Aneh, Kesaksian Darusman Tak Menyinggung Mantan Rektor

  • Whatsapp

sidang-korupsi-solar-cell-ubb_20160919_202136PANGKALPINANG,AMUNISINEWS.COM –  Kebobrokan dalam proyek pengadaan Solar Cell milik universitas Bangka Belitung (UBB) kian menganga lebar di persidangan Pengadilan Tipikor kota Pangkalpinang. Dalam sidang  mendengar  saksi PPK, Darusman dan mantan wakil Rektor 2 Ahmad Fauzi yang digelar kmarin hingga saling menyudutkan antara para saksi dan terdakwa Dedi Sapja.

Dalam keterangan Darusman kepada majelis hakim yang diketuai Setyanto Hermawan mengungkapkan kalau sedari awal proyek bernilai Rp 13 Milyar itu kental pengkondisian dari pihak UBB sendiri. Dimana menurut Darusman dirinya yang merupakan PPK (pejabat pembuat komitmen) nyaris tak difungsikan secara layak. Terlihat dari tugas pokok PPK dan kewajiban-kewajiban yang diambil alih langsung oleh pihak UBB. Seperti pembuatn HPS (harga perkiraan sendiri) dan RAB yang langsung ditangani oleh terdakwa Dedih Sapja.

“HPS dan RAB sudah disiapkan tim teknis Dedi Sapja. Saya tinggal menandatanganinya saja. Dia (Dedi Sapja) menyerahkanya di secretariat UBB. Saat itu ada saksinya Bustari,” ungkap Darusman.

Lalu anggota majelis hakim, Suryadi, memotong ucapan Darusman. “Saksi  sendiri (Darusman) gak bertanya kepada terdakwa sebagai PPK jadi apa kerjanya kalau HPS dan RAB dibuat terdakwa.  Kan itu tugasnya PPK (Darusman),” sanggah Suryadi.

Oleh Darusman dikatakan kalau dirinya saat itu hanyalah bawahan dari Dedi Sapja. Sehingga terpidana korupsi pengadaan peralatan laboratorium UBB itu aku tak bisa berbuat apa-apa. “Saya hanya bawahan pak Dedi Sapja. Tetapi memang itu salah pak, tugas saya mestinya yang buat HPS dan RAB,” katanya.

Darusman juga dalam kesaksian mengungkapkan soal kedekatan antara terdakwa Dedi Sapja dengan pihak kontraktor dalam proyek-proyek UBB. Disebutkanya seperti kedekatan dengan terdakwa Franchisca Anggela dan Wihelmena (terpidana korupsi proyek pengadaan alat-alat laboratorium).

“Pak Dedi Sapja sangat dekat dengan bu  Franchisca Anggela terlihat saat mereka menandatangani konrak. Dekat juga dia (Dedi Sapja) dengan bu Wihelmena saat mereka makan di sebuah restoran di Jakarta,” ujarnya.

Pengakuan senada atas dominasi peran Dedi Sapja juga diakui oleh rekanya sesama wakil Rektor yakni Ahmad Fauzi. Ahmad Fauzi yang merupakan wakil Rektor 2 mengaku walau sebagai ketua penyiapan dokumen lelang tak ada menandatangani apapun terkait soal HPS, lelang dan kontrak. “Saya tak turut serta soal HPS. Pak Dedi Sapja dan Darusman yang buat RAB dan HPS,” ucapnya.

Sebagai wakil Rektor  Ahmad Fauzi mengungkapkan kalau pihak UBB sama sekali tak memilik ahli di bidang solar cell. Namun dirinya juga curiga kenapa tiba-tiba ada kontrak soal solar cell beserta harga-harganya. “ Di UBB gak ada yang ahli solar cell, tapi tiba-tiba  ada disusun kontraknya.  Siapa yang  susun, nah itu gak tahu,“ elaknya.

Dedi Sapja membantah tudingan rekan-rekannya itu kalau soal HPS dan RAB adalah murni karyanya sendiri melainkan bersama dengan tim di UBB. Namun begitu Dedi Sapjah akui kalau dirinyalah yang langsung meng-emailkan dokumen-dokumen  kepada Pokja lelang yang diketuai Saparudin als Kuduk.

“Memang saya yang emailkannya (berkas-berkas untuk dilelang). Tetapi hasilnya yang dilelang itu sudah tak sama lagi dengan yang saya kirim,” elaknya dengan nada mencurigai Kuduk sebagai ketua Pokja lelang.

Diketahui sebelumnya bahwa Proyek pengadaan energi solar cell sistem UBB bersumber dari APBNP tahun  2012 telah merugikan keuangan  negara  sebesar Rp 8.162.122.296,00.(man)

 

Pos terkait