TP.PKK Kab.Sidoarjo Gelar Sosialisasi Deteksi Kanker Serviks

  • Whatsapp

Oleh : Merry Tama

TP-PKK Kabupaten Sidoarjo minta anggotanya enggerakkan Masyarakat melaksanakan IVA Test.

SIDOARJO, AMUNISINEWS.CO.ID – Bahaya penyakit kanker Serviks atau kanker leher rahim di pahami betul oleh TP-PKK Kabupaten Sidoarjo. Upaya mencegah timbulnya penyakit pada perempuan tersebut selalu di lakukannya. Salah satunya dengan menggelar Sosialisasi Deteksi Kanker leher Rahim Melalui IVA Tes yang diselenggarakan di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Rabu lalu (5/9).

Kurang lebih 250 orang anggota PKK kecamatan, desa dan kelurahan hadir dalam sosialisasi tersebut. Kegiatan  dibuka oleh Wakil Ketua I TP-PKK Kabupaten Sidoarjo Hj.Ida Nur Ahmad Syaifuddin. Wakil Ketua II TP-PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Endang Ahmad Zaini serta pengurus TP-PKK Kabupaten Sidoarjo ikut hadir dalam kesempatan tersebut.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua I TP-PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Ida Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan kanker Serviks banyak diderita wanita didunia. Penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila diketahui sedini mungkin. Cara mengetahui penyakit tersebut cukup sederhana.

Yakni melalui IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Test ke tempat pelayanan kesehatan. Untuk itu anggota PKK dimintanya dapat melakukan pemeriksaan penyakit tersebut.

Selain itu ia meminta ibu-ibu PKK dapat memberikan pemahaman dan menggerakkan masyarakat melaksanakan pemeriksaan kanker Serviks melalui IVA Test.

“Ibu-ibu kader PKK yang hadir diharapkan dapat menjadi contoh, memberikan pemahaman dan menggerakkan masyarakat di lingkungannya untuk melaksanakan IVA Tes secara berkala,” pintanya.

Sementara itu dr. Wasis Nupikso, SpOG selaku nara sumber mengatakan penyakit kanker Serviks masih menjadi pembunuh wanita didunia. Selain kanker Serviks, kanker payudara juga menjadi momok bagi wanita.

Dua kanker itu banyak ditemui kasusnya didunia. Posisinya menempati peringkat ketiga di dunia. “Penyakit ini memang banyak di takuti, tidak hanya di Indonesia namun juga didunia,” ujarnya.

Wasis Nupikso mengatakan penyakit kanker Serviks banyak dijumpai di negara berkembang. 80% kasus baru terjadi di negara berkembang. Ia katakan pasien yang dihinggapi kanker Serviks selalu terlambat melakukan pengobatan. Kebanyakan dari mereka sudah stadium lanjut datang kerumah sakit. “70% yang datang dalam stadium lanjut,” ucapnya.

Dokter Kandungan yang bertugas di RSUD Sidoarjo paparkan, penyakit kanker Serviks dapat dicegah. Di Indonesia penyakit kanker Serviks menempati urutan nomer satu yang banyak ditemui. Setiap hari ada 58 kasus baru ditemukan.  “Yang meninggal sekitar 26 ibu-ibu atau wanita karena penyakit kanker leher rahim ini,” ucapnya.

Ia katakan ada beberapa gejala kanker Serviks. Namun untuk kanker Serviks stadium dini tidak ada gejala yang khas. Hanya saja yang sering dijumpai adalah keputihan. Sedangkan gejala kanker Serviks stadium lanjut adalah pendarahan saat bersenggama. Selain itu ditandai dengan keputihan yang tidak wajar yakni berwarna kuning bercampur darah dan berbau.

“Nah ini biasanya ibu-ibu datang dengan keluhan ini, koq., ada pendarahan ya., dok diluar haid atau saat berhubungan,” ujarnya.

Wasis Nupikso katakan ada beberapa faktor resiko penyebab kanker Serviks. Diantaranya hubungan sex pada usia muda, sering berganti pasangan, sering infeksi di daerah kelamin serta melahirkan banyak anak. Selain itu merokok serta kekurangan vitamin A, C dan E juga menjadi penyebab timbulnya kanker Serviks.

Selain beberapa faktor resiko tersebut penyebab kanker Serviks adalah virus HPV (Human Papiloma Virus). Virus  ditularkan melalui hubungan sex. Ia katakan, ada dua cara menanggulangi virus tersebut.

Cara primer dengan vaksinasi sedangkan cara sekunder dengan menggunakan pap smear atau pemeriksaan skrining maupun dengan IVA Test. Ia meminta ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan kanker Serviks tidak takut akan hasilnya. Dengan diketahui penyakitnya sedini mungkin maka pengobatan kanker Serviks dapat maksimal.

Ia katakan virus HPV membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadi sel kanker Serviks. Paling cepat 10 tahun sejak virus bersarang ditubuh manusia tanpa pengobatan.

“Ini masih bisa dirubah, kalau ketemunya displasia (pembentukan dan perkembangan sel secara tidak beraturan) yang ringan, sedang masih bisa diobati menjadi baik,”ucapnya.

 

editor: maliki hd

 

Pos terkait