Telisik Dugaan Penyimpangan Cetak Sawah, Kejati Babel Periksa Anak Buah Toni Batubara

 

Oleh Herman Saleh

 

PANGKALPINANG BABEL, AMUNISINEWS.CO.ID–Proyek cetak sawah yang dikerjakan oleh Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Tahun 2016 di bawah komando Ir.Toni Batubara mulai di “relisikoleh Tim Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel).

Tim penyidik Pidsus Kejati Babel mulai melakukan penelisikan dengan memeriksa Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek tersebut Asdianto pada Kamis (8/3/2018) di kantor Pidsus Kejati Babel.

Asdianto diperiksa dari pukul 09.00 sampai dengan sore hari.

Pemeriksaan Asdianto yang merupakan anak buah Toni Batubara itu dibenarkan oleh Kasi Penkum Kejati Babel Roy Arland yang mengatakan, hari ini Kamis (8/3/2018) pihak penyidik Tipikor sedang memeriksa seorang PNS asal Dinas Pertanian Provinsi Babel (Asdianto) Anak buahnya Ir. Toni Batubara terkait proyek cetak sawah di wilayah Babel namun sampai saat ini belum ada temuan permasalahan dalam pelaksanaanya.

“Iya satu orang PNS (Asdianto–red) yang kita periksa hari ini terkait kegiatan proyek sawah di Babel,” tukis Roy singkat, Kamis siang (8/3/2018).

Roy terangkan juga, jika Asdianto diperiksa penyidik Pidsus Kejati Babel lantaran PNS ini selaku pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) proyek cetak sawah di Babel.

“Pemeriksaan terkait kegiatan proyek cetak sawah di wilayah Babel karena yang bersangkutan selaku PPTK nya,” terang Wilman.

Ditambahkanya, dalam kegiatan proyek cetak sawah yang diperiksa oleh tim penyidik Pidsus Kejati Babel kali ini proyek tahun anggaran (TA) 2016 bersumber dari dana APBN.

“Meski begitu pihaknya tetap akan melakukan pemeriksaan proyek cetak sawah di sejumlah daerah lainnya atau seluruh proyek yang dikerjakan di wilayah Babel dengan anggaran mencapai angka cukup fantastis yakni Rp 140 M lebih,” jelasnya lagi.

Sementara kepala Dinas Pertanian Provinsi Babel, Ir H Toni HA Batubara saat dikonfirmasi terkait seorang PNS asal intansi Dinas Pertanian Provinsi Babel (Asdianto) atau bawahaannya saat ini diperiksa tim penyidik Pidsus Kejati Babel lantaran persoalan kegiatan proyek cetak sawah di Babel justeru Toni tak menampik.

“Saya baru dpt info kemaren. Mdh2an tdk ada masalah yg serius. Saya tdk bisa berkomentar dulu. Itu saja ya,” kata Toni dalam pesan elektronik/whatsapp (WA) yang diterima, Kamis (8/3/2018) sore seraya ia mengaku jika saat ini ia sedang berada di luar daerah lantaran mengikuti diklat selama 6 bulan di Jakarta.

Untuk diketahui, Asdianto diperiksa penyidik Pidsus Kejati Babel selaku saksi terkait kegiatan proyek cetak sawah di Babel. Saat ini yang bersangkutan diketahui pula selaku kepala bidang Prasarana dan Sarana, Dinas Pertanian Provinsi Babel.

Sebelumnya, Toni HA Batubara sempat mengatakan jika proyek kegiatan cetak sawah di Babel yang dilakukan pihaknya telah dilakukan sejak tahun 2012, dengan luas sekitar 1.500 hektar (ha).

 

 

Selanjutnya pada 2015, sawah yang dicetak seluas 2.495 ha, terkecuali di Bangka Tengah (Bateng) dan Kota Pangkalpinang.

 

 

“Pasalnya, hampir semua lahan di Bateng itu masuk kawasan hutan. Walaupun begitu ada 100 ha sawah di Namang, itu kekayaan atau aset Bateng!,” kata Toni, seraya menambahkan pada tahun 2016 luas sawah yang cetak 7.130 ha, sehingga total sawah di Babel mencapai sekitar 22.000 ha.

 

 

“Tahun 2017 ini kita akan mencetak 4.200 ha sawah. Seluruh sawah itu dicetak oleh Bapak-bapak dari TNI. Hasil pencetakan sawah itu kemudian diserahkan kepada kita. Kemudian kita serahkan seluruhnya kepada ke kelompok tani. Kita memberikan bantuan pupuk, dan sarana produksi lainnya,” terangnya.

 

Dari sawah itu Pemprov Babel menargetkan produksi 40.000 ton gabah kering giling (GKK). Target itu optimis tercapai, bila petani serius dalam mengelola lahan padi.

 

“Kita ini selalu berkerja keras dalam hal memberi pengertian kepada petani bahwa mengelola sawah itu menguntungkan. Sawah ‘kan bisa tiga kali panen dalam setahun. Sisa waktu seterusnya ‘kan bisa ditanam hortikultura. Tapi kendala lain masih ada. Yakni “uang” yang diperoleh dari luar pertanian, seperti dari sektor pertambangan timah dan kehutanan, masih ada. Beda dengan daerah lain, seperti Lampung dan Sumsel. Petani di sana konsentrasi di bidang pertanian karena mencari kerja di luar sektor itu, sulit,” kata Toni tempohari seperti dilansir sebuah media lokal di babel

 

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *