Webinar Indonesia Poros Maritim Dunia guna Lindungi Asset Kelautan Indonesia dari Perusak Lingkungan

  • Whatsapp

Oleh, Budi Setiawan

JAKARTA, AMUNISINEWS.CO.ID.- Lindungi Kekayaan Laut Indonesia dari Limbah Radioaktif dan Kerusakan Lingkungan menyikapi Rencana Pemerintah Jepang yang akan melepas/membuang treated water dari PLTN Fukushima ke laut Samudra Pasifik berupa Limbah radioaktif cair yang berasal dari kecelakaan PLTN Fukushima yang merupakan air yang mengandung Tritium dan mengancam potensi kerusakan Sumber Daya Kelautan berbagai negara termasuk Indonesia, Kerusakan Ekosistem Laut dan berbahaya bagi Manusia. Webinar dilaksanakan pada; Rabu, 7 Juli 2021-Pkl 19.00-21.00 WIB

Via zoom meetings
Narasumber

  1. Maman Abdurrahman, ST (Wakil Ketua Komisi VII DPR RI)
  2. Abdul Halim (Lembaga Pusat Kajian Maritim Untuk Kemanusiaan )
  3. Henrich Rudolf Warouw (LSM Perbatasan Nusantara)

Moderator; Rachel Cicilia Tuerah

Link Registrasi, bit.ly/webinarjongindo77

FREE E-SERTIFIKAT- Narahubung, Wahyu +62 852-3339-1604

Pada tanggal 3 Maret 2011 gempa berkekuatan 8,9 skala richter mengguncang wilayah selatan pantai Jepang yang diikuti diikuti oleh terjadinya tsunami. Gempa dan tsunami memicu terjadinya kecelakaan reaktor nuklir Fukushima di Jepang. Terjadinya bencana alam dan bencana teknologi secara bersamaan yang dikenal dengan bencana 3/11 merupakan bencana terbesar dalam sejarah Jepang. Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki manajemen bencana yang handal dan menjadi salah satu model pengelolaan bencana di dunia. Namun, Pemerintah Jepang tidak siap dalam menghadapi terjadinya bencana 3/11. Ketidaksiapan Pemerintah Jepang dalam menghadapi bencana 3/11 terlihat dari kurang adanya koordinasinya antar lembaga pemerintah dan perusahaan operator reaktor nuklir dalam menangani bencana nuklir Fukushima.

Selain itu, Pemerintah Jepang mengalami kesulitan dalam memprediksi dampak kecelakaan reaktor nuklir yang ditimbulkan. Radiasi nuklir bersifat tidak dapat dirasakan oleh panca indera, dan manusia pada tingkat tertentu dapat berdampak panjang, lintas generasi, dan lintas geografi sehingga dapat membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan. Karakteristik tersebut menyebabkan masyarakat tidak mengetahui apakah mereka terpapar radiasi atau tidak sehingga hal tersebut menyebabkan ketakutan dan kepanikan masyarakat pascabencana nuklir Fukushima.

Sebelum bencana nuklir Fukushima terjadi, energi nuklir dianggap sebagai energi yang aman, bersih dan dapat diandalkan. Namun, bencana nuklir Fukushima mengungkapkan fakta lain tentang bahaya energi nuklir. Kondisi saat ini kini setelah 10 tahun bencana tersebut Pemerintah Jepang berencana untuk  melepas/membuang treated water dari PLTN Fukushima ke laut Samudra Pasifik berupa Limbah radioaktif cair yang berasal dari kecelakaan PLTN Fukushima merupakan air yang mengandung Tritium.

Tritium di alam merupakan produk dari reaksi nuklir antara molekul udara (Nitrogen dan Oksigen) dan sinar kosmik berenergi tinggi di dalam atmosfer. Secara buatan, Tritium merupakan lepasan yang dapat berasal dari PLTN dan percobaan senjata nuklir.

Kedua kegiatan ini dapat menyebabkan peningkatan Tritium secara signifikan di lingkungan. Tritium dapat menimbulkan resiko kesehatan jika dikonsumsi langsung ke dalam tubuh dalam jumlah yang sangat besar karena radiasi beta yang dipancarkan dapat merusak jaringan lunak dan organ dalam tubuh manusia.

Efek kesehatan dari Tritium mirip dengan kerusakan sel yang disebabkan oleh r5adiasi pengion yang dihasilkan dari peluruhan radioaktif, dengan potensi kanker. Namun, seseorang perlu menerima Tritium dengan aktivitas miliaran (x109) becquerel (Bq) untuk melihat efek kesehatannya.rencana pembuangan limbah Tritium ke laut yang dilakukan oleh Jepang lebih tepat dipandang sebagai suatu bentuk klirens (Bq/unit massa), yaitu pembebasan dari pengawasan badan pengawas terhadap limbah radioaktif,karena limbah cair yang mengandung tritium dan sebelumnya memerlukan pengawasan akan dibuang ke laut, yang akhirnya tidak perlu lagi untuk diawasi. Secara internasional, WHO memberikan batasan tritium dalam air minum sebesar 10.000 Bq/L. Untuk beberapa negara batasan tritium dalam air minum adalah sebagai berikut: Amerika Serikat 740 Bq/L, Kanada 7.000. Bq/L, Swiss 10.000 Bq/L, dan Australia 76.103 Bq/L.Pembuangan limbah nuklir sebanyak 1,25 juta ton ke lautan di Samudra Pasific ini diumumkan pada 13 April 2021 lalu. Rencananya limbah nuklir yang berasal dari pembangkit nuklir Fukushima yang bocor akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011 lalu akan dibuang dalam dua tahun mendatang.

Sejumlah pihak dari beberapa negara seperti Korea Selatan dan Tiongkok menolak rencana pembuangan limbah nuklir Jepang ke laut karena dianggap bisa membahayakan lingkungan laut dan mengancam ekosistem di dalamnya juga manusia.

Pemerintah Jepang harus benar-benar menghitung dampak negatif dari pembuangan limbah nuklir tersebut terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Sebab dampak pembuangan limbah nuklir, apalagi dalam jumlah yang sangat besar akan berdampak pada ekosistem laut. Apalagi jika pemerintah Jepang tidak mengelola dengan baik limbah nuklir tersebut sebelum di buang ke laut.

Limbah nuklir yang mengandung zat radioaktif berumur panjang peluruhannya, dapat membahayakan perairan dunia hingga perairan  indonesia. Sebab limbah tersebut dapat terbawa oleh arus laut. Zat radioaktif berumur panjang menyebabkan dampak yang berbeda-beda bagi hewan dan manusia mulai dari pusing atau sakit kepala, epilepsi, pingsan, menyebabkan kanker, bahkan dapat berujung pada kematian bila kadar kontaminasinya tinggi. Tidak hanya manusia dan hewan, efek zat radioaktif berumur panjang juga dapat menyebabkan kematian biota laut yang terkontaminasi.

Termasuk nasib nelayan, tak hanya nelayan Indonesia, juga banyak nelayan dari negara-negara lain yang juga mencari ikan di Laut China Selatan dan lautan lain di Samudera Pasific. Banyak kapal dari Indonesia dan negara negara lain yang menangkap ikan di sana (Laut China Selatan) dan itu ada ikan, cumi cumi dan itu dieskpor tentu saja akan berpengaruh terhadap kandungan ikan yang mengandung timbal dan mercury Jadi dampaknya bukan hanya jangka pandek saja tetapi jangka panjang terhadap lingkungan dan manusia.Untuk itu Forum Jong Indonesia meminta pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dimana sumber kekayaan lingkungan ada dilaut dan Indonesia sebagai poros maritim dunia harus mampu melindungi kekayaan laut ini dan laut untuk manusia dari berbagai negara.

Maka Forum jong Indonesia menggadakan Webinar Publik yang dilaksanakan secara daring pada hari Rabu, 26 Mei 2021. dengan opening speech Bapak Hendrik Jauhari Oratmangun sebagai founder Forum Jong Indonesia dan keynote speaker yang rencananya dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan narasumber yang hadir Bapak Maman Abdurrahman sebagai Wakil Ketua Komisi VII, Bapak Abdul Halim dari Lembaga Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan dan Bapak Henrich Rudolf Warouw dari LSM Perbatasan Nusantara serta di moderatori oleh Rachel Cicilia Tuerah.

Webinar ini untuk mengkaji dan mengkritisi terkait rencana kebijakan Pemerintah Jepang yang akan membuang limbah nuklirnya ke Laut demi penyelamatan dan keberlangsungan Sumber Daya Kelautan dan Lingkungan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *