dihalau pihak berwajibpun tampak tidak patah semangat. Tanpa diduga sebagian di antara mereka pun kompak menuju ke Villa Permata, Kaliasin.

Seolah satu komando, massa pun kian berdatangan ke lokasi baru.Massa yang berkonsentrasi di halaman komplek tersebut diperkirakan berjumlah ratusan.

Pukul 19.30 acara tersebut berhasil dimulai, dengan menyalakan lilin dan menyanyikan lagu Kebangsaan nasional, serta orasi yang menginginkan Ahok dibebaskan dari tuntutan hakim, karena menilai Ahok tidaklah bersalah.

Seperti sebelumnya diketahui bahwa Majelis hakim menilai Ahok terbukti melanggar Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama.

“Saya hadir karena merasa satu hati, walaupun tadinya dicegah di Kridasana, saya dapat kabar di postingan media sosial bahwa dipindahkan kesini, maka saya tetap datang,”  ujar Jenni (27) bersemangat.

Sementara itu Susi Wu (34), penanggung jawab aksi damai yang dibatalkan sehari sebelum, saat ditemui di lokasi komplek Villa, mengaku heran dengan antusias sebagian warga Kota Singkawang.

“Padahal sudah dibatalkan loh, namun kabar telah tersebar luas, bahkan ada yang datang dari Bengkayang juga,” ujar Susi Wu.

Warga yang terus memadati halaman komplek sempat membuat kewalahan pihak keamanan komplek, kegiatan yang berakhir pada pukul 21.00 itu pun berlangsung aman dan tertib.

“Ini membuktikan bahwa Kota Singkawang tetap pada toleransi yang tinggi, apa yang dikhawatirkan berbagai pihak tidak terjadi,” ujar Sumberanto (45), yang juga Wakil Ketua DPRD Singkawang.

Ayah dari dua anak ini, juga menambahkan sebagai warga Negara Indonesia yang cinta damai, dia  berharap semua elemen mau bersatu dengan kedepankan kepentingan Bangsa diatas kepentingan pribadi dan kelompok.

“Marilah kita tetap pada dalam Koridor Konstitusional, jangan melakukan gerakan-gerakan yang mengganggu stabilitas Bangsa dan Negara,” pungkas Sumberanto.(bobon santoso)

 

 

Pos terkait