KASUS SOAL SURAT KEMATIAN, LURAH PLUIT ASAL BUNYI

  • Whatsapp
Warga Apartement Green Bay melakukan demo menuntut agar kematian A Fuk diusut tuntas.

BOCAH TERSENGAT STRUM DI KOLAM RENANG

GREEN BAY

AMUNISINEWS.COM, JAKARTA – Kasus tewasnya Ferrardy Richie Chayono alias A Fuk (7), akibat tersengat strum di kolam renang apartemen Green Bay, Pluit, Jakarta Utara pada 22 Agustus 2016 lalu, belum tuntas.

Polisi seharusnya sudah bisa menetapkan manajemen Green Bay sebagai tersangka, sekaligus memeriksa Lurah Pluit yang mengelu arkan surat keterangan Afuk meninggal karena sakit.

Kondisi ini membuat Yessica, orang tua korban belum merasa tenang karena pihak yang dianggapnya lalai belum hukum atas memasukan keterangan palsu tersebut,” kata Yessica dihubungi, Kamis (29/9) kemarin.

Lurah Pluit, Yoel Sibarani yang dikonfirmasi Amunisi soal isi surat kematian tersebut mengatakan dirinya sudah klarifikasi kepada bagian Dukcapil yang memberikan surat keterangan.

Dijelaskan, yang bersangkutan bukan warga DKI Jkarta. “Petugas kami menuliskan surat kematian karena sakit berdasarkan surat dari RSCM. Namun tidak dijelaskan mendetail karena kecelakaan,” kata Yoel Sibarani melalui Whats App nya tanggal 24 September 2016.

Sementara itu, dikonfirmasi ulang terkait jawaban Lurah Pluit, Yessica tercengang.

Katanya, itukan surat keterangan kematian bukan keterangan kependudukan atau KTP. “Kenapa lurah mempersoalkan status kependudukan saya yang bukan warga DKI Jakarta.

Apa relevansinya,” kata Yessica.

Kemudian Yessica menyoal ucapan lurah yang menyebut keterangan sakit mengacu surat dari RSCM, yang dinilainya mengada-ada.

“Memangnya Pak Lurah memegang surat kematian dari RSCM yang menyebut A Fuk meninggal karena sakit. Kok bisa-bisanya lurah menyebut meninggal karena sakit,” kata Yessica.

Perihal surat tersebut Yessica juga menyesalkan karena bukan dia yang datang ke kantor kelurahan, diduga yang datang itu suruhan manajemen dan memberikan masukan keliru yang menyesatkan. “Ini sama saja kongkalikong,” kata Yessica kesal.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yessica bersikeras akan menuntut ke jalur hukum atas kematian putra satu-satunya itu, kendati Manajemen Green Bay membujuk agar Yessica menandatangani surat damai.

“Saya tak mau tanda tangan karena isinya terkesan tak menghargai nyawa anak saya,” tegasnya.

Terlebih lagi, sekarang mulai terungkap dugaan memberikan keterangan palsu, kian menguatkan tekadnya untuk menempuh jalur hukum agar kasusnya jelas dan terang benderang.

Yessica, saat berada di rumah duka Heaven di Pluit, disodorkan surat kematian dari Kelurahan Pluit, Jakarta Utara oleh Chandra dari manajemen Green Bay, Tanpa disadari oleh Yessica tertulis penyebab kematian anaknya disebut karena sakit.

Di dokumen kelurahan memang tidak tertera tanda tangan Yessica, menandakan bukan dia yang membuat surat itu.

Dalam surat pengantar otopsi yang dikeluarkan oleh Polsek Penjaringan disebut korban diduga meninggal karena tersengat aliran listrik. “Surat yang mana yang menyebut anak saya sakit?” katanya bertanya.

Dari lembar surat kematian tersebut ada indikasi pihak Green Bay mencoba memanipulasi fakta dlam upaya terlepas dari masalah hukum. Sayangnya, Evi, General Manager (GM) Green Bay saat dikonfirmasi tidak berada di tempat. “Bu Evi sedang ada kegiatan karena kantor ini tengah melakukan audit dari kantor pusat,” kata seorang wanita resepsionis.

Begitu juga dengan Chandra yang menyodori surat kematian kepada Yessica tak mau menemui Amunisi untuk menjelaskan mengapa isi surat kematian menyebut korban meninggal karena sakit.

Sementara itu Kapolsek Penjaringan Kompol Bismo Teguh yang dikonfirmasi kelanjutan kasus tersebut belum menjawab pertanyaan Amunisi kendati pertanyaan melalui whatsApp sudah dibacanya, dengan tanda contreng dua berwarna biru.

Padahal, surat keterangan kematian yang menyebut korban tewas karena sakit dari kelurahan sudah diberikan Amunisi ini kepada Kanit Reskirm. Sejauh ini belum dapat diketahui apakah keterangan palsu tersebut sudah didalami?

 

 

 

Oleh: *tim

Pos terkait