Diduga Pihak SMA Negeri 8 Pekanbaru Tidak Peduli terhadap Siswanya, Layak Dipertanyakan

  • Whatsapp

Oleh: Roy Hutabarat

PEKAN BARU, AMUNISINEWS.CO.ID – Sudah jatuh tertimpa tangga. Demikian pepatah yang dialami Andre Antonius siswa SMA Negeri 8 Pekanbaru yang duduk di kelas X IPS. Musibah yang dialami di awal bulan Maret 2021 lalu, akibat terjadi tabrakan sepeda motor yang mengakibatkan pecah tengkorak kepala bagian samping sehingga Andre Antonius harus dirawat insentif di rumah sakit di kota Pekanbaru selama kurang lebih 6 bulan.

Beberapa hari setelah kejadian pihak keluarga langsung mendatangi pihak sekolah untuk memberitahu serta membawa berkas-berkas beberapa bukti dari rumah sakit yang menyatakan bahwa siswa tersebut benar-benar kritis dan masih dalam perawatan dengan waktu yang belum dapat ditentukan.

Namun sangat disesalkan dari 6 bulan yang lalu hingga berita ini diterbitkan 22/10/2021 pihak sekolah SMA N 8 Pekanbaru sama sekali tidak ada melakukan kunjungan/besuk bahkan lewat telefon pun tidak ada bertanya bagaimana dengan kondisi siswanya. Bahkan siswa tersebut tidak dinaikka kelas.

“Tiga hari setelah kejadian awal bulan Maret yang lalu,kami langsung buat pemberitahuan ke pihak sekolah. Bahkan adik saya masih mengikuti ujian semester I, disemester II sampai bulan Maret masih ikut daring, tapi adik saya tidak naik kelas. Bahkan untuk bertanya bagiamana perkembangan kesehatan adik saya dari pihak sekolah juga tidak ada sampai saat ini,Jumat 22/10/2021 ” ungkap Roselida kakak kandung Andre.

Roselida berharap pihak guru terketuk hatinya untuk mempertimbangkan kembali. “Karna ini jadi beban buat adek saya,” tambahnya

Berdasarkan kan informasi tersebut saat itu juga awak media Amunisinews dan tim menelusuri kebenarannya kepada pihak sekolah, namun kepala sekolah, Tavip Tria Candra. S.Pd tidak berada di tempat dan juga guru bidang kesiswaan sedang keluar mengurus pajak kendaraan pribadinya ke Samsat pada saat jam kerja.

Akhirnya tim hanya bisa bertemu dengan salah satu guru yang diwakili oleh Joko, guru kurikulum mengatakan, “Memang benar ada siswa kami yang bernama Andre, orang tuanya sudah memberitahukan kami kalau siswa tersebut dalam keadaan sakit. Kami tidak menaikkan kelas atas rapat guru karena tidak memiliki nilai ujian.” terangnya.

Namun ketika disinggung tentang belum adanya kunjungan atau besuk dari sekolah, dan tidak memiliki rasa sosial Joko mengatakan itu inisiatif dari guru wali kelas. “Mungkin bisa jadi wali kelasnya tidak punya rasa sosial,” katanya.

Hingga berita ini di naikkan kepala sekolah SMAN 8 kota Pekanbaru belum dapat dimintai keterangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *