Akibat Alat Kurang Ramah Lingkungan, Nelayan Tambak Cemandi Sulit Menangkap Ikan

Oleh: Tama Pratiwi

SIDOARJO, AMUNISINEWS.CO.ID – Nelayan Desa Tambak Cemandi Kecamatan Sedati mulai kesulitan untuk mendapatkan penghasilan. Diduga keberadaan rumpon serta cuaca Extrim (buruk) dan tak menentu membuat hasil tangkapan berkurang.Hal ini dialami warga yang selama ini bergantung hidup pada tangkapan ikan, Senin (21/2/2022).

Bacaan Lainnya

Basiron (55) salah satu nelayan warga Dukuh Gisik Kidul RT 5 RW 2 saat ditemui Amunisi mengatakan, yang dikeluh kesahkan itu kita sudah beli bahan bakar, minimal itu kita akan merugi bila tidak dapat tangkapan. Jadi berangkatnya kita seratus ribu sampai dua ratus ribu, otomatis kalau tangkapannya itu tidak ada sama sekali sehingga kita ngutang,

“Hal ini sering sekali kita tidak dapat tangkapan, dengan cuaca buruk, terus ikan yang di cari jarang. Karena ada alat-alat yang merusak lingkungan, seperti yang alat Pasuruan untuk mencari itu terutama CW,” keluh Basiron.

Basiron menambahkan, selain perubahan cuaca kendalanya adalah alat dari Pasuruan yang merusak lingkungan, akhirnya ikan-ikan itu pada pergi dan tidak ada di wilayah kami, jelas Basiron yang juga selaku wakil Ketua Nelayan Samudera Biru RT 4/01 Desa Tambak Cemandi, Dusun Gisik Kidul Kecamatan Sedati.

“Harapan kami untuk diperhatikan lagi, terutama bagi kami nelayan Tambak Cemandi diberikan pelatihan-pelatihan. Agar di cuaca yang buruk seperti ini ikannya tidak ada kita bisa mendapatkan penghasilan,untuk menutupi kebutuhan rumah tangga kami. Kami berangkat mencari ikan tergantung alat tangkap, kadang berangkat jam 12 malam pulangnya jam 9 pagi. Ada yang berangkat sebelum subuh berangkat pulangnya jam 4 sore,” imbuh Basiron.

Hal senada diungkapkan ketua nelayan Samudera Biru, Desa Tambak Cemandi Muad (42) “kesulitan kami terutama saat harga sembako semakin tinggi. Pengaruh kami dipendapatan saat dibulan musim barat ini,” keluh Muad.

Lebih jauh Muad menjelaskan, sangat susah penangkapan disekitar laut Jawa, harus kerja extra. Pendapatan nipis, terlebih dikarenakan berangkatnya berbeda, ada yang jam 1 malam, ada yang habis magrib, ada yang jam 6 pagi, nelayan tidak tergantung waktu, musim dan hasil tangkapan.

“Kami dan para nelayan tidak melaut karena cuaca buruk, dan untuk hasil tangkapan tidak bisa fokus jenisnya karena banyak jenis ikan-ikan saat ini dan pengaruh dari alat tangkap salah satunya Serog, reg (model huruf C) seser,” pungkas Muad

“Dinas perikanan sudah turun ke lapangan mas dan juga aktif, serta bantuan juga ada. Namun faktor utama iklim pengaruh extra, dan alat tidak ramah lingkungan. Harapan saya selaku ketua, kalau bisa alat tangkap yang tidak ramah lingkungan terutama dari Pasuruan dihapus atau dihilangkan seperti alat CW (pukat Harimau kecil).” Terang Muad.

Ditempat yang sama ketua RT 02 Fatimah menambahkan, “saya perwakilan dari Rt. 02 yang kebanyakan warga saya nelayan. Mereka ke laut, cari ikan udang, ikan kan beda-beda alatnya, tidak sama dan ada juga yang cari kerang bibit. Biasanya keluhan pasti ada, sudah berangkat tapi pulangnya tidak dapat apa-apa, itu sering sekali keluhan dari warga seperti itu. Mungkin karena kondisi cuaca tidak memungkinkan atau lainnya saya tidak tahu. Kalau masalah sudah berangkat terus nyampai di laut, karena angin, ombak besar tapi juga sering itu jadi keluhan warga. Terutama di Dusun Gisik Kidul,” terang Siti Fatimah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.