Vonis 20 Tahun Jessica, Hakim Paksakan Keyakinannya

  • Whatsapp
Wilmar R Sitorus, SH
andalan Wilmar
Wilmar Rizal Sitorus, SH, MH

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM– Vonis 20 tahun penjara bagi Jessica Kumala Wonggo oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (27/10) memunculkan pertanyaan besar. Apakah keyakinan hakim mengalahkan keterangan saksi ahli eksak (forensik) sehingga fakta persidangan harus terabaikan?

Nah, pertanyaan ini mengemuka dari seorang pengacara senior Wilmar Rizal Sitorus SH, MH dalam diskusi dengan Amunisi, Jumat (28/10). “Hakim Kisworo berdasarkan keyakinannya berani menyatakan Jessica terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana,” kata Wilmar Rizal Sitorus. “Ini satu bukti jawaban bahwa keyakinan hakim akhirnya mengalahkan saksi ahli forensik,” tambahnya.

Padahal, menurut Wilmar, dalam persidangan saksi ahli sudah mengemukakan pendapatnya berdasarkan disiplin ilmunya bahwa 0,2 miligran cianida di lambung tidak membuktikan sebagai penyebab meninggalnya Mirna Wayan Salihin. Otopsi harus dilakukan tapi vonis sudah terlanjur dijatuhkan sehingga Jessica harus menjalani hukuman 20 tahun penjara sebagai pelaku pembunuhan berencana, sesuai tuntutan jaksa.

“Menurut pendapat saya, hakim telah menyalahgunakan keyakinannya dengan cara melawan keterangan ahli yang memiliki otoritas untuk menyimpulkan penyebab kematian Mirna karena apa.   Bagaimana kalau para dokter forensik otopsi melakukan protes menyangkal  terhadap penyebab kematian Mirna karena cianida.? siapa yg bisa membantahnya?. Saya ingatkan  hati-hati  dalam melihat kasus ini, karena keyakinan hakim telah ‘tertutupi’ dengan keterangan saksi- saksi lain,  keterangan ahli bidang lain dan CCTV yang telah bersesuaian,  yang menurut pendapat saya bisa dilakukan dengan cara simulasi sebelum perkara disidangkan dan kenapa itu dilakukan? Ya, karena tidak ada otopsi!” tandas Wilmar penuh semangat.

Dalam menyikapi sikap hakim ini, hakim Agung memang masih pasif, namun Hakim Tinggi harus terkawal karena, kata Wilmar, nuansanya tidak lagi sekadar penegakan hukum belaka, melainkan terlihat jelas majelis hakim dalam menggunakan haknya (keyakinan hakim) dilakukan secara melawan hukum.

“Mengapa saya katakan keyakinan hakim melawan hukum, yaitu, pertama tidak ada saksi fakta nyang melihat Jessica memasukan cianita ke dalam gelas kopi yang diminum Mirna, yang dikuatkan oleh keterangan ahli pathologi forensik yang menegaskan Mirna meninggal bukan karena cianita. Dan kedua, tidak pula dilakukan otopsi, sehingga secara pasti kematian Mirna penyebabnya bukan karena cianida, Fakta ini dilawan oleh hanya karena keyakinan hakim,” katanya.

Keyakinan hakim antara lain menyebut hanya Jessica yang ada di sana sebelum dan sampai akhirnya Mirna meminum kopinya dan mati. “Keyakinan hakim seperti ini harus dipertanyakan karena sangat tidak masuk akal dan tidak rasional. Contoh eksaknya 2 + 2 = 4. Bolehkah hakim dengan keyakinannya menyatakan 2=2 = 3, atau 5. Di sini, menurut saya ada pemaksaan hakim terhadap keyakinannya untuk memvonis Jessica. Keyakinan hakim akan patah bila dokter pathologi forensik membuat pernyataan atau keterangan ahli,” urai Wilmar. (dra)

Pos terkait