Al Ustadz Endang Haryana

Ustadz Endang Sosok yang Bangkit dari Keterpurukan dan Dirikan Sekolah Gratis

Al Ustadz Endang Haryana

TANGERANG, AMUNISINEWS.CO.ID — Al Ustadz Endang Haryana Tajuddin Syarif merupakan sosok yang bangkit dari keterpurukan hidup hingga dapat mendirikan lembaga yang diberi nama Yayasan Majlis Dzikir Al-Ikhlas (YMDAI), beralamat di Kampung Manukung, Desa Rancabuaya, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang. YMDAI bergerak di bidang sosial, pendidikan dan pondok pesantren atau sekolah gratis.

OLEH ED

Prinsip hidup Ustadz Endang, jika seseorang diberi kemiskinan atau kekurangan sesungguhnya ia diuji dengan kemiskinan dan kekurangannya tersebut. Apakah akan bisa tabah dan bersabar menerima segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sedangkan jika diberikan kekayaan dan kelebihan ia juga sedang diuji dengan hal itu.

“Apakah dengan kelebihannya seseorang itu bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan tidak melupakan Allah sebagai Yang Maha Kuasa yang memberikan semua itu untuknya. Banyak sekali orang yang sombong, merasa semua kelebihan yang dimiliki seseorang adalah miliknya, padahal semua itu pemberian sekaligus ujian dari Allah,” begitu prinsipnya.

Al Ustadz Endang Haryana Tajuddin Syarif menceritakan pengalaman pahit hidupnya yang jauh dari kesejahteraan pada waktu-waktu sebelumnya. Namun, jiwa pengorbanan sudah muncul ketika dirinya masih remaja. Seperti rela tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTA semata-mata karena membantu perekonomian keluarganya.

“Orang tua saya sebenarnya orang tua saya tetap menginginkan saya untuk melanjutkan sekolah, tapi saya putuskan untuk membantu perekenomian keluarga saja. Kalau saya masuk SMA rasanya tidak rela menjadi beban dan melihat orang tua menderita,” ungkap pria senang humor kelahiran 1 Maret 1957 ini.

Tak hanya sampai di situ pengorbanan Endang, untuk membantu ekonomi keluarga Endang mau berkeliling menjual es dan gorengan. Pendeknya, apapun dilakukannya agar adiknya tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya. Dan itu dilakukannya karena ia sadar orang tuanya yang seorang polisi terkena PHK atas kebijakan Presiden saat itu.

“Dari delapan anak orang tua saya, cukup saya saja yang tidak sekolah,” tutur pria yang mempunyai berpendirian keras dengan suara lantang ini.

Selain berniaga, saat remajanya Endang pun giat mengasah bakat seni perannya di Sanggar milik Slamet Rahardjo . Bertahun-tahun ia geluti dunia itu dengan harapan ingin menjadi bintang peran di dunia industri peran. Dirinya mengaku, pernah mendapatkan penghargaan dari IKJ dan Gubernur Jakarta yang saat itu dipimpin oleh R Suprapto, bahkan di ujung karirnya ia sempat ditawari untuk bermain peran di film Si Doel Anak Betawi.

“Saya tidak ambil tawaran itu dan saya lebih memutuskan untuk menikah serta meninggalkan dunia seni peran setelah mendapatkan masukan dari orang tua saya,” ujar Endang menceritakan rasa kecewanya.

Pengalaman pahit kian bertambah ketika dirinya harus mengemban tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga yang sedang dibangunnya. Dunia peran yang didambakannya sudah ditinggalkannya. Kini ia harus mencari profesi lain dengan berbekal ijazah SMP. Dirinya merasa bersyukur ketika ia pernah mendapatkan pekerjaan sebagai office boy dan kuli bangunan hingga pernah diangkat menjadi kepala bangunan.

“Dengan bermodal ijazah SMP, ya alhamdulillah saya bisa mendapatkan pekerjaan walaupun seperti ini,” tuturnya.

Saat rasa frustasi menghadapi hidup, orang tua Endang bernama Raden Mas Saprani selalu datang memberikan motivasi terhadap dirinya. Sampai suatu ketika Bapaknya membeberkan sebuah wasiat kakeknya, serta menjelaskan silsilah keturunannya.

“Bapak saya mengatakan, saya ini keturunan Demang pertama di Banten yakni Demang Usman Sapta Praja yang diantara keturunannya kebawah yakni Ki Al Khusaeni dan silsilah ke atasnya hingga ke Sultan Maulana Hasanudin Banten,” kisah Endang dengan nada haru menceritakan saat pertama kali mendengar cerita ayahnya.

Endang mendapat wasiat dari ayahnya untuk meneruskan perjuangan leluhur keluarganya yang berjuang di jalur agama. Hingga suatu ketika ia memutuskan untuk meninggalkan anak istri untuk memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Nadwatuldzikri Thoriqoh Al Mu’tabaroh Al Qodiriyah Wa Naqsabandiyah dengan Syekh Tubagus Ahmad Kadzim keturunan dari Ki Asnawi Caringin di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. “Di sana saya diajarkan akidah dan ketauhidan serta dibekali ilmu untuk menjadi ahli dzikir sehingga untuk terus dekat bersama Allah SWT,” terangnya.

Dalam masa menuntut ilmu, Endang jelas tidak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Setiap harinya ia selalu berdoa kepada Allah SWT untuk menjaga keluarganya. Hingga akhirnya dirinya merasa sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT karena banyak sekali masyarakat yang datang ke istrinya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Bantuan datang begitu saja, tiba-tiba ada yang ngasih beras serta sembako lainnya, bahkan tiba-tiba ada yang mau membiayai sekolah anak-anak saya, serta ada anak saya yang mendapatkan beasiswa dari sekolah,” ujar Endang dengan nada rendah saat mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Atas pengalaman-pengalamannya itu, Endang berniat kepada diri sendiri dan bernazar kepada Allah SWT untuk membangun lembaga sosial, untuk membantu segala kebutuhan pangan masyarakat duafa dan pendidikan formal secara gratis dan ingin membangun pondok pesantren gratis.

Seusai menimba ilmu pada tahun 2005 dirinya langsung bergerak menuju apanya yang menjadi niatnya. Hal pertama yang dilakukannya ialah dengan mendirikan Yayasan Majlis Dzikir Al-Ikhlas. Kemudian yayasan ini berjuang dan bergerak dengan baitul mal. Di tahun 2011 yayasan akhirnya memulai peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Bupati Ismet Iskandar untuk pembangunan pondok pesantren di atas lahan seluas 3200 meter persegi.

“Alhamdulillah Yayasan Majlis Dzikir Al Ikhlas kini sudah mempunyai bangunan asrama untuk santri, ada pendopo untuk majlis dan ada ruangan kelas untuk pendidikan TKIT, TPQ, TPA dan SDIT serta pesantren gratis,” papar ustadz Endang.

Dia sebutkan lagi, kedepan dirinya berencana untuk membangun Panti Sosial dan membangun ruangan pendidikan bagi SMP dan SMA serta Masjid sebagai tempat ibadah para santri dan masyarakat sekitar.

“Seluruh yang saya lakukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah dengan melakukan muamalah terhadap makhluk,” terangnya.

Perlu untuk diketahui, saat ini sekitar 70 santri mukim mereka juga sebagai amilin yang sebagian melakukan penggalangan dana untuk kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana serta biaya operasional sehari-hari mereka. Untuk TPQ dan TPA saat ini menampung 80 siswa-siswi dan 34 anak didik TKIT. Sedangkan untuk Sekolah Dasar Islam Terpadu baru menerima pendaftaran peserta didik baru dengan kuota 50 orang yang diutamakan dari yatim, piatu dan dhu’afa.

138 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KORAN AMUNISI

dan AMUNISINEWS.CO.ID

Ide dasar penerbitan Surat Kabar Umum (SKU) Amunisi dan Amunisinews.co.id antara lain membantu pemerintah dalam upaya penegakkan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP-RI) No, 68 tahun 1999, yang ditetapkan pada 14 Juli 1999 mengatur bagaimana peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara, termasuk membantu penegakan hukum dan percepatan pemberantasan korupsi. Amunisi adalah bagian dari masyarakat, yang diharapkan pula dapat berperan aktif. Karena itu, sebagai media cetak, yang akan turut serta dalam penegakkan hukum di Indonesia, Amunisi harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Tentunya, diaflikasikan dalam bangun tubuh (halaman) dengan organ-organ (rubrikasi) yang tepat sasaran, yakni setiap yang disajikan adalah berisi informasi-informasi yang digali melalui kerja keras investigasi dengan pendalaman yang dapat dipertangungjawabkan.