Serobot Gudang Orang Lain, Humam Baktir Terancam Pidana 

  • Whatsapp

Oleh Irman

SURABAYA-AMUNISINEWS.CO.ID Akibat mengakui dan menyerobot lahan gudang milik orang lain, Humam Baktir, ST Com terancam pidana dengan pasal 167 dan pasal 369 KUHP.

 

Sanksi hukuman tersebut usai Pengadilan Negeri Surabaya mulai mengadili terdakwa Humam Baktiar cs dalam kasus, masuk pekarangan tanpa ijin pemilik tanah yang disinyalir akan menguasai tanah pekarangan milik Zein Badjabir dan Riza Badjabir.

Keputusan ancaman hukum terhadap Zein Badjabir dan Riza Badjabir terungkap saat keduanya menjadi saksi untuk persidangan dengan terdakwa Humam Baktir, ST Com di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu lalu (14/11/2018).

Sidang yang digelar di ruang Sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dengan kasus masuk pekarangan tanpa ijin dan perbuatan dengan melakukan pengancaman dengan terdakwa Humam Baktiar, ST Com, memasuki agenda menghadirkan tiga saksi korban dan juga sebagai pelapor yang dimintai keterangan oleh Majelis Hakim, Rabu (14/11/18).

Sidang yang diketuai Hakim Maxi Sigarlaki, SH dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachman,SH, dari Kejati Jatim.

Saksi yang diajukan untuk dimintai keterangan yakni Zein Badjabir dan Riza Badjabir, yang keduanya adalah saksi pelapor dan juga pemilik Gudang di jalan Kasuari nomer 23 Surabaya.

Saat saksi pertama Zein Badjabir memberikan kesaksian, perihal terdakwa yang tidak memiliki hak dan kepemilikan sama sekali terhadap obyek sebuah gudang dan kantor di jalan Kasuari 23 Surabaya, namun Humam Baktir, ST Com telah menguasai obyek tersebut sejak tahun 2016.

Tidak hanya menguasai dan memasuki pekarangan tertutup, namun terdakwa juga melakukan intimidasi dan ancaman terhadap keluarga ahli waris bidang bangunan dari pemilik pertama kakek ahli waris yaitu, Zein bin Ali Badjabir

Zein bin Ali Badjabir sejak tahun 1934 yang pada saat itu masih bernama Firma Java Trunk yang berkantor pusat di Jalan Pinangsia.

Pada awalnya, saat kakek masih hidup gudang tersebut bernama usaha Firma Java Trunk, setelah  kakek meninggal badan usaha berubah menjadi CV. Java Trunk Company dimana yang menjadi direkturnya ayah saya dari saksi yaitu,  Zein bin Ali Badjabir.

Dari proses pergantian nama badan usaha, sebenarnya gudang di Jalan Kasuari 23 Surabaya bersifat status quo dari pengadilan. Namun pihak Humam Baktir tetap memasuki pekarangan gudang melalui orang-orang suruhan Humam.

Kami, kata Zein bin Ali Badjabir sudah melakukan somasi ke Humam Baktiar, yang isinya orang-orangnya Humam Baktiar atau Humam Baktiar cs harus segera meninggalkan gudang yang masih dalam perkara.

Namun, setelah somasi ke I sdr HUMAM memindahkan butuh milik CV. JTC.  Dan saudara Ali masuk ke gudang lewat genteng gudang.

Dalam kesaksiannya, Zein Badjabir menjelaskan, gudang disewa oleh kakek saya tahun 1934 dengan nama usaha Firma Java Trunk , selanjutnya tahun 1941 gudang tersebut  dibeli oleh kakek saya Zein bin Ali Badjabir (alm) melalui kuasa dari Eigendom No. 1136,  dengan akte jual beli No.275 dibuat oleh Notaris Jan Wiluem Bei. Yang kemudian dihibahkan ke Ayah saksi yakni Faisal Zein Badjabir (alm).

Tahun 1959 kakek saya meninggal

 

“Kantor pusat Jakarta jalan Pinangsia ditutup dan kantor pusat berpindah ke obyek gudang dan kantor di jalan Kasuari 23 Surabaya, dengan susunan Kepengurusan kantor Dirut selaku pemegang saham Faisal Zein Badjabir (alm) dan Direktur II Ahmad Zein BadJabir (alm).” Ujar Zein kepada wartawan di PN Surabaya, Rabu (14/11/2018).

 

Zein Badjabir menerangkan, tahun 1990 CV Java Trunk Company yang sebelumnya bernama Firma Java Trunk mengalami kesulitan  keuangan, sehingga aset yang bergerak dibeli oleh CV.Metalindo. Aset-aset bergerak milik Firma menjelaskan, yang dibeli oleh CV.Metalindo diantaranya, mobil, mesin-mesin, dan inventaris kantor. Selanjutnya Holid Abud Bawazir keluar dari CV.Metalindo.

 

Saksi 1, Zein Badjabir kembali menjelaskan, di tahub 1991 Cholid Abut Bawazir membeli 40% saham CV.Java Trunk Company dan CV.Metalindo, namun pada tahun 2004 Sdr. Cholid Abut Bawazir keluar dari  CV.Metalindo,  setelah kami somasi pertama, terdakwa Humam Baktir tanpa sepengetahuan kami telah memindahkan barang-barang CV.Java Trunk Company sebanyak satu kontainer, 20 Fit barang CV.JTC yang masih ada berupa Palet, Karton, Kosong, dan inventaris yang nilainya tidak lebih labih dari Rp 20 juta.

 

Zein Badjabir menceritakan,Dr.Ali.Mustofa masuk gedung lewat atas genteng karena semua pintu digembok dari dalam, kecuali pintu utama yang dipasang gembok dan disegel oleh saya.

 

“Jadi Ali Mustofa masuk genteng turun di sumur lalu dia buka gembok dari dalam pintu yang keluar lewat Jalan Kali Sosok.” Terang Zein.

 

Sebelumnya, Holid abud Bawazir membeli  saham CV.Java Trunk Company dua kali yaitu di tahun 1990 sebesar 40%, dan di tahun 2010 membeli lagi saham sampai sejumlah 87 %, saham telah dibeli Holid Abud Bawazir, sehingga Holid menggunakan gudang tersebut.

 

“Yang menempati dan menguasai sekarang adalah Ali Mustofa dan kawan kawan orang suruhan terdakwa Humam Baktir dan Holid Abud Bawazir sejak petengahan tahun 2016.” Kata Zein.

 

Lebih lanjut Zein menambahkan, dengan cara merusak dan membuang segel yang telah saksi Zein Badjabir buat orang suruhan terdakwa masuk tanpa ijin dipintu bagian selatan dan memasang 2 banner di gudang tersebut memasang gembok baru dan rantai dipintu utama, yang dulunya pernah dipasang gembok oleh saksi Zein Badjabir.

 

Sementara itu dari Saksi kedua yaitu, Riza Badjabir yang juga kakak tertua dari saksi pertama sebagai ahli waris dari orang tua mereka Faisal Zein Badjabir (alm).

 

Riza dalam kesaksian tidak banyak tahu tentang tindakan terdakwa Humam yang melakukan penyerobotan tanpa ijin, karena gudang milik ahli waris. Yang saksi tahu ada suatu rencana penyerobotan untuk menguasai gudang miliknya yang dilakukan terdakwa bersama kawan kawannya, dan melakukan intimidasi ancaman terhadap keluarga besarnya.

 

“Karena semua yang dilakukan dalam perlawanan hukum untuk mencari keadilan telah diserahkan sepenuhnya oleh adiknya melalui surat kuasa kepada Zein Badjabir (saksi I).” Kata Riza.

 

Perlu diketahui, obyek dijalan Kasuari 23 Surabaya, telah berbentuk HGB yang diurus oleh Faisal Zein Badjabir (alm) di tahun 2010. Tahun 2011 terbit peta bidang, dan di tahun 2012 Faisal meninggal dunia.

 

Oleh anaknya yaitu Zein BadJabir melanjutkan pengurusan terbit SHGB nomer 0156  tahun 2014, atas nama anak anak ahli waris almarhum Faisal Zein Badjabir.

 

Tahun 2016 Zein Badjabir dengan kesepakatan saudara kandung lainnya telah menjual obyek gudang di jalan Kasuari 23 Surabaya, kepada Subianto Wijaya alamat jalan Klantan 26 Surabaya dan belum dibalik nama.

 

Saat somasi yang diberikan kepada terdakwa Umam yang menempati gudang tersebut untuk mengosongkan obyek barang yang ada didalam karena pihak ahli waris telah menjual kepada Subiato Wijaya, dan salah satu syarat pelunasannya yaitu melakukan pengosongan obyek gudang yang ada didalam.

 

Namun beberapa kali somasi kepada terdakwa Umam tidak menghiraukan somasi tersebut. Sampai akhirnya Zein Badjabir anak ahli waris melaporkan Umam Baktir, ST Com ke Polda Jatim.

 

Dalam surat dakwaan yang telah dibacakan, Terdakwa dituduhkan melakukan penyerobotan masuk pekarangan tanpa ijin dan melakukan intimidasi atau bentuk pengancaman diancam pasal 167 dan pasal 369 KUHP.

Pos terkait