DUH JOKOWI, NGURUS NEGARA KOK AMATIRAN

  • Whatsapp

New Picture (39) HL 307

AMUNISINEWS.COM, JAKARTA -Tekanan politik, membuat Presiden Jokowi limbung. Ia akhirnya memberhentikan “rising star” yang bakal membereskan karut marutnya soal minyak di negeri ini. Eh, sudah begitu, Jokowi pun dituding amatiran dalam mengurus negara.
Benarlah kata pengamat politik Arbi Sanit tentang presiden pilihan rakyat, Joko Widodo. Ia tidak memiliki partai menuju Istana Merdeka, kecuali hanya sebagai “petugas partai” dari PDIP. Ia juga tidak punya basis massa yang kuat, tidak me-miliki harta berlimpah, ataupun “kekerabatan” yang kental dengan tokoh-tokoh politik nasional. Bekalnya hanya jabatan dua periode Walikota Solo, dus pencitraannya yang sederhana, dan suka blusukan.

Lihat saja, kabinet yang diawaki, tidak pernah solid. Mereka, seperti diumbar oleh para pengamat, berjalan sendiri-sendiri. Bahkan, menimbulkan gaduh, sehing-ga bongkar pasang kabinet dilakukan dua kali. Herannya, ketika sang menteri yang dianggap kapabel sehingga menggantikan posisi men-teri terdahulu, eh malah ikut kena reshuffle.

Siapa dia? Telunjuk bakal mengarah kepada Rizal Ramli, ekonom yang dikenal dengan jurus kepretnya dalam membenahi sebuah masalah. Lalu menyusul Thomas Lembong, yang menampuk Menteri Perdagangan dalam reshuffle pertama, ikut tergusur juga di reshuffle kedua.
Bukan hanya itu saja. Ujung dari reshuffle, tetap saja menimbulkan gonjang-ganjing jagad per po-litikan negeri ini. Contohnya, kasus anyar Menteri ESDM, Arcandra Tahar, yang menggusur Sudirman Said, yang disebut-sebut “orangnya” Jusuf Kalla (JK). Arcandra, yang menjabat sebagai Presiden Petroneering, Houston, Texas, Amerika Serikat, ketanggor sebagai warga negara Paman Sam. Ia men-jadi warga negara Amerika Serikat melalui proses naturalisasi Maret 2012, dengan mengucapkan “Oath of Allegiance”, atau sumpah setia kepada negara Amerika Serikat. Selain itu, terungkap pula Archandra sengaja membuat paspor Indo-nesia di KJRI Houston, masa berlaku lima tahun agar tidak diketahui rencananya melepas statusnya sebagai TNI.

Melanggar Hukum
“Kecolongan yang beresiko,” jelas pakar Hukum Tata Negara, Margarito Kamis. Bahkan, ada juga yang menuding, Jokowi melanggar hukum.

Maklumlah, dalam UU No12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Pasal 23 menyebutkan bahwa status WNI seseorang akan hilang bila yang bersangkutan menjadi warga negara lain atas kemauan sendiri. Disinilah tekanan terhadap presiden begitu tinggi. Ini bukan hanya dilakukan oleh seterunya dalam Koalisi Merah Putih, seperti PKS yang mengajukan hak interpelasi. Belum lagi dari koalisi Indonesia Hebat. Rata-rata mengin-ginkan agar Jokowi segera memberhentikan Archandra.

Namun, di sisi lain, banyak juga yang mendukung Archandra tetap dipertahankan, alias jangan dipoli-tisir. Sebut saja Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN, Rusli Halim. “Kita tanya deh kepada tukang ojek, sopir bus, atau siapapun, ada tidak ‘potongan’ Pak Archandra itu bu-kan orang Indonesia? Pasti dijawab ‘Indonesia banget’,” tegas Rusli.
Lagi pula, dia menambahkan, jumlah diaspora orang Indonesia yang tersebar di luar negeri berjumlah 7-8 juta. Ragam keahlian bidang tertentu yang membuat diaspora itu menetap, bahkan menjadi warga negara negeri setempat.
“Harusnya kita bangga dong dengan warga diaspora Indonesia di luar negeri. Artinya bangsa kita bangsa kompetitif,”ungkapnya.

Begitupun Ruhut Sitompul. Ia memberikan pujian terhadap Archandra sebagai “anak muda” yang hebat, alumni ITB dengan memiliki tujuh paten di dunia. Ini orang hebat. Kita bisa mengenal beliau juga dari jaminan orang-orang yang pakar-pakar dunia.

Kita punya tokoh yang jadi Wapres dan jadi Presiden di waktu awal reformasi, Bapak Habibie. Beliau tetap merah putih, WNI, tapi ada previlege di Jerman karena prestasi beliau, beliau diakui,” terang Ruhut, yang menilai seperti ada yang sengaja menganggu Archandra dengan mencuatkan isu kewarganegaraannya.
“Ini kan yang rame adalah yang mimpi jadi Menteri ESDM tapi nggak jadi, kan itu. Aku nggak usah bilang, tapi kalian tahu,” tutup Ruhut dengan mimik serius.

Dan memang, keberadaan Archandra sebagai Menteri ESDM, menimbulkan gerah pelbagai pihak, khususnya mereka yang bergelut dengan masalah minyak. Maklumlah, meski lama di Amerika, lelaki berdarah “Urang Awak” ini dikenal religius. Di negeri orang ia mendirikan Indonesia Family Academy, lembaga yang setiap Sabtu mengajar-kan anak-anak secara sukarela membaca Al Qur’an dan kajian tentang Islam. Disebut-sebut, ayah dua anak ini, bersama istrinya yang berhijab, turun tangan memberikan pelajaran Al Qur’an dan Agama Islam.
Makanya, sesaat setelah dilantik, peraih Doktor dari Taxas A & M University Ocean Engineering, ini langsung “bertandang” ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kenapa? Lagi-lagi, itu tak lepas kementeriannya disesaki “penyamun”, khususnya tudingan mafia migas.

Ia ingin kementeriannya akuntable, bersih dan transparan. Bahkan, kabarnya ada setumpuk dokumen yang bakal diserahkan ke lembaga musuhnya koruptor di negeri ini. Good Will ini yang membuat sebagian pihak, entah petinggi maupun erat dengan kekuasaan, menjadi gerah. Ibarat “membunuh” atau “dibunuh”, maka “borok-borok” Archandra pun dikorek-korek.

Alhasil, ketemu soal dwi kewarganegaraannya, yang dimainkan untuk mendongkel dirinya, termasuk tekanan pada presiden yang dituding melanggar undang-undang. Akhirnya, seperti dikatakan oleh Arbi Sanit tadi, tekanan itu membuakan hasil. Archandra didongkel dari kabinet, 15 Agustus lalu. Ia diberhentikan oleh presiden, sekaligus pemecah rekor sebagai menteri paling singkat.
Di luar itu, tudingan miring pun melayang ke presiden.

“Presiden sampai salah mengangkat menteri yang ternyata telah kehilangan status WNI nya adalah tindakan yang memalukan. Kapan sih rakyat negeri ini akan sadar bahwa negara seharusnya dipimpin orang yang mengerti ngurusi negara, bukan amatiran melulu?” demikian kata Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Senin (15/8/ 2016). Yusril, yang kini siap bersaing dengan Ahok, juga meminta jangan biarkan negara ini amburadul, jadi bahan olok-olok dan tertawaan bangsa-bangsa lain. “Kita harus punya harga diri. Urus negara ini dengan benar, jangan bertindak seperti amatiran yang akhirnya memalukan bangsa dan negara,” tegas Yusril.

 

 

 

Oleh: *lian

Pos terkait