Sidang Terdakwa Yenny Susanti Hadirkan Tiga Saksi

oleh Tim

JAKARTA,AMUNISINEWS.CO.ID – Sidang dugaaan penganiyaan dengan terdakwa Yenny Susanti berlanjut di PN Jakarta Barat, Kamis (4/7). Kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rinaldy, menghadirkan tiga saksi

Saksi yang dihadirkan pertama Carolyn dan dua saksi lainnya Tatang security perumahan Casa Jardin, Cengkareng, Jakarta Barat dan saksi Hermanto, suami terdakwa Yenny Susanti.

“Kejadian itu saya lupa harinya, tapi saya ingat tanggalnya. Peristiwanya terjadi pada tanggal 13 April 2018,” ujar Carolyn dalam kesaksiannya di hadapan Majelis Hakim, Kamis (4/7/2019).

Saat itu Carolyn mengaku sedang mengajar les piano. Tiba-tiba ada suara bel rumah, lalu, Ia pun membuka pintu. “Saya dimaki-maki Yenny. Ngomongnya sangat cepat dan bertubi-tubi. Intinya dia mengancam saya, awas kalau kamu main piano. Awas kalau kamu main piano. Kamu akan saya usir dari rumah ini,” terangnya.

Suara keras Yenny membuat Carolyn shock hingga Ia pun menghentikan sementara les piano terhadap anak didiknya. Puas melabrak Carolyn, Yenny pun pulang. Carolyn yang dalam kondisi ketakutan kemudian menceritakan ‘teror’ yang dialaminya kepada ibunya, Erlina Sukiman.

Rupanya kasus tersebut tidak berhenti sampai disitu. Carolyn kembali mendengar ada suara keras dan keributan di luar rumah. “Pada saat itu ternyata Yenny sudah memegang mama saya. Yenny memegang bagian tangannya,” ujar Carolyn.

Dalam kondisi masih trauma akibat ‘teror’ Yenny, Carolyn kembali masuk ke dalam rumahnya. Tapi, persoalan ‘teror’ kembali menghantuinya.

Kali ini, ‘teor’ itu datang dari suami Yenny, Hermanto. Dengan emosi Hermanto melabrak kediaman Erlina dengan memukul-mukul jendela kediaman Erlina sambil berteriak-teriak keras dengan lantang sambil melontarkan nada bersifat ancaman. “Dia mengancam kami sekeluarga,” tukas Carolyn yang lulusan sarjana jurusan psikologi ini.

“Dia juga mengancam mau memukul papa saya,” sambung Carolyn.

Atas persoalan itu, hakim Stery Rantung mengejar Carolyn dengan pertanyaan apakah jauh sebelum persoalan itu Carolyn pernah ada persoalan sebelumnya terkait dengan les piano tersebut, dijawab Carolyn, “pernah.”

“Satahu saya ada, tapi itu sudah selesai di kantor perumahan, sekitar satu atau dua minggu sebelumnya,” ujar Carolyn.

Atas inisiatifnya sendiri, bahkan Carolyn menyebut telah memasang dobel alat peredam suara di ruangan tempatnya berpiano sehingga suaranya tidak terdengar sampai keluar rumah.

“Bahkan sebelumnya saya juga sudah izin ke tetangga, termasuk ke suaminya Yenny. Saya ingat betul jawaban dia, tidak apa-apa asal jangan lewat dari jam 10 malam, begitu katanya,” papar Carolyn.

Penjelasan Carolyn soal suara piano ini, sebelumnya juga telah dipaparkan Holik dan El Manik, dua saksi satpam perumahan yang dihadirkan di persidangan sebelumnya. Kedua saksi ini mengaku tidak pernah mendengar ada suara berisik dari Piano di rumah Erlina. “Saya tidak pernah dengar,” ujar saksi El Manik.

Kehadiran kedua saksi fakta itu pun membuka kronologis rangkaian cerita keributan kedua bertetangga itu.

Perlu diketahui, kasus penganiayaan yang menyeret Yenny Susanti sebagai terdakwa itu terjadi pada Jumat, 13 April 2018. Yenny yang tinggal bersebelahan dengan Erlina, datang menggedor-gedor pintu kediaman Erlina.

Yenny bermaksud menegur Carolyn (anak Erlina) yang sedang mengajar les piano, agar Carolyn menghentikan main pianonya dengan alasan anaknya sedang sakit. Erlina dan Yenny adalah dua hunian bertetangga di blok F7 No. 2 dan No. 3.

Peristiwa yang dilakukan Yenny itu terjadi di pekarangan Erlina dan disaksikan Nurhayati, ibunya, sebagaimana yang terekam dalam Circuit Closed Television (CCTV) yang telah dijadikan barang bukti.

70 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KORAN AMUNISI

dan AMUNISINEWS.CO.ID

Ide dasar penerbitan Surat Kabar Umum (SKU) Amunisi dan Amunisinews.co.id antara lain membantu pemerintah dalam upaya penegakkan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP-RI) No, 68 tahun 1999, yang ditetapkan pada 14 Juli 1999 mengatur bagaimana peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara, termasuk membantu penegakan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Amunisi adalah bagian dari masyarakat, yang diharapkan pula dapat berperan aktif. Karena itu, sebagai media cetak, yang akan turut serta dalam penegakkan hukum di Indonesia, Amunisi harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Tentunya, diaflikasikan dalam bangun tubuh (halaman) dengan organ-organ (rubrikasi) yang tepat sasaran, yakni setiap yang disajikan adalah berisi informasi-informasi yang digali melalui kerja keras investigasi dengan pendalaman yang dapat dipertangungjawabkan.