Aisya Direkrut Jadi Agen Korut?

  • Whatsapp
Aisyah
Aisyah (foto: ist)

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM-Cerita soal Tenaga Kerja Wanita Indonesia (TKWI), tidak selalu menjadi korban kekerasan majikannya. Entah disiksa, gaji tidak dibayar, diperkosa hingga perlakukan tidak senonoh lainnya. Semua itu menguras air mata. Belum lagi ditambah perlindungan terhadap TKI belum optimal. Padahal, TKI yang di Indonesia disebut sebagai Asisten Rumah Tangga (ASR), dielu-elukan sebagai pahlawan devisa.

Tapi, di antara sekian haru biru kisah TKI di negeri orang, muncul cerita lain yang membuat khalayak terperangah: TKI wanita direkrut jadi inteligen, ataupun spionase. Tak tanggung-tanggung, negara yang merekrutnya adalah Korea Utara, satu-satunya negara yang kukuh menjalankan ideology komunis. Ia tak lain adalah Siti Aisyah, yang ditangkap Polisi Malaysia, dituduh membunuh Kim Jong Nam, kakak tiri dari dictator Korea Utara, Kim Jong Un.

Hebatnya lagi, pembunuhan itu, bukan dilakukan di tepi sepi. Apalagi menggunakan senjata api, pisau ataupun benda-benda keras lainnya. Melainkan di tempat keramaian, Bandara Internasional Kuala Lumpur, tepatnya di ruang chek in. Korban yang saat itu berdiri, tiba-tiba saja dibekap dari belakang – seorang wanita asal Vietnam, Don Thi Huong. Di depan, Siti Aisyah – seperti terekam dalam CCTV, bergegas menghampiri. Tangannya langsung menyemprotkan sebuah zat kimia ke lelaki bertubuh tambun itu. Sontak saja Kim Jom Nam kelonjotan. Kejadian itu begitu cepat, diperkirakan sekitar lima menit.  Ia sempat dilarikan ke klinik di bandara tersebut.

Korban yang sempat berteriak mengerang kesakitan, dibawa petugas ke klinik di bandara tersebut. Dari itu, karena kondisinya parah, coba dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Dalam perjalanan, Kim Jom Nam meregang nyawa. Ia tewas dengan mata yang mengalami iritasi berat.

Lantas, kemana Siti Aisyah dan Don Thi Huang itu? Kedua perempuan berbeda negara itu, dengan menggunakan taksi, balik ke hotel Ampang, tidak jauh dari bandara. Ketika ditangkap, perempuan asal Serang, Banten ini, berada di lantai III hotel tersebut. Di kamarnya ditemukan beberapa barang mewah, uang 100 dolar dan dua buah handphone, termasuk paspor yang dikeluarkan imigrasi Serang. Sejak itu, sosok Aisyah pun menjadi buah bibir masyarakat internasional. Lebih-lebih di Tanah Air. Jati diri ibu satu anak ini terungkap.

Paling mencolok, soal kiprahnya di negeri Jiran itu. Aisyah dikait-kaitkan sebagai spionase yang direkrut oleh Korea Utara. Apalagi, negeri yang bersiteru dengan tetangganya itu – Korea Selatan, bersikukuh meminta agar Aisyah dan rekannya dibebaskan. Korut mengklaim mereka tidak bersalah. Apalagi membunuh hanya dengan “petunjuk” CCTV. Begitupun Ri Jong Chol, berusia 47 tahun, warga negara Korea Utara yang telah tinggal di Malaysia selama tiga tahun terakhir. Ada tiga tersangka lain yang diburu oleh polisi Malaysia.

Upaya pembebasan dan klaim tidak bersalah itu, memuatkan dugaan bahwa Korut di belakang pembunuhan itu. Cuma, tidak diketahui pasti alasan pembunuhan itu. Banyak menyebut, kakak tiri itu dikenal kritis terhadap pemerintahan Korut.  Sayangnya, usulan itu ditolak oleh Malaysia, yang membuat hubungan kedua negara itu tegang.

Yusuf Kalla, Wakil Presiden, menyangsingkan ibu berusia 25 tahun itu sebagai agen. Alasannya, jika benar Aisyah sebagai agen, maka tidak mungkin tetap berada di Malaysia seusai membunuh. “Saya kira sudah tidak ketahuan ke mana rimbanya. Tapi kok dia pergi ke hotel, tidur dan bersembunyi di hotel dekat airport itu,” katanya.

Jadi, JK menyakini pengakuan Aisyah sendiri, melakukan “pembunuhan” itu untuk reality show. “Siti Aisyah itu sebenarnya korban dari kasus itu, terutama korban rekayasa dan penipuan pihak tertentu,” ungkapnya. Maklumlah, seperti ditulis media asing, Aisyah yang katanya bekerja di klub malam, ditawari “pekerjaan” itu dengan bayaran Rp 100 dolar, kisaran Rp 1.3 juta. Tugasnya hanya mengerjai orang yang tak dikenal. Karena butuh uang, ia menyanggupi pekerjaan itu, kendati tidak kenal dengan korban.

Sementara itu, upaya membantu dan menemui Aisyah terus dilakukan oleh pemerintah. Sayangnya, polisi Malaysia belum memberikan aksesnya. Sedang penahanannya diperpanjang. “Itu menunjukkan bahwa belum cukup bukti untuk melakukan penuntutan,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Lalu Muhammad Iqbal Songell. Toh begitu,  Indonesia menghargai proses hukum di Malaysia. (TIM)*/dra

 

Pos terkait