Mucikari Internasional Diduga Rambah Indonesia

  • Whatsapp

new-picture-1-hl-324

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM- Kasus pekerja seks komersil (PSK) asing buka praktek di sini, bukan hal baru. Tidak aneh lagi. Mulai wanita penghibur dari Vietnam sampai Uzbekistan. Jumlah mereka masih terbilang sedikit, sekitar belasan orang saja. Tapi, baru-baru ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi berhasil menggaruk sedikitnya puluhan PSK asal Tiongkok. Di antaranya, 76 orang di Jakarta dan 10 di Batam.

Ternyata, bukan pekerja kasar dari Negeri Tirai Bambu saja yang coba-coba mengadu nasib di Indonesia, para “perangkat lunak” ranjang pun ikut menyerbu.

Di penghujung 2016 Ditjen Imigrasi berhasil mengamankan sekitar 76 PSK asal Tiongkok di tiga tempat hiburan malam di Taman Sari, Jakarta Barat. Di antaranya Diskotik Newton, Sun City dan Sense City. Menyusul berikutnya, pada Kamis
(5 Januari 2017), 10 PSK dari negeri yang sama digelandang oleh petugas Kantor Imigrasi Batam, Kepulauan Riau. Mereka diketahui beroperasi di beberapa hotel dan rumah kost mewah di kawasan Nagoya.

Puluhan PSK tersebut tak bisa mengelak, mengingat keberadaan di Indonesia hanya bermodalkan visa wisata (visa on arrival), sementara mereka seolah-olah bekerja di be-berapa lokasi tempat hiburan malam.

Menurut Kasubdit Cekal Ditjen Imigrasi Chiko, puluhan PSK asal Tiongkok itu sudah sebulan menjajakan diri di tiga diskotik tersebut. Pihaknya sejak November 2016 telah melakukan pengintaian.
“Kami terus melakukan penyelidikan tiga tempat hiburan malam tersebut, apakah ada keterlibatan dalam penyediaan praktek bisnis prostitusi. Kami masih mendalami dan telusuri,” katanya kepada wartawan di Gedung Ditjen Imigrasi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Ditambahkan, para PSK asal Tiongkok itu kini ditahan di Gedung Detensi Imigrasi (Rudenim) di Kali-deres, Jakarta Barat, guna kepentingan penyelidikan. Dapat dipastikan “perangkat lunak” pria hidung belang tersebut bakal diproses secara hukum. Bukan dideportasi seperti sebelumnya.

Kalau menurut Direktur Pengawasan dan Penindakan Ditjen Imigrasi, Yurod Saleh, jika PSK itu hanya dikenakan sanksi deportasi, dikhawatirkan mereka akan kembali melakukan praktek kembali di Indonesia. Perilaku semacam itu sudah berkali-kali terjadi, dan bikin geram pihaknya.
“Kalau dideportasi, ada kekhawatiran mereka akan melakukan hal serupa di kemudian hari. Mereka harus dikenakan hukuman sesuai perundangan-undangan,” katanya di Gedung Ditjen Imigrasi, baru-baru ini.

Ditegaskan Yurod, para kupu-kupu malam Negeri Tirai Bambu itu akan dikenakan sanksi hukuman sebagaimana diatur Pasal 112 UU No 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. “Ancamannya, penjara 5 tahun dan harus membayar denda ratusan juta rupiah,” ujarnya lebih jauh.

Esek-esek Rp 5 Juta
Ditambahkan Yurod Shaleh, tarif PSK asal Tiongkok terbilang mahal untuk sekali kencan. Mulai dari Rp 2,8 juta hingga Rp 5 Juta. Sistem pembayarannya secara tunai, tapi bisa juga menggunakan kartu kredit.

“Pembayaran dilakukan sebelum kencan. Usia mereka antara 18 tahun hingga 30 tahun. Masih muda lah. Peminatnya cukup banyak, selain pria local banyak juga turis asing,” ungkap Yurod.

Menurut dia, pihaknya kini tengah mendalami penyelidikan ke-beradaan mereka di Indonesia dan keterlibatan mucikari yang mengatur operasionalnya. “Yang terlibat pasti akan kami tangkap, “ tegas Yurod.

Dari pengamatan Amunisi di kawasan tempat hiburan Taman Sari, dapat dipastikan keberadaan puluhan PSK di tiga diskotik tersebut ada yang mengaturnya. Setidaknya mucikari berskala internasional. Mereka memang sengaja didatang-kan dari Tiongkok karena tingginya permintaan lelaki hidung belang.
“Setiap ada yang menganter dan menjemput. Mereka di larang ke luar diskotik, nggak seperti PSK lokal yang leluasa ke luar masuk lokasi,” sebut satu sumber yang biasa nongkrong di Taman Sari.

Menurut dia, para amoy itu memang sengaja didatangkan dari Tiongkok untuk memenuhi hasrat biologis di lokasi Taman Sari. Prakteknya sudah berlangsung belasan tahun. Dan biasanya, keberadaan seorang PSK hanya satu-dua bulan saja.
“Menurut pengakuan, mereka hanya terima Rp 2 juta untuk tarif sekali esek-esek sebesar Rp 5 juta. Mucikari yang mengatur tarif kencan,” papar sumber yang keberatan namanya ditulis.

Tindak Tegas
Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf Effendi menyatakan, sanksi yang diberikan kepada 76 PKS asal Tiongkok itu jangan hanya deportasi, tapi harus diberikan tindakan tegas sesuai ketentuan hukum. Begitu juga para pihak yang mempekerjakan mereka di Indonesia.
“Saya setuju sekali apabila pihak yang mengkomersilkan mereka ditin-dak tegas. Khususnya perusahaan atau sponsor yang memasukkan PSK Tiongkok itu,” pinta politisi Partai Demokrat kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/1).

Dia mengingatkan, maraknya pekerja asing ilegal tak terlepas dari kebijakan bebas visa. Sejauh ini Komisi IX yang membidangi ketena-gakerjaan itu menemukan banyak fakta tentang penyalahgunaan visa kunjungan wisata.

“Perlu diketahui, WNA yang memanfaatkan bebas visa tidak jarang melakukan penyelundupan narkoba, membentuk jaringan penipuan, termasuk jaringan prostitusi,” ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Barat.  -tim/h. sinano esha

Pos terkait