DISHUB AKAN TERAPKAN PARKIR ZONA DI 10 TITIK

  • Whatsapp

ADVERTORIAL

adv2

AMUNISINEWS.COM, SURABAYA – Kendaraan yang terparkir di tepi jalan, acapkali jadi penyebab kemacetan di beberapa titik di Surabaya. Untuk mengurai ‘penyumbang kemacetan’ itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya akan menerapkan kebijakan parkir zona. Kebijakan tersebut nantinya dikembangkan menjadi pemberlakuan tarif progresif.

Untuk tahap awal, Dishub menetapkan 10 kawasan yang
masuk parkir zona. Artinya, kendaraan yang terparkir di 10 zona ini akan dikenakan tarif lebih mahal dibanding area lain.

Kesepuluh zona tersebut yakni, kawasan Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, Taman Bungkul, Balai Kota, Jalan Kertajaya, Jalan Kedungdoro, Jalan Tunjungan, Jalan Embong Malang, Jalan Kembang Jepun dan Jalan Nyamplungan.

Kepala UPTD Parkir Su-rabaya Timur, Tranggono mengatakan, penentuan 10 kawasan parkir zona itu mempertimbangkan tiga as-pek. Bahwa lokasi-lokasi tersebut merupakan pusat kegiatan masyarakat, sering ter-jadi kemacetan dan mobilitas kendaraan tinggi.
Dari kesepuluh kawasan parkir zona tersebut, kawasan di Balai Kota Surabaya dipilih untuk uji coba pemasangan alat parkir meter. Rencananya, 10 unit alat parkir meter tersebut akan dipasang di sepanjang Jalan Jimerto dan juga Jalan Sedap Malam.

“Uji coba alat ini dimulai dari lingkup ter-dekat dulu. Kami ingin men-gedukasi mulai dari para pegawai Pemkot, serta mungkin warga yang berkepentingan datang ke pemkot,” ujar Tranggono.

Dengan adanya alat parkir meter ini, maka transak-si pembayaran parkir tidak akan lagi menggunakan uang konvensional (uang kertas/ logam). Tetapi, pembayaran parkirnya menggunakan uang elektronik. Tranggono menyadari, pada masa-masa awal pemasangan alat parkir meter ini, pengguna parkir mungkin akan mengalami kesulitan. Sebab, pengguna parkir belum terbiasa den-gan penggunaan uang elek-tronik.

Untuk itu, Dishub akan mengakomodir dengan menyiagakan juru parkir (Jukir) dengan kartu uang elektronik. “Jadi, pemilik kendaraan bisa membayar di Jukir. Lalu Jukir yang akan tab kartu uang elektronik ke mesin parkir,” sambung-Tranggono. Alat parkir meter ini diperkirakan beroperasi awal Desember 2016.

Saat ini masih dalam proses pembuatan peraturan wali kota yang diprediksi kelar pada akhir November. Nantinya, alat ini menggunakan panel surya sehingga mampu beroperasi tanpa listrik. Jika penyimpan daya dalam kondi-si penuh, maka alat ini mampu beroperasi selama dua tahun tanpa sinar matahari. Selain ituparkir meter juga terkoneksi dengan server Dishub secara nirkabel (tanpa kabel).
Sehingga, seluruh data transaksi dapat langsung terekam secara real time. Meski begitu, Dishub tidak akan langsung menerapkan tarif parkir progresif di 10 lokasi itu. Tarif parkir progresif baru akan diberlaku-kan dua atau tiga bulan setelah pengoperasian alat parkir meter.

“Sebab, kami juga akan melakukan pemantauan dan juga pen-gukuran selama masa-masa awal penerapan parkir meter,” imbuh Tranggono. Pakar teknologi informasi (IT) dari lnstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Endroyono, menga-presiasi rencana Pemkot. Menurutnya, rencana Pem-kot menggunakan alat parkir meter, menjadi bagian dari manajemen lalu lintas. Namun, dia menekankan bahwa pemilihan teknologi alat parkir harus memenuhi unsur sustainable, transparan, akuntabel dan reliable (STAR). “Syukurlah di Surabaya ini, dalam pengadaan teknologi manajemen lalu lintasnya sudah memperhatikan unsur-unsur tersebut. Sehingga, tekno-logi yang digunakan tera-rah, tepat guna dan dapat dipertanggung jawabkan,”ujar Endroyono.   (adv)

Pos terkait