Ada Mafia Dalam Pembayaran Kompensasi Lahan Masyarakat

Oleh : Roesliyani

KETAPANG, AMUNISINEWS.CO.ID – Datangnya sebuah badan usaha (Perusahaan) ke suatu daerah, harusnya berdampak pada perekonomian daerah tersebut yang bisa menjadikan banyak mamfaat pada masyarakat setempat, mulai dari banyaknya lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran juga menciptakan peluang ekonomi rakyat dan mensejahterakan lingkungan lewat Program sosial lainnya. Namun semua ini hanya tehnical desain untuk PT Agra Jaya Bhaktitama (AJB) di Desa Lanjut Mekar Sari, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Bacaan Lainnya

Tim Amunisi,menjumpai Yohanes Tehadi Efendi, Ketua Koperasi Lanjut Jaya makmur Sejahtera (LJMS), yang bermitra dengan PT AJB, di rumah kediamannya, Selasa pagi (12/4/22).

Tehadi sapaan akrabnya mengatakan, “masyarakat Desa Lanjut Mekar Sari ini, membebaskan lahan di tahun 2010 sebanyak 1.700 hektar, cpada PT AJB dengan kompensasi 1.700.000 rupiah perhektar, yang diterima pemilik lahan dan tali asih Kayu Madu, di bayar oleh PT AJB 1.000.000 rupiah per batang,” ungkapnya.

Namun Tehadi menganggap ada Mafia didalam proses pembayaran tersebut.

“Sekarang saya baru tahu, rupanya ada Mafia di dalam pembayaran kompensasi, yang di lakukan PT AJB selama ini. Pembayaran kompensasi yang sebenarnya bukan 1.700.000 perhektar, melainkan 4.000.000 perhektarnya yang seharusnya sampai ke pemilik lahan. Kami di rugikan dan di akali oleh PT AJB 2.300.000 rupiah perhektarnya,” keluh Tehadi.

Tehadi meneruskan, “terkait Kayu Madu pihak PT AJB mengakui satu hektar lahan, satu batang Kayu Madu, kenyataan di lahan 1.700 hektar, Kayu Madu yang di hitung dan mendapat tali asih pembayaran Dari PT AJB hanya 10 batang. Ini juga nampak ketidak jelasan sistim pendataan dan penyampaian tali asih pada masyarakat Desa Lanjut Mekar Sari, baik tentang hitungan Kayu Madu, juga tentang kompensasi lahan masyarakat dari PT AJB,” tambahnya.

Tehadi berharap, pihak PT AJB agar segera mengganti kerugian masyarakat yang telah menyerahkan lahan dan mengembalikan ganti rugi tanam tumbuh sesuai dengan harga yang sebenarnya, sejak tahun 2010 silam.

“Kami bisa sejahtera bilamana kami bermitra pada perusahaan yang sehat. Kami tidak akan sejahtera kalau kami bermitra dengan PT AJB yang korupsi,” tutup Yohanes Tehadi Efendi.

Sementara salahsatu warga Desa Lanjut Mejar Sari bernama Beni ketika ditemui di tumah pribadinya menjelaskan, “petani mitra sekarang, benar-benar tertipu dengan PT AJB ini, kami di Bebani utang, sementara kebun mitra kami tidak dirawat. Sekarang lahan enclave kami di dalam HGU PT AJB tidak akan kami kompensasikan lagi. Lebih baik di buka kebun mandiri daripada bermitra pada PT AJB yang tak jelas hitungan nya. Buktinya sekarang tercium, kalau selama ini PT AJB benar benar menjajah kami yang bermitra dengan nya. Semoga pemerintah dan dinas terkait bisa profesional mengatasi masalah antara kami petani mitra dengan PT AJB yang selama ini mendzalimi kami sebagai petani,” tegas Beni.

Pos terkait