Kasus Solar Cell UBB, Saksi Yus Yanuar Akui Disodorkan Berita Acara Penerimaan Barang Palsu

  • Whatsapp
dedi_sapjah_bersama_aggela
Dedi Sapjah dan Angela

AMUNISINEWS.COM, PANGKALPINANG–Dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek Solar Cell Universitas Bangka Belitung dengan menghadirkan terdakwa Dedi Sapja dan Francisca Anngela kemarin Senin (26/9) di Pengadilan Tipikor Pangkalpinang,.

Salah seorang saksi dari Jaksa Penuntut Umum yang menghadirkan Yus Yanuar Hariscan dari bagian Sekretaris penerima barang kepada majelis hakim  menjelaskan, bahwa Berita Acara Penerimaan Barang bukan saksi yang membuat. “Tetapi saya langsung disodorkan oleh PPK Dedi Sapja dan kontraktor untuk tanda tangan.,” katanya.

“Saya mengaku bukan saya yang membuat Bukti Penerimaan Barang, saya sudah disodorkan berita acara penerimaan barang yang sudah dibuat oleh PPK dan Kontraktor untuk saya tanda tangani pak,” aku Yus Yanuar dalam  persidangan kemarin.

Padahal, katamnya, dirinya a mengetahui  bahwa pekerjaan solar cell itu hingga 31 Desember 2012 progresnya  belum genap 100 persen namun  menandatangani Berita Acara Penerimaan ( BAP ) namun  diminta tanda tangan BAP tersebut telah disediakan oleh PPK.

“Saya mengaku salah BAP yang sudah saya tandatangan, sebab BAP tersebut bukan saya yang buat tapi sudah disiapkan saya tinggal tandatangan,” kata Yus lagi di hadapan Majelis Hakim dan JPU.

Yus mengaku sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan ( BAP ) di penyidik bahwa ia sebelum menandatangani BAP dirinya ditelpon oleh staf rektorat untuk hadir diruangan rektorat yang hadir pada waktu itu Pejabat Pelaksana Kegiatan ( PPK ) Darusman,Agus Susanto,Ibu Anggel,Dedi Sapja.

“Dalam pertemuan tersebut Dedi Sapja menyampaikan bahwa jangan sampai ada pihak pihak yang dirugikan,sebab UBB tidak mendapatkan barang sebab pada saat itu kekurangan energy listrik dan pihak penyedia ( kontraktor ) dirugikan karena barang sudah ada tetapi belum selesai dikerjakan,” kata majelis Setyanto Hermawan yang langsung di iyakan oleh Yus.

Dalam proyek tersebut diakui oleh Yus dirinya mendapat hadiah berkunjung ke Shanghai China setelah proyek selesai. Dalam kunjungan tersebut  dirinya mengaku bersama dengan  Aspandi.  “Pada bulan Mei ke Shanghai, dapat uang saku 3000 Yuan, dari  penyedia jasa  PT Grand Mentari Mulia. Yang menandatangani SPPD pak Dedih Sapjah,” akunya.

Selain jalan jalan ke Shanghai Cina, Yus Yanuar juga mengaku sudah menerima honor Rp 1 Juta serta uang tanda terimakasih dari Fanchisca Angela melalui kepala Biro Umum Mustari  sebesar Rp  3 juta.

Perkara ini sendiri sudah menjerat 2 orang sebagai terdakwa yakni wakil Rektor UBB Dedih Sapjah dan  Franchisca Anggela ( kontraktor ).

Dari dakwaan Jaksa sendiri terungkap kalau sejak awal keberadaan proyek nota benenya adalah pesanan.  Dimana pada bulan Maret 2012 terdakwa Franchisca Anggela ( berkas terpisah ) pernah datang ke Universitas Bangka Belitung dan menemui langsung Rektor saat itu Bustami Rahman.

Saat itu Franchisca Anggela meminta diusulkan kegiatan pengadaan solar cell dalam DIPA APBN perubahan UBB tahun 2012. Franchisca Anggela berjanji akan mengawal anggaran tersebut sampai di Dewan Perwakilan Rakyat RI di Senayan.

Berkat bujukan Franchisca Anggela itulah sang Rektor yang juga sudah ditetapkan Kejaksaan Tinggi sebagai tersangka akhirnya sekitar tanggal 15 Maret 2012 selaku kuasa pengguna anggaran mengajukan surat nomor: 343/UN50/TU/2012 perihal usulan skala prioritas di APBNP untuk meningkatkan sarana dan prasarana UBB kepada Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI yang memuat 7 usulan salah satu diantaranya proyek Solar Cell sistem itu.

Namun di awal  pelaksanaan proyek tersebut justeru Dedih Sapjah bukan melalui pihak yang kompeten untuk  menyiapkan HPS ( Harga Perkiraan Sendiri ) serta spesifikasi teknisnya. Dia  malah meminta langsung pada Franchisca Anggela.

Franchisca Anggela sendiri karena bukan ahlinya akhirnya pemenuhan pesanan tersebut cukup menggunakan dasar-dasar teori di internet saja. Walau begitu akhirnya pesanan  “abal-abal” tuntas juga guna jadi acuan pengadaan proyek.

Wal hasil ternyata dari penilaian Jaksa penuntut yang telah melalui audit kerugian negara ditemukan adanya selisih harga dan spesifikasi yang sangat besar yang menyebabkan kerugian negara Rp Rp 8.162.122.296,00. Kerugian tersebut menurut Jaksa sebagai akibat dari penyusunan HPS yang dilakukan tidak sesuai dengan keahlian Dedih Sapjah bersama  Franchisca Anggela itu.

Adapun realisasi pembayaran bersih yang ditransfer dari rekening kas negara ke rekening bank Grand Mentari Mulia Rp 11.574.329.330. Realisasi biaya yang sebenarnya Rp 3.412.207.034. Adapun selisihnya adalah Rp 8.162.122.296,00.

Perbuatan terdakwa Dedih Sapja bersama-sama saksi Franchisca Anggela merupakan perbuatan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi setidak-tidaknya menguntung saksi Franchisca Anggela sebagai orang yang melaksanakan pengadaan energi solar cell sistem Universitas Bangka Belitung (UBB) tahun anggaran 2012 sebesar Rp 8.162.122.296,00 dan merupakan perbuatan melakukan atau turut serta melakukan penyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan terdakwa Dedih Sapjah baik selaku wakil rektor 1 UBB maupun sebagai tim teknis penyiapan dokumen lelang dalam kegiatan pengadaan jasa solar cell sistem dengan melakukan penyusunan spesifikasi teknis dan HPS baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama dengan terdakwa Franchisca Anggela telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 8.162.122.296,00.

Perbuatan para terdakwa dijerat dengan pidana pasal 3 Jo pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. (man)

 

Pos terkait